Anda benar. USA dan Aussi juga ikut mendorong Indonesia masuk ke TimTim. Menlu 
Kissinger dan G. Whitlam ikut mendukung dan memang sangat menjengkelkan bahwa 
setelah itu mereka lepas tangan. Dari Indonesia juga ada misi yang dikirim ke 
Portugal untuk menghindari clash terbuka namun gagal karena Ali Murtopo sudah 
perintah masuk. (Konon keputusannya diambil di Gua Selarong - bekas markas 
Diponegoro di tahun 1826).
   
  Saya setuju namun itu soal yang agak lain dari tema kita. 
  Perubahan geopolitik serta driving issue dari politik internasional memang 
sangat menentukan reaksi negaranegara lain dan kita juga dituntut untuk 
memahami itu dan menyesuaikan politik luar negeri kita terhadap berbagai 
perubahan itu.
   
  Perang dingin adalah driving issue di tahun 74, tahun 90-an Ham dan 
demokrasi, kini ? Yaa, harus didefinisikan. (Ham & Demokrasi, Globalisasi ( 
Climate change, terorisme internasional, borderless transaction) atau ????).
   
  Salam, Irry.

sawung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Di australia juga banyak yang tidak terbuka pak.
Kalo operasi intel australia dan cia pas indonesia masuk timtim dibuka
bakalan lebih gempar lagi.
Bagaimana bantuan opersi berupa data intelejen, taktik dan perlengakapan
dari negra lain waktu itu.
Rakyat australia nanti malah menyalahkan pemerintah yang berkuasa waktu itu.
Orang kadang lupa dulu waktu indonesia masuk timtim masih ada perang dingin.
Harus dihitung pula siapa yang memberi bantuan ke fretelin waktu itu.
Saya mengira dengan alasan ini xanana tidak mau dibawa ke pbb.

regards

Kirim email ke