Saya setuju sekali dengan pendapat Bapak Daoed Yoesoef
ini. Bahwa betul sekali Pemerintahan kita telah gagal
dalam mengadakan misi pendidikan bagi masyarakatnya
sehingga banyak orang berlomba-lomba mencarikan
alternativ lainnya , seperti Home schooling ini.

Dan saya juga setuju mengenai pemikiran beliau,
bila home schooling semakin marak maka apa jadinya
negara ini???? Pendidikan tanpa standar yang jelas???
kehidupan bermasyarakat menjadi hampa, semua akan
hidup secara individualistis tanpa mempelajari atau
berkenalan secara lahiriah apa itu ber"sosialisasi"
dengan masyarakat luas.

Permasalahan ini juga yang kemarin pada hari Sabtu
yang lalu dalam rangka maraknya 25 th Mutiara
Indonesia saya bahas didalam seminar saya.

Saya juga pertanyakan "Apakah orang tua sudah
melakukan hal yang benar dalam mendidik anaknya
sendiri????"  karena dilapangan masih sering terdengar
"Anak tewas ditangan orang tua kandungnya" 

"Apakah benar orang tua di negri ini sudah mampu untuk
tidak se mena-mena memaksakan kehendaknya pada
anak-anak kandungnya?" Kalo demikian mengapa masih
banyak anak-anak yang tertarik pada NARKOBA???

Apakah benar orangtua di negri kita ini sudah mampu 
memberi keleluasaan belajar pada anak-anaknya??
Bagaimana mungkin baru pulang sekolah saja mereka
dimobil sudah bertanya apa PRnya? Anak belum sempat
istirahat?

Mau mengangkat hak anak??? Bagaimana Kak Seto??? Apa
anda sudah menyadari bahwa kekerasan didalam rumah
tangga itu masih jauh lebih banyak dibanding dengan
kekerasan diluar rumah, ditambah anaknya tidak mungkin
mengadu. Jadi bagi saya kalo cara berpikir dan pola
asuh dinegri kita ini belum diperbaiki jangan
dimarakan dulu idea Home Schooling ini.
Juga standar Akademis dari orang tua perlu sekali
dipikirkan bila ingin mengadakan Rumah sekolah tadi.

Selain itu saya melihat banyak item2 yang belum
terjamah sebagai persyaratan mutlak dari Sekolah Rumah
tadi.Misalnya Standar perkembangan anak;bagaimana kita
menilai perkembangan PSIKOSOSIOEMOSIONAL anak yang
jelas menjadi patokan untuk perkembangan IQ dan EQ
anak.
Standar apa yang harus dijadikan acuan bila anak
mengalami gangguan Sensory, atau gangguan perkembangan
lainnya.
Standar apa yang dijadikan acuan sebagai tanda
kelulusan pada anak, apakah betul cukup hanya dengan
mengumpulkan nilai2 akademis saja? bagaimana kita
menilai sosialisasi anak, bagaimana kita menilai cara
anakmengatasi permasalahannya? apakah kita harus
percaya pada cerita orang tua saja? Aapakah betul
orang tua selalu jujur dalam bercerita mengenai
kekurangan anak-anak kandungnya???

Sebetulnya apa yang kita ingin capai dalam mendidik
anak??? Bagi saya ini bukan hal yang mudah, karena
yang akan kita didik adalah bibit bangsa yang kelak
mungkin bisa menjadi pemimpin yang handal....yang bisa
membawa negri ini menjadi lebih baik. Sehingga kita
memang masih membutuhkan sekolah atau tempat
pendidikan alternativ yang bernuansakan  "Suasana
Rumah".Minimal sampai anak berusia 8 tahun , sehingga
anak masih bisa bebas bermain sambil belajar.

Sekolah alternativ tersebut tetap harus dipimpin/
diasuh oleh tenaga-tenaga pedagog dan psikolog yang
handal dan mengerti permasalahan anak,yang bisa
memotivasi agar anak mampu:
- Belajar menemukan akar dari kepribadiannya
- Belajar untuk bisa memecahkan permasalahan yang
datang pada dirinya, tanpa menggunakan kekerasan
- Belajar bertindak yang benar bila terpilih menjadi
pemimpin.
Jadi disamping bermain (penting karena itu hak
anak)anak juga harus belajar untuk dapat diatur atau
mengatur dirinya di dalam suatu kelompok
kemasyarakatan dimana dia hidup kelak.

