Dear All,
   
  Tahun 1996 persoalan ini sempat mencuat. Ketika itu bersama beberapa teman di 
Berlin kami menerbitkan suatu majalah yang diberi nama Suara Demokrasi (mulai 
tahun 1995). Dalam salah satu edisinya, persoalan Reaktor Nuklir ini menjadi 
fokus. Saya akan kirimkan ke forum ini tiga tulisan yang sempat tersimpan di 
file file lama saya. Maaf saya belum ada waktu meng update pemikiran maupun 
data di situ sehingga perlu dicatat bahwa itu dikeluarkan pada 11 tahun yang 
lalu. Namun beberapa hal kiranya masih relevan.
   
  Salam, Irry.
   
  Tulisan Pertama dibawah ini.
   
  ]
  Teradiasi dan Terlupakan 
  Potret Anak-Anak Chernobyl   Dialihbahasakan secara bebas oleh : Ignas 
Iryanto.
  Telah 32 tahun Michajlo menjadi sopir taxi dikota Kiev. Namun belum pernah 
dia membawa penumpang sejauh 120 kilometer kearah Utara melewati desa-desa 
kecil menuju Chernobyl. Jalan-jalan yang dilewati sangat lengang dan sepi. Jika 
tidak sangat terpaksa, tiada seorangpun yang mau tinggal disana ataupun 
mengunjungi Chernobyl. Demikian kata Michajlo kepada penumpangnya. 
  Tiga puluh kilometer dari lokasi bekas reaktor, jalan raya ditutup. Tentara 
bersenjata melakukan patroli. Tanda bahaya radiasi dipasang di mana-mana. 
Walaupun kami membawa surat ijin masuk, tetapi hari itu kami tetap tidak 
diperbolehkan masuk daerah terlarang. Beruntung kami kemudian berkenalan dengan 
Peter. Peter adalah anggota pemadam kebakaran ketika musibah Chernobyl terjadi. 
Kini dia tetap bekerja di pos kontrol tersebut. Dengan bangga dia bercerita 
bahwa dia juga ikut membangun tembok tebal dari beton sebagai pelindung radiasi 
dari blok reaktor yang mencair dalam musibah dulu. Kami diundang kerumahnya di 
desa Briborsk, 3 kilometer dari pos kontrol (33 kilometer dari lokasi reaktor) 
dan diperkenalkan dengan istrinya Valentina serta anaknya Sisca (7 tahun) dan 
Olga (10 tahun). "Siscalah yang paling menderita diantara kami", katanya sambil 
merangkul si kecil. "Dokter mengatakan, dia mengidap penyakit kanker". Olga 
juga berada dalam perawatan di Kiev. Istrinya telah
 diwanti-wanti oleh dokter agar jangan lagi memiliki anak. "Kami tidak dapat 
pergi dari sini. Dimana lagi saya akan mendapat pekerjaan ?". Sampai dengan 
tahun lalu (1994), Sisca dan Olga dapat sekurang-kurangnya sekali setahun 
selama 4 minggu dirawat di pusat perawatan negara. Tahun ini kesempatan itu 
telah ditolak. 
  Hal tersebut adalah konsekuensi logis dari kesulitan ekonomi yang dialami 
Rusia dan juga Ukraina. Hanya pasien-pasien yang terparah yang masih mendapat 
tempat di pusat-pusat perawatan di Laut Hitam ataupun tempat lain. Bagi yang 
memiliki uang dapat mengirimkan anak-anaknya ke pusat perawatan di Eropa Barat, 
di Jerman misalnya. Kini anak-anak Ukraine dibawah usia 12 tahun 100 kali lebih 
banyak menderita kanker dibandingkan dengan tahun-tahun sebelum musibah 
terjadi. Kesempatan untuk sembuh juga sangat buruk. Lemahnya imunitas tubuh 
akibat teradiasi berkembang menjadi semacam penyakit yang umum di Ukraina. Apa 
yang terjadi nanti, jika kanak-kanak ini kemudian memiliki anak lagi ? 
Bagaimana dengan anak-anaknya ? Ini pertanyaan yang sangat merisaukan di 
Ukraina. 
  Maria Bilak, seorang ibu berusia 35 tahun, berbicara mengenai bantuan negara 
setelah bencana. "Semua itu adalah janji sampah. Anak saya sangat menderita 
karena bencana tersebut, namun tak seorangpun menolong dia". Putranya Yoseph 
hanya mampu tiap hari selama 1 jam belajar di sekolah. Setelah itu 
konsentrasinya melemah dan tak mampu melanjutkan pelajarannya lagi. Secara 
kontinu, anak ini menderita sakit kepala, ginjalnya juga terluka. 
  Begitu banyak anak-anak Ukraine yang menderita berbagai penyakit saat ini. 
Epilepsi, kanker, sakit kepala yang kronis, leukemia, kelainan jantung, 
perdarahan dari hidung yang kronis dan lain-lain. Maria Bilak bersama beberapa 
