Mungkin bung Muhamad Rivai lupa menyebutkan sumbernya..?? kalau tidak keberatan 
mohon disebutkan, apabila ada teks asli inggrisnya itu akan lebih baik, so..ini 
ulasan bagus mohon ijin saya tampilkan di bloq saya ,  terima kasih..
   
  Suhardiman Supandi
  

Muhammad Rivai Andargini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Memburu teroris dengan jalan melanggar HAM, semakin lama ulah
pemerintahan Bush semakin terbongkar. Jika mereka lantang bicara soal
HAM, disaat yang sama ada gajah dipelupuk mata mereka.

Vavai

Eropa Beberkan Penjara CIA
Italia Adili 26 Agen Intelijen AS karena Bertindak Sembarangan

Paris, Jumat - Para penyelidik dari Dewan Eropa atau Parlemen Uni Eropa,
Jumat (8/6), mengeluarkan laporan berisikan bukti keberadaan
penjara-penjara rahasia CIA di UE. Polandia dan Romania adalah dua
negara yang paling bersekutu dengan AS soal penjara yang ilegal
berdasarkan hukum internasional itu.

"Washington memberi tawaran menggiurkan jika Romania bekerja sama soal
penjara rahasia, termasuk dukungan Washington bagi Romania untuk menjadi
anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yang disebut sebagai
hadiah terbesar," demikian antara lain isi laporan tersebut.

Pada 2 April 2004, Romania menjadi anggota NATO, dengan ucapan khusus
dari Presiden AS George W Bush yang menyambut masuknya Romania ke NATO.

Banyak negara di Uni Eropa (UE) yang membantu penyelenggaraan penjara
rahasia Badan Pusat Intelijen Amerika Serikat (CIA). Laporan ini muncul
pada saat Kelompok Delapan Negara (G-8) masih dalam rangka pertemuan
puncak di Jerman, Jumat. Presiden AS George W Bush diberitakan sakit
perut dan tidak bisa mengikuti sesi pertemuan pagi hari.

Pada hari yang sama, Italia menyidangkan 26 agen CIA di Milan.
Tuduhannya, agen-agen intelijen AS itu melakukan perbuatan melawan hukum.

Bukti keberadaan penjara rahasia CIA itu dibeberkan Dick Marty dari
Komite Urusan Hukum dan Hak Asasi Manusia Parlemen Eropa yang bermarkas
di Strasbourg, Perancis. Marty, yang juga seorang Senator Swiss dari
partai politik di Swiss bernama Aliansi Liberal dan Demokrat untuk Eropa
(ALDE), kini juga bertugas di markas Parlemen UE.

Laporan itu adalah hasil penyelidikan saksama setelah isu penjara
rahasia muncul pada tahun 2003. Disebutkan, ada bukti keberadaan penjara
rahasia CIA di Polandia dan Romania. Di penjara yang ada di dua negara
ini petugas AS menginterogasi tersangka teroris. "Penjara-penjara
rahasia benar-benar eksis di Eropa periode 2003-2005," ujar Marty.

Ditambahkan, keberadaan penjara-penjara rahasia itu juga diketahui para
pejabat pemerintahan setempat. Penjara rahasia tersebut juga dilengkapi
dengan hak untuk "membunuh, menangkap, dan menahan para tersangka teroris."

Hal itu menimbulkan kemarahan UE. Juru bicara UE Friso Roscam meminta
para anggota UE untuk mengatasi persoalan penjara rahasia itu.

Menurut laporan itu, Presiden Polandia saat itu Aleksander Kwasniewski,
Kepala Biro Keamanan Nasional Marek Siwiec, Menteri Pertahanan Jerzy
Szmajdzinski, dan Kepala Intelijen Militer Marek Dukaczewski tahu soal
semua itu. Marty menyimpulkan semua para petinggi Polandia tersebut
bertanggung jawab soal keberadaan penjara rahasia tersebut.

Kwasniewski dan Szmajdzinski membantah isi laporan itu.

Senator Romania Norica Nicolai juga membantah temuan tersebut.

*Sebagian tidak kooperatif*

Laporan itu mendapatkan informasi dari berbagai sumber, termasuk para
tersangka teroris. "Sebagian pemerintahan di UE menghalangi penelitian
dan terus berbuat demikian dengan alasan demi rahasia negara. Kritik
harus diarahkan kepada Jerman dan Italia," kata Marty.

