Seandainya terlalu muluk dan tidak realistik untuk berharap adanya
  keadilan buat rakyat kecil yang mati ditembak, lantas negara jenis
  apa sih kita ini?
   
  Seandainya di bumi fana ini tak bakal ada keadilan buat rakyat kecil,
  ya di alam baka keadilan Tuhan menunggu!
   
  Buat rekan-rekan kita di TNI, sadarilah, apa yang bisa dicapai ujung
  senjata sangat terbatas.
  Tak semua masalah, solusinya harus pakai senjata!
  Berbuatlah yang terhormat kalau mau dihargai oleh rakyat negeri ini.
  Belajarlah dari orang Jepang, yang memilih mati dari pada hidup
  tanpa harga diri....
   
  Buat arek-arek Jawa Timur, hati ini hancur berderai.
  Kalian mati di tangan bangsa sendiri!
  Alangkah pahitnya hidup di bumi indah Nusantara ini....
   
  Salam
  Las.
  

Achmad Jauzi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kenapa heran ada rakyat yang ditembak TNI? Bukankah sejak jaman 
Soeharto hal ini sudah biasa? Ingat saja peristiwa Tj. Priok, Haur Koneng, 
Talangsari, Mei 1998, Semanggi I&II, Nipah, Rumpin, Tim Mawar dll 

Mengharapkan keadilan? Mustahil Bapak/Ibu, hanya keadilan dari ALLAH di akhirat 
saja yang dapat membuat semuanya jadi balance...Tak mungkin anda akan 
mendapatkan keadilan di negeri ini...

Tanah punya siapa? Apakah anda semua tidak ingat bagaimana proses pembebasan 
tanah yang sudah biasa terjadi? Tanah rakyat dibayar dengan ganti rugi 
(bener-bener merugikan), yang tidak mau dicap PKI, keluarganya tidak bersih 
lingkungan, tokoh yang menggerakkan protes dibawa Babinsa ke Koramil, pulang 
tidak cacat saja sudah bagus...

Betapa menjijikkannya mendengan konperensi pers Panglima yang bilang peluru 
pantul dan Danjen Kormar Safzen Nurdin yang menyalahkan rakyat...Kok 
bisa-bisanya peluru pantul menembus kepala ibu hamil yang sedang memasak di 
dapur...

Kalau mereka masih punya kehormatan dan rasa malu, bunuh diri seperti menteri 
keuangan jepang harus mereka lakukan...tapi sayang tidak ada petinggi negeri 
ini yang punya rasa malu dan kehormatan

Kirim email ke