orang tua yang prihatin dengan keadaan ini mendirikan sebuah organisasi 
bernama: "Asosiasi Anak-Anak Korban Chernobyl". Beberapa dokter meluangkan 
waktunya untuk merawat pasien-pasien mungil yang menderita tersebut. Namun 
kekurangan obat-obatan, peralatan medis, makanan yang bergizi menjadi masalah 
pokok. Selain itu memang harus diakui sulitnya menangani penyakit-penyakit 
kronis akibat radiasi tersebut. 
  Informasi yang tidak akurat dan tepat waktu 
  Beberapa orang tua sampai hari ini masih menyesali betapa mereka tidak secara 
cepat dan tepat diberitahu mengenai musibah dan segala bahaya yang terkait 
dengannya oleh yang berwenang. "Tak seorangpun waktu itu yang menasehati bahwa 
kami seharusnya segera meminum tablet yodium", gerutu Olga, ibu berusia 39 
tahun yang putrinya kini harus dirawat intensif. Pada hari kecelakaan, 
kisahnya, dia mendengar bunyi sirene berjam-jam lamanya tanpa mengetahui apa 
sebenarnya yang terjadi. Beberapa hari kemudian, dia menonton berita singkat di 
TV mengenai kecelakaan reaktor tersebut, tanpa sekalipun menyadari bahaya yang 
sebenarnya bagi mereka karena kecelakaan tersebut. Delapan minggu kemudian, 
sekolah putrinya diliburkan selama 2 bulan. Namun semua itu telah terlambat. 
Ditahun berikutnya, 3 anak dari desa Olga meninggal dunia. Sementara yang lain 
dan yang kemudian lahir, mulai menderita berbagai penyakit. 
  Banyak orang tua dari anak-anak korban reaktor tesebut sementara ini tidak 
tahu lagi apa yang seharusnya mereka perbuat. Semuanya telah menghabiskan 
segala kekayaan yang tersisa untuk perawatan putra/i-nya. Sumbangan dari luar 
negri dari tahun ke tahun semakin menipis. "Pada saat-saat awal semuanya 
seolah-olah mau membantu kami, namun kini anak-anak kami seakan-akan telah 
luput dari perhatian, telah terlupakan, padahal penderitaannya masih 
berkepanjangan", gumam seorang bapak tanpa harapan. Yah, penderitaan yang 
berkepanjangan sampai ke generasi berikutnya, itulah hantu yang menakutkan dari 
kecelakaan sebuah reaktor Nuklir. 
  Alexej Simjalio adalah salah seorang dokter yang merawat anak-anak korban 
Chernobyl tersebut. Dia bekerja tanpa dibayar. "Yah saya sendiri tak memiliki 
harapan apa-apa lagi" kilahnya. Ketika tahun 1986 beberapa dokter sukarela 
dibutuhkan untuk Chernobyl, dia termasuk orang-orang pertama yang mendaftarkan 
diri. Setelah setengah tahun terjun di kawasan teradiasi tersebut, dia ditarik. 
Beberapa minggu setelah ditarik, terasa olehnya betapa persendian kaki kanannya 
menjadi lumpuh/mati rasa. Di tahun lalu, bagian demi bagian kakinya harus 
diamputasi. Kini dia hanya memiliki tubuh diatas lututnya. "Hidup saya tidak 
akan lama lagi, karena itu hari-hari terakhir saya akan saya persembahkan untuk 
anak-anak korban Chernobyl ini". 
  Ketika mengalih-bahasakan tulisan dari Peter Hummel di majalah Weltbild nomor 
15 tahun 1995 ini, saya hanya mampu bergumam : "Tuhan, semoga hal ini tidak 
pernah terjadi di tanah air saya, Indonesia". 
    

Iwan Kurniawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          Pemerintah menjual energi yang aman dengan mengimpor energi 
ber-resiko.
Kalau pedagang tidak pernah berpikir bahaya yang penting ada untungnya.
Kalau kita lihat negara di eropa sedang gencar memakai tenaga angin. PLTN
dengan total 4000 MW bisa digantikan dengan mengurangi ekpor gas, batu bara
atau kita kembangkan tenaga angin, sebagai gambaran Jerman mempunyai tenaga
angin total 20.000 MW, India punya lebih 6.000 MW. Jadi alternative energi
angin sungguh besar untuk dikembangkan di Indonesia. Pada KEN 2025 Potensi
energi angin hanya sebesar 250 MW, apa data ini sudah valid. Negara lain
sudah mengembangkan energi angin jauh lebih besar dari Indonesai. Apa perlu
membangun PLTN kalau alternative energi yang tersedia melimpah di Indonesia.

Salam,
Iwan

Kirim email ke