Saya merindukan bangsa saya ini bisa keluar dari mentalitas korban (yang melulu menyalahkan orang lain itu) dan berani mengakui bahwa selama 60 tahun merdeka kita (as in saya dan Anda dan tetangga- tetangga kita) memang masih perlu belajar caranya bekerja keras, jujur, dan disiplin. Perubahan itu datangnya dari dalam diri sendiri; bukan menunggu datangnya presiden berikutnya.
Andi --- In [email protected], Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Maaf mau nimbrung sedikit soal kemiskinan. > > Kalau bicara soal rezim, apalagi bicara soal kemakmuran, mungkin yang > harus diingat adalah: bagaimana 10 tahun ke depan. Hitung pertama rezim > itu berkuasa kemudian 10 tahun ke depan, lihat sumber daya manusianya, > lihat cara berpikir dan cara masyarakat tersebut mengatasi dan > menyelesaikan persoalan, dan bagaimana dengan pendidikannya. > > Karena kemiskinan itu tak dilihat dari "uang" saja, atau pembangunan > fisik semata, tetapi juga kualitas berpikir masyarakatnya, bagaimana mereka > survive, kritis, bagaimana mereka menghargai sejarah, dan kreatif, dan apakah > kebodohan itu juga salah satu dari ciri kemiskinan. Dan apakah rakus, > egois, apatis, dan tak peduli adalah juga salah satu dari ciri kemiskinan > itu sendiri. > > Semua ciri itu saya lihat ada di Orde Baru, lalu dipoles dengan > pembangunan fisik, yang ternyata malah membuat jiwa besar > masyarakatnya jadi kopong. Orde baru tidak memulai itu semua dari > manusianya, lebih pada mimpi-mimpi tentang kekayaan, seperti tayangan > sinetron kita sekarang. > > Mariana >
