http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/29/opini/3560860.htm
=================

Sengaja kita ingatkan hal ini agar kita tidak cepat merasa puas diri.
Seakan-akan investasi akan segera mengalir begitu janji diucapkan.

Terlalu sering kita mendengar rencana investasi yang akan dilakukan di
Indonesia. Para pejabat kita kemudian begitu antusias untuk menyambut
rencana tersebut dan seakan-akan semuanya akan terjadi dengan sendirinya.

Padahal, dari rencana menjadi sesuatu yang kemudian dilaksanakan, ada
sebuah proses. Keputusan untuk melaksanakan sebuah rencana bergantung
pada kondisi di mana investasi itu akan dilaksanakan. Benar apa yang
dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla seusai bertemu dengan para
pengusaha Jepang. Wapres mengatakan dalam dua tahun ke depan investasi
akan mengalir ke Indonesia apabila kita mampu menciptakan situasi yang
kondusif, baik dalam keamanan maupun peraturan, terutama yang
berkaitan dengan perburuhan, perpajakan, bea dan cukai, serta mampu
menyediakan infrastruktur, seperti jalan, listrik, dan jasa pelabuhan
yang baik.

Dan di situlah persoalan yang kita hadapi. Kita tidak pernah mampu
memenuhi apa yang seharusnya kita siapkan untuk menyambut hadirnya
investasi. Akibatnya, setiap kali pejabat kita bertemu dengan
pengusaha asing, maka yang didapatkan adalah janji, janji, dan janji
untuk melaksanakan investasi.

Dengan pengusaha Jepang setidaknya sudah lima kali rencana investasi
itu disampaikan. Dua kali ketika bertemu Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, dua kali ketika bertemu Wapres Jusuf Kalla, dan sekali
ketika Aburizal Bakrie masih menjadi Menko Perekonomian. Tidak
tanggung-tanggung rencana pengusaha Jepang untuk menanamkan modalnya
di Indonesia mencapai angka 20 miliar dollar AS. Tetapi hingga saat
ini tidak ada satu pun dari rencana itu yang direalisasikan.

Sekarang bukan saatnya lagi bagi kita untuk berbangga diri dengan
segala hal yang berkaitan dengan seremoni. Investasi jangan diukur
dari seremoninya. Investasi diukur dari berapa dana yang benar-benar
ditanamkan.

Para pengusaha asing bukan tidak ingin menanamkan modalnya di
Indonesia. Hanya saja, mereka pun merasa lelah karena janji-janji
untuk menciptakan iklim usaha yang sehat tidak pernah bisa kita
penuhi. Di dunia yang semakin terbuka, pilihan untuk melakukan
investasi begitu lebar. Ketika Indonesia tidak kunjung mampu
mempercantik diri, mereka segera berpindah ke negara lain.

Tantangan itu kini berada di tangan kita sendiri, bukan pada pengusaha
asing yang mau menanamkan modalnya di sini. Mampukah kita segera
bertindak untuk memperbaiki diri kita? Tanpa itu, lupakan semua janji
investasi yang akan kita dapatkan.

Keinginan untuk mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8
persen tahun 2008 seharusnya menjadi pemacu bagi kita untuk bekerja
lebih keras. Masalahnya, untuk mencapai target tersebut, kita
membutuhkan adanya investasi sekitar Rp 1.000 triliun. Itu artinya
kita membutuhkan investasi sekitar 100 miliar dollar AS. Itu bukan
angka yang kecil dan harus ada usaha ekstra keras untuk bisa
mendapatkannya. 

Kirim email ke