Pembangunan Infrastruktur Dapat Prioritas
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/05/daerah/3581573.htm
===========================

Subang, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui adanya
pihak-pihak yang nakal dalam penyaluran pupuk bersubsidi. Akibatnya,
pupuk yang seharusnya disalurkan kepada petani dengan harga murah
dijual dengan harga yang tinggi.

Dalam kaitan itu, kata Presiden, aparat penegak hukum tidak boleh
pandang bulu dalam bertindak. Siapa pun yang terlibat penyalahgunaan
pupuk bersubsidi harus diproses hukum.

Permintaan tersebut dikemukakan Presiden Yudhoyono menjawab pertanyaan
petani—dalam temu wicara—seusai panen padi dan benih varietas Mira-1
di halaman kantor Kepala Desa Rancadaka, Kecamatan Pusakanagara,
Subang, Jawa Barat, Senin (4/6). Presiden antara lain didampingi
Menteri Pertanian Anton Apriyantono dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko
Kirmanto.

"Memang ada yang nakal di antara kita. Pupuk bersubsidi yang
seharusnya untuk petani diperjualbelikan dengan harga yang mahal.
Karena itu, siapa pun mereka, orang kuat atau setengah kuat, harus
kita tindak. Kita setiap hari dan malam memikirkan kesejahteraan
petani, mereka hanya memikirkan bagaimana mencari keuntungan pribadi,"
kata Presiden mengingatkan.

Sebelumnya, dalam pidatonya, Presiden mengatakan, dirinya akan meminta
Menteri Negara BUMN dan Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan
Logistik untuk menentukan langkah-langkah strategis bagi ketersediaan
dan pengembangan pupuk untuk produksi pertanian.

Infrastruktur

Menanggapi kritik petani soal sulitnya memperoleh fasilitas pengairan,
Presiden menjelaskan bahwa pemerintah melalui Departemen Pekerjaan
Umum terus membangun, memperbaiki, dan memelihara sistem irigasi yang
baik di seluruh wilayah Indonesia.

"Tahun depan alokasi anggaran yang besar, setelah pendidikan, adalah
pembangunan infrastruktur, khususnya pembangunan irigasi yang akan
dikelola Departemen Pekerjaan Umum. Ini membuktikan, kami sadar tidak
mungkin pertanian dapat tumbuh dengan cepat tanpa sistem irigasi dan
pengairan yang tidak baik," ujar Presiden.

Ketika bicara tentang keunggulan panen padi dan benih varietas Mira-1,
yang dipanen di lahan milik Sudimi, anggota Himpunan Kerukunan Tani
Indonesia (HKTI), Presiden menyatakan optimistis varietas Mira-1 bisa
memberi hasil yang baik. Dengan menggunakan varietas itu, katanya,
target produksi gabah setara beras senilai 2 juta ton tahun ini bisa
tercapai.

Padi Mira-1 yang merupakan produksi Pusat Aplikasi Teknologi Isotop
dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) adalah hasil
perbaikan genetik dengan menggunakan teknik mutasi pada padi varietas
Cisantana yang dilakukan sejak tahun 2000. Batan kemudian bekerja sama
dengan HKTI untuk memperbanyak benih tersebut agar dapat ditanam
petani padi konsumsi.(HAR/NMP/MKN/BAY)



Kirim email ke