Oleh Budiarto Shambazy
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/29/utama/3561193.htm
========================

Jumpa pers Pak Amien Rais di Yogyakarta, Senin (28/5) siang,
menunjukkan ia dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dua negarawan
sejati. Mereka bertekad menjaga tali silaturahmi, selalu membuka
komunikasi, dan tetap tegas proses hukum jangan sampai berhenti.

Perlu sedikit "pelurusan sejarah" tentang dana nonbudgeter DKP ini.
Sumber pelbagai informasi para penerima dana berasal dari proses
penyidikan dan persidangan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan
Rokhmin Dahuri dan para mantan pejabat tinggi.

Ingat, mereka mengatakan penerima dana bukan cuma capres-cawapres
Amien Rais, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, Wiranto-Salahuddin
Wahid, atau Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, tetapi juga sejumlah
parpol, ormas, tokoh, serta politisi.

Pengakuan Pak Amien ditanggapi Pak SBY melalui jumpa pers di istana,
Jumat (25/5) siang. Banyak yang menduga Pak SBY akan mengajukan
tuntutan hukum dengan segera.

Wajar jumpa pers Pak SBY bikin geger karena disiarkan live dari
halaman istana. Jumpa pers itu mengubah persoalan hukum yang biasa
menjadi isu politik nasional yang berkembang bagaikan "bola liar".

Sebagian surat elektronik ke rubrik ini menghujat Pak Amien yang
dianggap pahlawan kesiangan.

Dalam menilai pemimpin, masyarakat masih menganut prinsip "selalu ada
tetapi". Bung Karno hebat tetapi doyan pidato. Pak Harto bagus tetapi
mau mengajari korupsi.

BJ Habibie pandai tetapi enggak ngerti politik. Gus Dur jenius tetapi
kebanyakan ngelucu. Megawati oke tetapi diam melulu.

Reaksi negatif seperti itu wajar karena ada harapan agar kualitas
pemimpin tak boleh jauh dari malaikat yang turun ke Bumi. Begitu
harapan itu tak terpenuhi, muncul rasa frustrasi.

Di satu pihak rakyat rindu ratu adil atau satria piningit. Celakanya,
yang terpilih hanya "ratu-ratuan" atau "satria singit".

Mungkin karena sudah menekan hati selama bertahun-tahun, rasa
frustrasi itu akhirnya menjadi pemakluman. "Jangan bandingkan kita
dengan Amerika Serikat. Usia demokrasi mereka sudah tiga abad lebih,
kita baru belajar demokrasi". Padahal korupsi oleh politisi busuk tak
ada hubungannya dengan usia demokrasi.

Pemakluman lain, "Karena gajinya kecil, pegawai negeri terpaksa
korupsi". Padahal, mereka orang-orang pilihan yang diseleksi lewat tes
ketat dan kita tahu kalau mau kaya janganlah jadi pegawai negeri.

Rasa frustrasi yang berkepanjangan itu juga kerap menimbulkan
fatamorgana. Pak Amien dituduh mengeluarkan pernyataan kontroversial
dengan sengaja karena ia merupakan bagian dari sebuah rencana besar
yang ingin mendongkel Presiden SBY.

Padahal dunia belum kiamat. Hasil pemilu/pilpres yang cacat merupakan
hal yang sering terjadi. Ingat skandal yang melibatkan Presiden AS
Bill Clinton yang diperiksa karena didakwa menerima dana kampanye yang
tak dilaporkan dari bos Lippo Grup, James Ryadi?

Legitimasi pemilu/pilpres tak bisa dipersoalkan. Namun, tindak tegas
pelanggaran calon-calon gubernur DKI Jakarta yang memasang spanduk dan
billboard kampanye di pinggir jalan.

Demokrasi bukan perkara mudah karena menuntut kewajiban. Kalau nyetir
perlahan-lahan, janganlah bertahan di lajur paling kanan karena para
pengendara di belakang Anda juga berhak atas lajur tersebut.

Jika tak puas dengan demokrasi, janganlah berdiam diri. Kalau enggak
mau dibohongi politisi busuk lagi, mulai sekarang tuntut KPU membuat
aturan baru, misalnya setiap calon anggota DPR yang mendapat suara
kurang dari 250.000 tak berhak mendapat kursi.

Biarin jumlah kursi DPR sedikit, jangan-jangan lebih bermanfaat dan murah.

Lewat petisi kepada MPR, Anda juga bisa menuntut agar setiap politisi
yang terbukti melanggar aturan dana kampanye tahun 2004 dilarang ikut
tahun 2009. Mudah kan?

Mari desak KPU membuka data dana kampanye 2004 untuk diperiksa. Jangan
percaya kepada yang sesumbar seolah-olah "perdamaian" Amien-SBY akhir
dari cerita.

Anggap saja Pak Amien sedang bersin di hadapan Anda. Di Jerman orang
bersin disambut dengan kata gesundheit, di Spanyol salud, di AS bless
you, di sini alhamdulillah.

Wiranto, Hasyim Muzadi, Salahuddin Wahid, dan beberapa anggota tim
sukses sudah angkat bicara. Anggap telanjur bersendawa.

Bagaimana mereka yang diam-diam juga menerima dana dari Pak Rokhmin?
Anggap mereka masuk angin.

Politisi masuk angin suka kentut diam-diam. Politisi pemalu kalau
kentut tak bunyi, tetapi wajahnya merah padam. Politisi pandir menahan
kentut sampai berjam-jam.

Seperti uang, kentut tak bisa bicara, susah dilacak pembuangnya, dan
ke mana larinya. Siapa yang kentut hari ini, esok kita juga sudah lupa. 

Kirim email ke