Iya juga, Pak Suhaimi. Jangan-jangan dulu yang namanya Karang Taruna 
di desa itu tujuannya sama ya? Cuma bedanya Karang Taruna tidak ada 
cantelan politiknya ke atas seperti organ-organ KNPI tadi.

Andi

--- In [email protected], "Suhaimi" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Setuju Pak.Andi, dulu di era ORBA Pak.Harto menatanya secara 
terstruktur sangat rapih mirip dengan struktur organisasi "KONI" 
Komite Olah Raga Nasional Indonesia. 
> kongkritnya kaya gini loh..
> 
> 1. Yang berasal dari kalangan anak wong ABRI diciptakankan 2 wadah 
yaitu "PPM" Pemuda Panca Marga dan "FKPPI" Forum Komunikasi Putra-
Putri Purnariawan ABRI.
> 2. Yang berasal dari kalangan wong Reman diciptakan 1 wadah 
yaitu "PP" Pemuda Panca Sila.
> 3. Yang berasal dari kalangan kampus atau semi kampus dibuatkan 1 
wadah pula yaitu "AMPI" Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia.
> 4. Nah guna mengorganisir organisasi-organisasi tersebut, maka 
diciptakanlah induk organisasinya yang bernama "KNPI" Komite 
Nasional Pemuda Indonesia.
> 
> Hebatnya lagi Pak.Harto adalah organisasi-organisasi tersebut 
mendapatkan anggaran rutin dari negara serta selain itu para tokoh-
tokohnya mendapatkan jaminan karir politik sebagai berikut ini.
> 
> 1. Untuk jabatan Ketua Umum dan Sekjen dari masing-masing 
organisasi dapat jatah kursi anggota MPR dari utusan golongan.
> 2. Sementara itu untuk jabatan Ketua Umum dan atau  Sekjen dari 
Induk organisasinya (KNPI) mendapat jatah menjadi anggota kabinet 
sebagai "Menpora" Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga. 
> 
> 
> Suhaimi
> 
> ----- Original Message ----- 
>   From: si_andi 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Monday, May 28, 2007 8:25 AM
>   Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Bubarkan Ormas Anarkis
> 
> 
>   Jangan-jangan logikanya polisi memang terbalik dengan logika 
>   masyarakat?
> 
>   Jadi polisi memang membiarkan para preman itu berorganisasi; 
biar 
>   mudah mengontrolnya. Kalau tidak begitu takutnya nanti mereka 
malah 
>   balik lagi jadi garong atau memalak orang di jalan. 
> 
>   Setelah itu mereka diberi bisnis keamanan di kompleks pelacuran 
atau 
>   perjudian; biar jadi tukang kepruk di situ saja, tidak usah 
campur 
>   dengan masyarakat biasa. Kalau nanti masih ada anggotanya yang 
>   beredar memeras pedagang atau memukuli sopir mikrolet, polisi 
>   tinggal komplain ke bos-nya. Biar bosnya yang menghajar anak 
buah 
>   bandel tersebut. Kalau bosnya tidak bisa mengontrol anak buah, 
>   resikonya "bisnis" keamanannya bisa dicabut polisi.
> 
>   Jadi mereka memang dibuat seperti Yakuza di film-film itulah; 
>   urusannya cuma perjudian dan pelacuran. Kalau anggotanya bikin 
>   kejahatan kecil-kecil, akan dihajar sendiri oleh bosnya. 
> 
>   Dengan logika begitu, kalau si FBR ini dibubarkan efeknya malah 
>   makin buruk buat keamanan, bukannya makin baik.
> 
>   Sori kalau kedengaran ajaib. Maklum, akhir minggu kemarin 
kebanyakan 
>   nonton film mafia.
> 
>   Andi
>


Kirim email ke