Di Polandia, ditemukan "situs hitam" di mana delapan tahanan paling
berharga diinterogasi, termasuk Khalid Sheikh Mohammed, tersangka otak
serangan 11 September 2001. Di sana juga pernah ditahan Abu Zubaydah,
salah satu pelaksana operasional Al Qaeda.

Soal Romania, disebutkan bahwa negara ini malah membangun sebuah lokasi,
yang kemudian menjadi tempat penampungan lanjutan untuk tahanan paling
"berharga" (high-value detainees/HVD).

Laporan itu melanjutkan, "Penjara rahasia itu juga dipimpin langsung
oleh CIA. Staf lokal tak mendapatkan akses terhadap tawanan, hanya
berperan sebagai pendukung logistik."

*Setara penghilangan orang*

Dari Milan diberitakan, sebanyak 26 agen CIA diadili secara in absensia
di Milan, Italia, Jumat (8/6). Mereka dituduh menjalankan kebijakan
kontroversial Washington yang membolehkan penculikan dan penyiksaan
terhadap tersangka terorisme di bumi Uni Eropa.

Pengadilan ini dibuka beberapa jam sebelum Presiden George W Bush tiba
di Italia untuk sebuah kunjungan resmi. Bush dijadwalkan akan bertemu
dengan Paus Benediktus XVI dan Perdana Menteri Italia Romano Prodi.

Sebagaimana diketahui, taktik perang terhadap terorisme, berupa
penculikan dan penyiksaan atas tersangka teroris, dijalankan Pemerintah
AS pascaserangan 11 September 2001.

Pada September 2006, Presiden Bush mengakui bahwa CIA mengoperasikan
penjara-penjara rahasia di berbagai negara. Namun, dia membela program
tersebut. Menurut dia, melalui interogasi terhadap para tersangka
terorisme yang ditahan di penjara rahasia CIA, AS memperoleh informasi
intelijen untuk menangkal serangan teroris.

Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani penyiksaan, Manfred
Nowak, ketika itu, mengatakan, penggunaan penjara rahasia melanggar
aturan antipenyiksaan di bawah hukum internasional. Penahanan seseorang
di penjara rahasia, menurut Nowak, sama dengan menghilangkan seseorang.

*Pertama kali*

Pengadilan kriminal terhadap pelaksana program kontroversial Washington
ini merupakan yang pertama kali dilakukan. Pengadilan juga menyeret
tujuh warga Italia yang diduga ikut membantu operasi para agen CIA itu.
Salah satunya adalah mantan Kepala Intelijen Militer Italia (SISMI)
Jenderal Nicolo Pollari. Akibat kasus itu, Pollari terlempar dari
jabatannya.

Dalam dakwaannya, penuntut umum mengatakan, para agen telah menculik
seorang warga Mesir, Hassan Mustafa Osama Nahr atau dikenal sebagai Abu
Omar, ketika ia berada di Milan pada 17 Februari 2003.

Abu Omar kemudian dibawa ke pangkalan militer AS di Aviano, Italia.
Selanjutnya, ia diterbangkan secara rahasia ke sebuah penjara di luar
kota Cairo, Mesir, melalui Jerman. Selama empat tahun mendekam di
penjara tersebut, Abu Omar mengaku disetrum, dipukuli, dan dilecehkan.

Abu Omar mengatakan, ia dituduh merekrut pejuang untuk kelompok-kelompok
garis keras. Namun, ia tidak pernah dituntut secara hukum. Kasus ini
sempat mengganggu hubungan antara Roma dan Washington dalam beberapa
tahun ini.

Penuntut umum Armando Spataro mengatakan, kasus ini penting karena akan
mengajarkan kepada semua pihak untuk memerangi terorisme dengan tetap
menghormati hukum dan demokrasi Barat.

"Kita ingin menghukum pelaku teroris, tetapi itu dilakukan di dalam
ruang sidang pengadilan," kata Spataro. Dengan cara seperti ini, ia
yakin para teroris tidak memiliki alasan untuk merekrut anggota baru.
(BBC/AFP/AP/REUTERS/mon/BSW)

-- 
This message has been scanned for viruses and
dangerous content by MailScanner, and is
believed to be clean.

[Non-text portions of this message have been removed]



         

       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke