>
>
> _Komentar:_
>
> Karena nama saya disebut-sebut oleh Leo maka saya tergelitik 
> berkomentar juga.
>
> 1.     Tarot itu hanya SALAH SATU media untuk "membaca" situasi atau 
> "menjawab" pertanyaan dari pihak penanya kepada pembaca Tarot. Maka 
> Tarot hanya merupakan salah satu pilihan dan bukan satu-satunya 
> pilihan. Hasil yang sama akan diperoleh lewat media lain. Entah itu 
> kartu ceki, kartu remi, bubuk teh, jeroan hewan, serat buah, garis 
> tangan, tulang pipi, kulit penyu, dsb. Yang dominan bukanlah medianya 
> melainkan "the man behind the card". Kalau pembacanya gak becus -- 
> atau awam biasa -- maka tak bakal menghasilkan bacaan yang memadai 
> walaupun media apapun yang dipakai.
>
> 2.     Yang mampu membaca Tarot atau media apapun lainnya ialah mereka 
> yang TELAH  mampu memanfaatkan secara sengaja kecerdasan intuitif dari 
> otak hemisfir kanannya.
>
> 3.     Kemampuan menguasai mekanisme kecerdasan intuitif biasanya 
> diperoleh melalui MEDITASI jangka panjang, apapun jenis meditasinya 
> dan dari disiplin manapun berasal. Kita tidak bicara soal kemampuan 
> konatural dari mereka yang berbakat karena faktor keturunan. Selain 
> metode meditasi pasif (noiseless) yang panjang, ada juga lewat metode 
> meditasi aktif yang full-of-noise. Antara lain metode kilat DEKONISASI 
> yang dikenalkan oleh Vincent.
>
> 4.     Melototi kartu Tarot dapat merupakan bentuk konsentrasi-pasif 
> yang menurunkan frekuensi getaran gelombang otak sehingga beralih ke 
> frekuensi rendah dari hemisfir kanan otak sehingga kecerdasan intuitif 
> mulai TERANGSANG untuk berperan aktif menggantikan kecerdasan rasional 
> hemisfir kiri otak. Jadi secara substansial credo : "Pelototin Tarot 
> dan meditasikan" tidak ada yang totally wrong dengan frasa itu, namun 
> tidak 'hit the point'.
>
> 5.     Tanpa kecerdasan intuitif maka gambar-gambar pada kartu Tarot 
> mudah terjebak kepada penafsiran yang bersifat logis dan korelatif 
> dari kecerdasan rasional hemisfir kiri otak manusia.  Maka tafsiran 
> semacam itu dapat menyesatkan karena tidak bermakna SEMIOTIK melainkan 
> hanya bermakna LOGIK semata-mata.
>
> 6.     Tafsiran semiotik melalui kecerdasan intuitif juga masih dapat 
> berbeda-beda tergantung daripada SUMBERNYA. Bila insight itu berasal 
> dari kecerdasan roh manusia pembaca Tarot itu sendiri, maka hasilnya 
> akan BERBEDA kalau sumber insight itu datang dari pihak ketiga, entah 
> berasal dari arwah (gentayangan atau tidak - tergantung siatuasi), 
> dari para malaikat (angelic) atau dari Roh Allah sendiri.  Para orang 
> kudus di masa lampau memperoleh "petunjuk" yang dipercaya berasal 
> LANGSUNG dari malaikat atau Tuhan sendiri. Semuanya hanya bersifat 
> HIPOTETIS karena tidak pernah dapat dibuktikan. Ketepatan nubuat 
> dengan realitasnya tidak membuktikan secara merta bahwa sumbernya 
> sudah pasti berasal dari para aulia, malaikat, ataupun Tuhan. Tetapi 
> nubuat yang tidak terbukti sudah pasti BUKAN berasal dari malaikat 
> atau Tuhan.  Dalam kebanyakan kasus sumber pembacaan Tarot ialah roh 
> manusia si pembaca itu sendiri yaitu bersumber dari alam bawah 
> sadarnya sendiri yang memuat koleksi informasi memori kolektifnya yang 
> digali lewat mekanisme kecerdasan intuitifnya.
>
> 7.     Tarot memang TIDAK mungkin mencerahkan manusia, sehingga 
> mengharapkan kecerahan melalui Tarot memang terkesan sebagai keinginan 
> yang agak ABSURD.
