Pak Haniwar, Bukan Sahara, Pak Haniwar; Sub-sahara. Artinya negara-negara di selatan Gurun Sahara yang kebanyakan beriklim tropis dengan hutan rimba belantara. Nigeria itu kurang kaya gimana alamnya? Ekspor minyak dan gas buminya lebih besar dari Indonesia. Sierra Leone itu kurang berlimpah bagaimana sumber dayanya? Tambang berliannya dimana- mana. Kongo itu kurang luas bagaimana tanahnya? Tapi mengapa mereka tetap miskin sementara kita bertambah kaya 20 kali lipat dalam 30 tahun?
Hutang jangan dilihat nominalnya, Pak. Kalau begitu AS, Jepang, Inggris dan Kanada itu negara termiskin di dunia karena hutangnya 10 kali lipat Indonesia. Hutang itu dinilai dari kemampuan kita membayarnya nanti. Ekonom biasanya menggunakan perbandingan hutang dengan GDP atau perbandingan cicilan dengan ekspor tahunan. Dari segi itu percaya saya deh, Pak. Utang kita itu masuk kategori cukup sehat. Terus tolong jangan balik lagi membandingkan dengan Asia Tenggara. Ini sudah topik lain lagi. Dari kemaren saya tidak setujunya karena kita menyamakan negara kita dengan negara-negara Afrika. Tapi kalau mau juga bicara soal Asia Tenggara, saya ambil contoh Malaysia. Banyak di antara kita membandingkan Indonesia dengan Malaysia. Kok Malaysia 3 kali lebih kaya dari Indonesia? Itu karena tahun 1965, Malaysia itu sudah 3 kali lebih kaya, Pak. Sekarang Malaysia masih 3 kali lebih kaya (dan bukan 5 kali atau 6 kali), itu artinya apa? Artinya dalam 40 tahun terakhir, Indonesia bertumbuh SAMA CEPATNYA dengan Malaysia. Padahal jumlah penduduk kita SEPULUH KALI LIPAT. Ibaratnya, truk, dengan membawa beban sepuluh kali lebih berat masih mampu melaju sekencang sedan. Negara kita tidak jelek- jelek amat, kok Pak. Tapi jangan dibelokkan lagi terus Bapak (dan Mas Patrick) bilang kalau saya puas dengan keadaan sekarang. Tujuan saya cuma agar kita menilai pencapaian bangsa kita dengan perspektif yang adil. Andi --- In [email protected], Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Andi itu lupa membandingkan, bhw kondisi alam Indonesia jauh lebih kaya > dr yg di Sahara itu, sehingga beda keadaan kita jadi amat tipis dgn > membandingkan potensi kita dgn mereka . > > Begitupun pembangunan oleh Harto yg di banggakan nya itu, jauh lebih > rendah dgn hasil negara tetangga Asean kita yang mengeluarkan ongkos sama ( > kata Sumitro . nggak efisien sampai 30 persen). > > Dan yang juga penting.. kalau kita menilai asset kita di tahun 66 (saat > Harto naik) dgn tahun 98 ( sata Harto turun ), akan kita lihat.. asset > kita berupa hutan, hsl tambag, kesuburan tanah dll berkurnag banyak, > sedang tambahan asset berupa prasarana walau ada sudah jebol semua. > Dinilai dari hutang, hutang kita dalam nilai nominal yang tadinya kecil > jadi gede. Kalau nilai manusia nya.. ya mapun bobroknya peninggalan jaman > Harto itu, maunya untung sendiri dgn mengorbankan rakyat banyak. > > Makanya dgn nilai pencapaian spt banyaknya angka kematian Ibu, trtendahnya > kkonsumsi susu, daging, tingginya TBC, tingginya kematian bayi.. dibanding > potensi sesungguhnya dati Indonesia yg sebenarnya tadinya kaya, nggak ada > gurun pasir .., ya wajarlah. kalau kota sati ini mirip negara termiskin di > dunia. > > > Bukan utk diratapi.. tapi utk diperbaiki.. > > > > At 04:32 PM 08-06-07, you wrote: > > >Pakkk Si-Andi Yg Terkasih.. > > > >Hehe..trimakasih atas penuturannya yahh.. > >Bila kita mau berbesar hati utk menilik lebih jauh predikat pencapaian > >HDI Indonesia sbg "medium-level of HDI", kita harus bisa mengakui > >ternyata, "Indonesia the Beautiful" ini tidak berbeda jauh dgn > >negara-negara di kawasan Sub-Sahara Afrika yg berpredikat "low- level > >of HDI"...Kalau kita PUAS dgn predikat "medium-level of HDI", berarti > >kita dalam MASALAH BESAR!! Kalau memang Indonesia sekarang MASIH > >berpredikat "medium-level", berarti kita masih tidak jauh-jauh amat > >dgn negara-negara Sub-Sahara Afrika! Wong bedanya cmn satu level kok! > >Berarti tidak jauh-jauh amat khn??? > > > >Kalau memang "Indonesia the Beautiful" telah berpredikat "HIGH- LEVEL > >OF HDI", BARUUUUUU kita menyatakan, Indonesia berbeda jauh dgn > >negara-negara Sub-Sahara Afrika, karena bedanya 2 level! Iya toh?? > > > >Mari kita bandingkan pencapaian HDI kita dgn VIETNAM!! > >Beberapa tahun terakhir ini, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Vietnam > >melampaui Indonesia (dalam Kompas, 30/5/2007, "Berbagai Tantangan, > >Berbagai Upaya", Maria Hartiningsih)... > > > >Kita tilik lebih jauh lagi, apa sih artinya pencapaian Indonesia yg > >berpredikat "middle-level of HDI" itu? Indonesia memegang urutan 110 > >dari 171 negara yg disurvei UNDP dalam HDR tahun 2005. Apa artinya > >urutan 110 itu? Artinya, angka kematian ibu di Indonesia masih > >tertinggi di Asia Tenggara, yaitu: 307 per 100.000 kelahiran hidup. > >Angka partisipasi sekolah menengah pertama dalam kelompok masyarakat > >berpendapatan terendah hanya mencapai 70% dari angka nasional yang > >mencapai 81%. Akses masyarakat miskin kepada air bersih masih sangat > >rendah, yaitu 52 persen, dan 44% lainnya tanpa sanitasi yang layak. > >Semua ini membuat HDI Indonesia berada di urutan 110 dari 171 negara > >(Kompas, 30/5/2007).....Bayangkan Pak Andi, di negeri "Indonesia the > >Beautiful" yg kita tinggali ini, angka-angka rendahnya taraf hidup > >masyarakat menjadi suatu keniscayaan, setidaknya menurut UNDP!! > > > >Salam, > > > >Patrick Hutapea >
