Dear Ibu Berthy,

Yang saya tulis itu bukan nasehat moral, Bu. Itu pengamatan pribadi 
dan insyaallah boleh dipertimbangkan sebagai solusi.

62 tahun kita merdeka. Sudah melalui aneka bentuk pemerintahan dan 
sampai hari ini. Sudah berkali-kali Jakarta menyaksikan revolusi 
sosial seperti yang Ibu sarankan. Hasilnya tetap saja masyarakat 
yang senang jalan pintas dan suka maling kalau sudah berkuasa. Siapa 
yang salah? Selalu saja generasi hari ini menyalahkan presiden 
sebelumnya sambil menunggu semoga presiden selanjutnya adalah 
pemimpin ideal yang ditunggu-tunggu. Bagaimana caranya kita 
memperoleh hasil yang berbeda kalau perbuatan kita selama 62 tahun 
tidak ada bedanya? Seperti kata koran hari ini, para pemimpin kita 
cuma menggunakan partai politik sebagai kendaraan sewaan menuju 
kekuasaan; tanpa pernah mencoba membangun kader sebagai pool 
pemimpin di masa depan. Mengharapkan pemimpin yang adil lahir dari 
masyarakat yang bobrok, sama saja dengan menunggu keajaiban datang 
dari langit, Bu. 

Saya tidak pernah bermimpi akan sebuah revolusi yang dalam semalam 
(atau sepuluh tahun pun) mampu mengubah bangsa ini. Yang saya 
harapkan adalah perubahan kecil-kecil yang menuju arah yang benar. 
Mengapa partai politik (dan LSM) jarang yang membina program 
pendidikan kejujuran, disiplin, dan kerja keras, tiga hal yang nyata-
nyata kurang di masyarakat kita? Mengapa sistem politik kita tidak 
melahirkan ekuivalennya Muhammad Yunus di Bangladesh atau Lee Kuan 
Yew di Singapura? Atau pernahkah kita bertanya mengapa tanpa 
demokrasi Singapura dan Cina menghasilkan pemimpin-pemimpin yang 
handal? Tolong jangan dibilang saya anti-demokrasi. Tujuan saya cuma 
mempertanyakan mengapa masyarakat kita gagal membangun budaya jujur, 
disiplin, dan kerja keras.

Dulu saya sempat bersimpati kepada partai politik yang mengajarkan 
kejujuran, disiplin, dan kerja keras kepada masyarakat. Saya pikir, 
ini solusi yang saya tunggu-tunggu. Dulu ada partai yang platformnya 
begitu, Bu, dan saya doakan semoga menang. Sayang sekarang mereka 
juga sudah terkontaminasi bobroknya politik. 

Buat saya mengajarkan kejujuran, disiplin, dan kerja keras itu lebih 
bermanfaat daripada bolak balik mengeluhkan semua kesusahan kita 
sebagai ekses orde baru; atau mencoba mencari pemimpin jujur di 
antara lautan maling.

Andi

--- In [email protected], Barnabas Rahawarin 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear Pak Andi,
> 
> Kalo ini nasihat moral oleh ustad atau alim ulama di
> akhir khotbah bolehlah. Tapi, kalo kita mencari solusi
> sosial, nasihat ini meneguhkan pak Andi lebih sebagai
> Konselor daripada warganegara dengan advis sosial. Ini
> strutur sosial menuntut revolusi sosial. Anyway,
> thanks untuk spiritual directionnya.
> 
> berth b rahawarin
> 
> 
> 
> --- si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Saya merindukan bangsa saya ini bisa keluar dari
> > mentalitas korban 
> > (yang melulu menyalahkan orang lain itu) dan berani
> > mengakui bahwa 
> > selama 60 tahun merdeka kita (as in saya dan Anda
> > dan tetangga-
> > tetangga kita) memang masih perlu belajar caranya
> > bekerja keras, 
> > jujur, dan disiplin. Perubahan itu datangnya dari
> > dalam diri 
> > sendiri; bukan menunggu datangnya presiden
> > berikutnya.
> > 
> > Andi
>


Kirim email ke