>
> 8.     Tidak ada jalan mudah dan jalan pintas yang INSTANT untuk 
> menuju pencerahan.  Setiap pencapaian kondisi "metanoia" harus selalu 
> didahului oleh semacam "paranoia" yang dikenal sebagai "The Clouds of 
> Unknown". Dengan lain perkataan jalan menuju kepada pencerahan adalah 
> juga jalan menuju pengenalan dan CINTA yang mendalam kepada Tuhan itu 
> sendiri. Tidak ada jalan lain. Tidak juga melalui jalan Tarot. "Nada! 
> Nada!"  "Bukan itu. Bukan itu", demikian petunjuk John of The Cross, 
> seorang mistikus agung abad pertengahan.
>
>  
>
>           Salam,
>
>           Mang Iyus
>
> --------------------------------------------
>
>  
>
> Maria Margaretta Vivijanti wrote:
>
> Menarik juga bahwa wacana ini dilontarkan oleh seseorang yang juga 
> bisa membaca tarot. Saya sendiri tidak ingin mencari pencerahan lewat 
> kartu Tarot, tapi saya tertarik membaca artikel itu dan sempat 
> menggaris bawahi dari artikel itu adanya keinginan untuk memasukkan 
> Tarot menjadi bagian dari studi psikologi.
>
> Pandangan yang berbeda sangat menarik untuk di ulas sebenarnya supaya 
> ada sudut pandang berbeda yang bisa menyeimbangkan pandangan.
> Maklum banyak mahasiswa muda yang bisa jadi membaca artikel tersebut 
> dan bisa menjadi fanatik terhadap tarot.
>
> Pencerahan diri memang bagian dari perkembangan pribadi, soal ada yang 
> mengalami pencerahan itu hak pribadi. Tugas media mencegah agar tidak 
> terjadi pembentukan opini masyarakat hanya dari satu sisi.
>
> Salam,
> Retty
>
> --- In [email protected] 
> <mailto:Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com>, leonardo rimba
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Koran Kompas hari ini, Minggu, 27 Mei, 2007,
> > menurunkan tulisan berjudul "Menemukan Pencerahan di
> > Kartu". Di artikel yang a.l. ditulis oleh Maria
> > Hartiningsih itu diceritakan pengalaman seorang
> > pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia,
> > Dr. Ruby yang, konon, menemukan pencerahan di
> > kartu-kartu tarot.
> >
> > Kesan saya: What a nonsense!>
> > Ya, saya kenal dengan Mbak Ruby yang menawarkan kepada
> > Vincent Liong untuk menggunakan tempat di Gedung Pasca
> > Sarjana, Universitas Sahid, untuk pertama-kali
> > mempresentasikan apa yang sekarang dikenal dengan nama
> > Kompatiologi. Itu sekitar satu tahun yang lalu. Saya
> > ingat bahwa Mang Iyus (Yuswan Setiawan) juga hadir.
> > Saya duduk di depan, membantu Vincent untuk tetap
> > tegar dan tidak nervous untuk melakukan presentasi di
> > depan sekitar 20 orang yang hadir saat itu, termasuk
> > seorang wartawati yang akhirnya melahirkan tulisan
> > tentang acara kami hari itu di koran the Jakarta Post.
> >
> > Walaupun belum pernah menulis sesuatu tentangnya
> > sebelumnya, tanpa ragu-ragu saya akan menuliskan di
> > kesempatan ini bahwa Mbak Ruby termasuk aliran
> > "prenungan" yang tidak akan membawa pengikutnya
> > kemana-mana selain menipu dirinya sendiri.
> >
> > What is pencerahan sebenarnya? Apakah pencerahan yang
> > dicari-carinya itu, apalagi yang dicari-cari melalui
> > kartu tarot yang, konon, dicabut satu hari satu lembar
> > dan dipelototi untuk diserap sari pencerahannya. Sari
> > pencerahan apa? Nothing could be found there.
> >
> > It's her problem, though. Kalau dia bisa menemukan
> > ketenangan diri yang semu di kartu-kartu itu,... then
> > go on, it's her life. Kartu is tetap kartu, walaupun
> > namanya tarot. Dan, menurut saya, sejuta jenis kartu
> > tarot yang tiap jenisnya berjumlah 78 lembar itu tidak
> > akan membawa pencerahan bagi seorangpun. Never.
> >
> > Tidak pernah dan tidak akan pernah.
> >
> > Itulah juga alasan sebenarnya kenapa saya harus
> > memisahkan diri dari Ani Sekarningsih yang sangat
> > berwatak manipulatif. Mbak Ruby yang pengajar di
> > Fakultas Psikologi UI itu adalah muridnya Ani
> > Sekarningsih yang tersohor dengan metode pelototan
> > kartu every day.
> >
> > Pelototi dan meditasikan, that's her dictum.
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke