Fakta sejarah yg Anda lihat bisa menghasilkan persepsi yg berbeda pula jika dilihat orang lain.
Bagi sebagian tokoh pergerakan, gerakan komunis tahun 26 adalah gerakan yg prematur dan amatir, dan ditentang banyak tokoh pergerakan Indonesia lainnya. Komunis pada saat semacam mau mencari muka dg membuat gerakan tersebut. Dan benar, akibat ulah yg prematur dan amatiran itu, banyak tokoh perjuangan yg ditangkap oleh Belanda, sehingga perjuangan kemerdekaan menjadi mundur. Pada peristiwa itu, komunis banyak "memperalat" kiyai utk menjalankan gerakannya. Komunis memang "dalang" tapi "dalang" kemplu. Berbeda toh sudut pandangnya? Saya sungguh tidak tertarik bicara masa lalu. Going going gone... Merdeka! ----- Pesan Asli ---- Dari: walsuparmo <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kamis, 7 Juni, 2007 10:53:00 Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Hal Re: Kasus Biografi Soekarno Salam, 1)Sejarah mencatat PEMOGOKAN besar2an oleh kaum buruh KERETA API di tahun 1926 melawan kolonialis Belanda, di dalangi kaum Komunis(PKI) . Banyak pemimpinya dibuang ke seberang a.l.SAELAN ayah dari Maulwy Saelan, Emmy Saelan(pahlawan puteri di Makassar melawan Westerling) dll. 2) Yang paling gigih memperjuangkan Indonesia Merdeka di parlemen Belanda adalah CPN(Communistishe Partij Nederland), a.l.pimpinan De Kat. 3) Yang paling ANTI Indonesia merdeka di parlemen Belanda adalah KVP (Katholieke Volkspartij) dibawah perdana menteri BEEL. 4) Sukarno sebenarnya SAMA SEKALI tidak mau membaca proklamasi( met of zonder Bung Hatta)karena TIDAK PERCAYA Jepang bisa kalah dari sekutu.Hanya karena diculik dan dipaksa oleh para pemuda seperti,Sukarni, Charul Saleh, Adam Malik dkk( mereka pejuang dibawah tanah melawan Jepang yang telah mendengarkan siaran radio klandestin tentang penyerahan Jepang kepada Sekutu sedangkan Sukarno dalam berkerjasama dengan Jepang mempelopori barisan Romusha sesuai banyak foto2 Domei). Ini adalah fakta sejarah dan harus diketahui oleh Patriot Indonesia yang (maaf) kurang wawasan dan tidak obyektif serta berusaha memelintir sejarah. Wasalam, Wal Suparmo -