Sepertinya bila kita melakukan ini di sekolah maka
hasilnya akan sama dengan Rumah sekolah yang di
inginkan oleh Kak Seto. Yang penting sampai usia 8
tahun anak harus diperbolehkan untuk bermain di
sekolah dan bukan hanya untuk belajar saja!!!!!

Jadi kan tidak ada salahnya mendidik kepribadian anak
sambil bermain di area sekolah. Dan lagi apakah kita
sudah punya pola pendidikan yang baik di ngeri kita
ini???? ya itu juga harus ikut dipikirkan tentunya!!!!

Salam dari Ratih G
Pimpinan Daycare Senso Schule
Jl. Cilandak I/45 (Blkg CITOS)
tlp/fax 021-750 39 05, 759 00 109
Jakarta Selatan



--- Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Oleh Daoed Joesoef
>
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/09/opini/3582472.htm
> =====================
> 
> Belakangan ini kian marak pelaksanaan sekolah rumah
> (homeschooling),
> yaitu rumah dijadikan tempat pembelajaran anak.
> Anak-anak itu
> didampingi dan dibantu orangtua sendiri atau dibantu
> menguasai
> pengetahuan/keterampilan tertentu yang diberikan
> dalam proses
> pembelajaran privat.
> 
> Pelaksanaan sekolah rumah ada yang dilakukan oleh
> satu keluarga untuk
> keperluan anaknya sendiri, ada pula yang diwujudkan
> secara kolegial
> antara dua atau tiga keluarga bagi anak-anak mereka.
> Tempat belajar
> ditetapkan di satu rumah terus-menerus atau
> bergiliran di antara rumah
> keluarga-keluarga yang terlibat, bagai mekanisme
> arisan.
> 
> Kegagalan pendidikan
> 
> Kegiatan sekolah rumah ini jelas merupakan reaksi
> personal terhadap
> pelaksanaan pendidikan sekolah formal yang dewasa
> ini serba kacau dan
> penuh ketidakpastian. Adalah wajar bila orangtua
> mendambakan
> pendidikan yang dipercaya mampu memberi keturunannya
> suatu pegangan
> yang memadai bagi kehidupannya di masa depan, paling
> sedikit sebagai
> manusia individual. Di negara merdeka mana pun,
> pengadaan pendidikan
> yang ideal ini merupakan misi suci pemerintah,
> mengingat ia harus bisa
> menyiapkan warga (citizen) yang andal.
> 
> Untuk negara-bangsa kita, misi itu jelas tercermin
> dalam kalimat di
> Pembukaan UUD 45 yang menyatakan, Pemerintah Negara
> Indonesia dibentuk
> untuk, antara lain, mencerdaskan kehidupan bangsa.
> 
> Maka, reaksi warga Indonesia mengadakan sekolah
> rumah dapat dikatakan
> bukti awal kegagalan misi pendidikan pemerintah
> nasional. Bila
> pendidikan privat jenis ini memarak dan menjadi
> pengganti (alternatif)
> pendidikan sekolah formal, dalam jangka panjang ia
> akan berakibat
> fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi
> manusia yang
> bermasyarakat (homo socialis).
> 
> Sebagus apa pun pendidikan sekolah formal yang
> diusahakan pemerintah,
> termasuk di negara maju, ia tidak akan dapat
> memuaskan kehendak
> orangtua murid untuk memenuhi kebutuhan khusus
> anaknya terhadap
> pengetahuan/keterampilan tertentu. Karena menyadari
> bakat anaknya yang
> luar biasa di bidang musik atau sekadar demi mengisi
> waktu di luar
> sekolah dengan kegiatan-kegiatan positif-didaktis,
> misalnya, orangtua
> mendatangkan guru musik ke rumah. Atau mengingat
> daya tangkap anaknya
> yang relatif rendah dan lamban untuk pelajaran
> tertentu, orangtua
> meminta seorang tutor untuk membantunya di rumah.
> 
> Pelaksanaan pembelajaran di rumah seperti ini
> tergolong pendidikan
> keluarga (famili education) yang baik karena tidak
> menjadi pengganti
> pendidikan sekolah formal, hanya sekadar berupa
> pelengkap. Hal ini
> sudah merupakan gejala biasa dalam proses pendidikan
> negeri maju di
> mana semangat kompetitif amat diagung-agungkan.
> 
> Para pengamat pendidikan Barat amat terkesan dengan
> peran ibu-ibu di
