Menarik sekali mengikuti obrolan tentang pro kontra tarot ini. Saya orang yang
baru saja belajar tarot secara otodidak dengan buku karya Bu Ani Sekarningsih
(Bunga Rampai Wacana Tarot dan Panduan Tarot Wayang yang otomatis diperoleh
saat membeli Tarot Wayang). Sebagai orang baru, tentu saja saya agak sedikit
terkejut membaca tanggapan Mas Leo tentang tarot yang begitu lugas. Apalagi
saya termasuk orang yang secara sadar merasa sebagai murid Bu Ani yang selama
ini bukunya saya pelajari. Saya juga melakukan apa yang disebut Mas Leo sebagai
'memelototi tarot dan menyerap sarinya', meskipun dalam pemahaman yang sama
sekali berbeda.
Saya pikir, melakukan meditasi dengan tarot sebagai panduan harian sama
sekali tidak salah, paling tidak itu menurut pengalaman pribadi saya. Sama
seperti yang dikatakan Mang Iyus, meditasi adalah upaya saya untuk menghadirkan
keheningan dalam diri, supaya saya bisa mendengar apa yang diam dalam benak
saya secara lebih jernih. Itu saya lakukan hampir setiap pagi, dengan ataupun
tanpa bantuan tarot. Dalam satu bagian buku Bunga Rampai Wacana Tarot memang
dihadirkan semacam panduan meditasi harian (yang kalau disebut oleh teman saya
yang pernah belajar langsung pada Bu Ani sebagai Wisdom of The Day) yang memuat
semacam doa(afirmasi) berdasarkan ke-22 major arcana. Dari yang sudah-sudah,
saya kerap memperoleh semacam inspirasi untuk memulai hari, ketika saya memilih
sebuah kartu dan membaca doanya. Sebab seringkali terjadi, kartu itu membawa
saya pada sebuah doa yang sangat kontekstual dengan keadaan saya saat itu yang
dapat saya baca ulang sepanjang hari itu. Apakah ini
termasuk pencerahan, entahlah...
Saya juga setuju dengan pendapat Mang Iyus yang mengatakan bahwa tarot hanyalah
salah satu sarana kita 'membaca' sinyal yang dikirimkan alam. Amatlah sombong
orang yang selalu mengutamakan logika tanpa mau mendengarkan atau mengamati
'tanda-tanda' yang dikirimkan Tuhan padanya. Tak harus dengan tarot, kita juga
bisa mendengarkan hati nurani. Tapi bisa saja ada orang-orang yang merasa lebih
nyaman berinteraksi dan mencoba menagnkap sinyal itu dengan bantuan media
apapun, tergantung ketergerakan hatinya. Tak ada yang perlu disalahkan atau
dibenarkan sejauh itu dilakukan dengan ketergerakan hati, respek, dilakukan
dengan tindakan penghayatan sepenuh hati dan kita punya keyakinan dalam
kepasrahan atas hasilnya. Soal percaya atau tidak, itu menjadi sangat
individual sifatnya...Maaf kalau komentar saya terlalu dangkal...
Btw, saya senang baca tulisan Mas Leo dan Mang Iyus, karena Anda berdua punya
pemahaman yang baik. Kapan-kapan boleh ya saya berguru pada Anda berdua...
Salam Kasih dalam Kasih...
Indah Soraya
Mang Iyus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> _Komentar:_
>
> Karena nama saya disebut-sebut oleh Leo maka saya tergelitik
> berkomentar juga.
>
> 1. Tarot itu hanya SALAH SATU media untuk "membaca" situasi atau
> "menjawab" pertanyaan dari pihak penanya kepada pembaca Tarot. Maka
> Tarot hanya merupakan salah satu pilihan dan bukan satu-satunya
> pilihan. Hasil yang sama akan diperoleh lewat media lain. Entah itu
> kartu ceki, kartu remi, bubuk teh, jeroan hewan, serat buah, garis
> tangan, tulang pipi, kulit penyu, dsb. Yang dominan bukanlah medianya
> melainkan "the man behind the card". Kalau pembacanya gak becus --
> atau awam biasa -- maka tak bakal menghasilkan bacaan yang memadai
> walaupun media apapun yang dipakai.
