Yang namanya PENGUSAHA itu manusia hebat, tapi PEDAGANG yang sok jadi PENGUSAHA
itu BANGSAT ! Sayangnya di Tanah Air ini lebih banyak yang BANGSAT daripada
yang hebat.
Contoh :
Dollar naik, ribut kaya anak TK gak dapet jatah coklat..........Bahan baku
import mahal keuntungan berkurang
Dollar Turun, Ribut lagi kaya anak TK kehilangan botol
minum.......Penadapatan export turun, keuntungan berkurang.
Rugi 3 bulan berturut-turut langsung panik dan PHK ratusan karyawan, Padahal
kalau BANGSAT itu memperoleh keuntungan bertahun-tahun mereka gak pernah pikir
untuk mensejahterakan karyawannya, gaji gak naik-naik dgn alasan pertambahan
investasi dll.
Iwan Wibawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
mbak haniwar
saya bukan pengusaha, tapi ibu saya dan keluarga besar mayoritas menjadi
pengusaha meski masih di level propinsi, ibu saya sudah jadi pengusaha ketika
saya masih di sekolah dasar sampai saat ini gubernurnya sudah berganti-ganti,
dan yang saya kagum dari ibu saya, beliau tidak punya hutang ke bank, walaupun
ditawari kredit sama beberapa bank, beliau selalu menolak, perusahaanya tidak
membesar namun tidak mengecil, stabil sepanjang waktu sampai anak-anaknya bisa
selesai kuliah semua, bahkan sekarang sudah memberikan cucu-cucu.
saya satu-satunya di keluarga saya yang memilih jadi karyawan, yang hanya
menerima gaji bulanan,
cuman saya bingung kalo sekarang saya mengkonsumsi beras, ternyata beras impor,
kalo saya makan tempe dan tahu, kedelainya impor, kalo saya makan daging,
daging nya import, makan ayam takut flu burung...
bahkan kalo kepingin makan apel dan duren ternyata juga impor, jeruk juga
demikian.
jadi .....????
salam
iwan
Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mas bukan pengusaha ya ???
Walau betul ada pengusaha cengeng,tapi rekasi ata spenguatan rupiah jug
apunya alasan yang rasional, dan bukan sekedar kecengngengan..
Amerika aja ribut dgn Cina antar alain karena soal kurs dgn mata uang cina
yang dianggap terlalu rendah sehingga barang Cina bis amasukdgn murah ke Amrik.
Bagaimana oula dgn Indonesia yang industri/sektor riilnya terpuruk ??
Lain lagi.. jika menguatnya rupiah. didukung oleh larangan bea
mausk tinggi utk barang jadi.., dan bea masuk serendah rendahnya utk
bahan baku..., lalu masyarakat kita mengkonsumsi produk dalam negeri walau
bahan bakunya dri luar negeri. Ambil contoh tempe,, rori yang bahan
bakunya kedele dan gandum impor...
Jadi dalam situasi ini ( rupiah menguat ) jangan impor produk jadi
LN...tapi .. impor bahan baku....
Jangan bahan pakaian jadi... impor bahan baku pakaian ...dstnya...
Atau ... kalau anda penggemar produk LN...anda berkontribusi pada makin
tenggelamnya produk Indonesia.. dan hancurnya lapangankerja...
Salam
Haniwar
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]