> Jepang—yang mereka sebut "education mama"—dalam
> membantu anaknya agar
> bisa masuk universitas terkemuka di negerinya. Dalam
> cuaca apa pun,
> para ibu itu mengantar dan menunggui anak-anaknya
> mengikuti pelajaran
> privat tambahan jauh sebelum mereka menempuh ujian
> masuk perguruan tinggi.
> 
> Memang pendidikan keluarga seharusnya erat bekerja
> sama dengan
> pendidikan sekolah formal. Artinya, orangtua dengan
> sadar dan sengaja
> berperan sebagai guru kedua di rumah setelah guru
> berperan sebagai
> orangtua kedua di sekolah.
> 
> Kerja sama ini juga demi mengimbangi berbagai akibat
> buruk bagi
> pertumbuhan kemanusiaan anak yang berasal dari
> pendidikan di dan oleh
> masyarakat yang secara spesifik tidak jelas menjadi
> tanggung jawab siapa.
> 
> Lain halnya dengan sekolah (pendidikan) di rumah
> yang dijadikan
> pengganti pendidikan formal. Di sini anak tidak lagi
> mendapat
> pelajaran di sekolah, tetapi hanya di rumah. Jenis
> sekolah rumah
> seperti inilah yang sebaiknya tidak dibiasakan
> karena bisa merusak
> pertumbuhan anak menjadi manusia yang bermasyarakat.
> 
> Seburuk-buruk pembelajaran di sekolah, ia tetap
> merupakan kesempatan
> anak untuk belajar bersosialisasi. Dengan
> bersekolah, untuk pertama
> kalinya anak diinisiasi mengenal, lalu bergaul
> dengan orang-orang yang
> bukan kerabatnya. Bahkan ada kalanya di saat
> bersekolah itulah dia
> mulai belajar "berpisah" dari ibu dan bapaknya untuk
> belajar tegak di
> atas kaki sendiri, di bawah bimbingan orang-orang
> asing, berupa guru
> dan teman.
> 
> Memang, di sekolah ini pula si anak akan mengalami
> penekanan secara
> mental dan fisik, mungkin ditambah gangguan dalam
> pelajaran
> pergi-pulang sekolah. Namun, bukankah hal-hal
> "pahit" itu merupakan
> gambaran nyata dari kehidupan yang bakal ditempuhnya
> sepanjang hayat
> sebagai makhluk bermasyarakat?
> 
> Dia mulai disadarkan, manusia bukan sebuah pulau
> yang terpisah
> menyendiri. Mau tidak mau dia akan berhubungan
> dengan orang-orang yang
> berbeda asal-usul keturunan/kedaerahan, berlainan
> kepercayaan dan
> bahasa ibu, serta berseberangan pendapat/pendirian
> mengenai berbagai
> masalah yang sama, dengan karakter berlawanan,
> dengan citra terpuji
> yang diunggulkan orangtuanya.
> 
> Namun, bukankah di lingkungan sekolah pula tidak
> jarang terjadi
> hal-hal "manis" yang tidak terpikirkan sebelumnya.
> Yang menjadi
> kenangan abadi di hari tua, membuatnya bernostalgia,
> bereuni sebisa
> mungkin dengan teman-teman tempo doeloe.
> 
> Sejujurnya, inisiasi human melalui persekolahan ini
> jauh lebih
> diperlukan anak dari keluarga berada di kota yang
> rumahnya berpagar
> tinggi ketimbang anak keluarga tak berpunya di
> kampung yang biasa
> hidup bertetangga secara spontan sejak lahir.
> 
> Makhluk bermasyarakat
> 
> Di negara-negara maju, sekolah rumah bukan tidak
> ada. Kebiasaan ini
> "terpaksa" dilakukan keluarga yang hidup terpencil
> karena kondisi
> kerja yang harus dipenuhi; misalnya, menjaga hutan
> dan national park,
> mengurus mercu suar, menjalankan perahu angkutan di
> jaringan kanal
> dalam negeri. Untuk ini, orangtua dibantu buku-buku
> dan siaran
> televisi yang khas untuk keperluan pendidikan privat
> jarak jauh.
> 
> Tulisan ini bukan bermaksud melecehkan hak asasi
> manusia dari setiap
> orangtua untuk memilih sendiri jenis pendidikan bagi
> keturunannya. Ia
> hanya ingin mengingatkan, hak itu berurusan dengan
> manusia yang by its
> very nature merupakan makhluk yang bermasyarakat dan
> karena itu
> memerlukan pendidikan yang relevan untuk bisa
> menjadi 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 
http://searchmarketing.yahoo.com/

Kirim email ke