>
> 2. Yang mampu membaca Tarot atau media apapun lainnya ialah mereka
> yang TELAH mampu memanfaatkan secara sengaja kecerdasan intuitif dari
> otak hemisfir kanannya.
>
> 3. Kemampuan menguasai mekanisme kecerdasan intuitif biasanya
> diperoleh melalui MEDITASI jangka panjang, apapun jenis meditasinya
> dan dari disiplin manapun berasal. Kita tidak bicara soal kemampuan
> konatural dari mereka yang berbakat karena faktor keturunan. Selain
> metode meditasi pasif (noiseless) yang panjang, ada juga lewat metode
> meditasi aktif yang full-of-noise. Antara lain metode kilat DEKONISASI
> yang dikenalkan oleh Vincent.
>
> 4. Melototi kartu Tarot dapat merupakan bentuk konsentrasi-pasif
> yang menurunkan frekuensi getaran gelombang otak sehingga beralih ke
> frekuensi rendah dari hemisfir kanan otak sehingga kecerdasan intuitif
> mulai TERANGSANG untuk berperan aktif menggantikan kecerdasan rasional
> hemisfir kiri otak. Jadi secara substansial credo : "Pelototin Tarot
> dan meditasikan" tidak ada yang totally wrong dengan frasa itu, namun
> tidak 'hit the point'.
>
> 5. Tanpa kecerdasan intuitif maka gambar-gambar pada kartu Tarot
> mudah terjebak kepada penafsiran yang bersifat logis dan korelatif
> dari kecerdasan rasional hemisfir kiri otak manusia. Maka tafsiran
> semacam itu dapat menyesatkan karena tidak bermakna SEMIOTIK melainkan
> hanya bermakna LOGIK semata-mata.
>
> 6. Tafsiran semiotik melalui kecerdasan intuitif juga masih dapat
> berbeda-beda tergantung daripada SUMBERNYA. Bila insight itu berasal
> dari kecerdasan roh manusia pembaca Tarot itu sendiri, maka hasilnya
> akan BERBEDA kalau sumber insight itu datang dari pihak ketiga, entah
> berasal dari arwah (gentayangan atau tidak - tergantung siatuasi),
> dari para malaikat (angelic) atau dari Roh Allah sendiri. Para orang
> kudus di masa lampau memperoleh "petunjuk" yang dipercaya berasal
> LANGSUNG dari malaikat atau Tuhan sendiri. Semuanya hanya bersifat
> HIPOTETIS karena tidak pernah dapat dibuktikan. Ketepatan nubuat
> dengan realitasnya tidak membuktikan secara merta bahwa sumbernya
> sudah pasti berasal dari para aulia, malaikat, ataupun Tuhan. Tetapi
> nubuat yang tidak terbukti sudah pasti BUKAN berasal dari malaikat
> atau Tuhan. Dalam kebanyakan kasus sumber pembacaan Tarot ialah roh
> manusia si pembaca itu sendiri yaitu bersumber dari alam bawah
> sadarnya sendiri yang memuat koleksi informasi memori kolektifnya yang
> digali lewat mekanisme kecerdasan intuitifnya.
>
> 7. Tarot memang TIDAK mungkin mencerahkan manusia, sehingga
> mengharapkan kecerahan melalui Tarot memang terkesan sebagai keinginan
> yang agak ABSURD.
>
> 8. Tidak ada jalan mudah dan jalan pintas yang INSTANT untuk
> menuju pencerahan. Setiap pencapaian kondisi "metanoia" harus selalu
> didahului oleh semacam "paranoia" yang dikenal sebagai "The Clouds of
> Unknown". Dengan lain perkataan jalan menuju kepada pencerahan adalah
> juga jalan menuju pengenalan dan CINTA yang mendalam kepada Tuhan itu
> sendiri. Tidak ada jalan lain. Tidak juga melalui jalan Tarot. "Nada!
> Nada!" "Bukan itu. Bukan itu", demikian petunjuk John of The Cross,
> seorang mistikus agung abad pertengahan.
>
>
>
> Salam,
>
> Mang Iyus