Wa alaikum salam wr wb.
Mas Andri,
Terima kasih banyak atas suratnya. Saya sangat menghargainya. Salam
kenal untuk Anda. Nampaknya memang ada kesalahpahaman dalam masalah
tersebut. Tapi surat ini menjernihkan semua permasalahan. Saya juga
mohon maaf jika secara gegabah mengira Anda sengaja hendak mengaku
sebagai penulis artikel.
Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya pada Anda yang telah
mengirimkan artikel tersebut ke berbagai milis sehingga dapat dibaca
oleh banyak orang.
Semoga Allah melimpahi Anda dengan berkah dan rahmatNya. Amin!
Salam
Satria 

--- andriaji saputro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Assalamualaikum,
>    
>   ....secara tdak sengaja saya melihat nama saya di forum pembaca
> kompas, dan saya kaget sekali di cap sebagai plagiator tulisan Mas
> Satria, sungguh saya tidak mengerti. Saya ingat dari salah satu
> maillist saya mendapatkan tulisan Mas Satria ini, karena isinya yang
> bagus dan baik untuk diketahui, saya forward ke temen-temen saya, dan
> beberapa maillist, di forward email saya jelas sekali saya cantumkan
> bahwa tulisan ini saya dapatkan dari sebuah maillist dan saya forward
> agar bermanfaat, dan saya ingat sekali saya nggak pernah mengklaim
> bahwa saya penulis dari artikel tersebut atau mengganti nama Mas
> dengan nama saya, wah saya nggak mengira kalo kejadiannya akan
> seperti ini.......
>    
>   Tapi bagaimanapun saya tetap bersalah, seharusnya saya lebih
> berhati-hati dalam memforward suatu email, saya sangat menghormati
> karya seseorang apalagi tulisan Mas Satria ini, dan dengan email ini
> saya mohon maaf kepada Mas Satria. Semoga hal ini bisa meluruskan
> kesalah pahaman. 
>    
>   Note: Berikut ini saya forward email yang saya kirimkan kepada
> teman-teman saya.
>   
> Wassalamualaikum wr.wb
>    
>   Andri Aji Saputro
>   [EMAIL PROTECTED]
> Note: forwarded message attached.
> 
>        
> ---------------------------------
> Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who
> knows.
> Yahoo! Answers - Check it out.> Date: Thu, 14 Jun 2007 03:46:19 -0700
(PDT)
> From: Anarta80 <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Fw: Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia
> To: Andriaji Saputro <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> ANDY ANARTA | Project Engineer
> Qatar Representative Office
> ADHI KARYA INTERNATIONAL                                             
>                 email: [EMAIL PROTECTED]
> Beyond Construction                                                  
>                     Phone: 09744376286 | Fax: 09744314467
> www.adhi.co.id                                                       
>        Mobile: 09746550612 (Doha) | 06281321670444 (Jkt)
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ----- Forwarded Message ----
> From: andriaji saputro <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; Andy_Anarta anarta
> <[EMAIL PROTECTED]>; Yuli Aji Prabowo <[EMAIL PROTECTED]>; Angga
> Yoantoro <[EMAIL PROTECTED]>; IGede Sumantra
> <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; hari darmojo
> <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, May 2, 2007 2:53:57 PM
> Subject: Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia
> 
> 
> 
> 
> 
> Assalaamu 'alaikum wr.wb,
> 
> Dari milis sebelah...
> 
> Kualitas pendidikan konon ditentukan oleh kualitas sang guru.
> Bagaimana dengan kondisi guru di nusantara serta kualitas mereka?
> Semoga artikel berikut bermanfaat dalam mendidik anak-anak kita...
> 
> Wassalam,
> 
> Andri Aji Saputro
> 
> 
> KUALITAS PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA
> 
> Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki
> peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa
> karena
> memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas
> pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan
> ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan,
> ini
> memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh
> dunia.
> 
> Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
> internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for
> Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal
> dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca,
> dan
> juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara
> akademis
> tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.
> Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.
> Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam
> masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi
> dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan
> beberapa
> negara lainnya.
> 
> Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam
> belajar,
> memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau
> memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di
> Finlandia
> mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan
> negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka
> justru
> lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea,
> ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam
> perminggu
> 
> Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada
> kualitas
> gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan
> kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri
> adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah
> fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar
> untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7
> pelamar
> yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke
> fakultas
> bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan
> dengan
> Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas
> seadanya
> dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.
> 
> Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru
> yang
> berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi
> guru-guru
> dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka
> bebas
> untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan
> kurikulum
> yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri.
> Jika
> negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa
> merupakan
> bagian yang sangat penting bagi kualitas
> pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang
> menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat
> kita
> cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di
> Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa
> diukur
> dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk
> mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga
> lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
> 
> Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
> Ini
> membantu siswa belajar betanggungjawab atas pekerjaan mereka
> sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso,
> Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih
> bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.
> 
> Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha
> mencari
> sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak
> jika
> mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak
> belajar
> apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru.
> Disini
> guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah
> seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan
> fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa
> tertekan
> dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.
> 
> Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang
> membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah
> di
> Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik
> dan
> yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.
> 
> Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai
> kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani
> masalah
> belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi
> setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai,
> umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu;
> berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak
> perlu
> untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
> 
> Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka.
> Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka
> hal
> tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan
> menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan
> kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan
> nilai
> sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem
> ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap
> dirinya
> masing-masing.
> 
> Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri
> pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.
> Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara
> kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada
> keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam
> mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang
> tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang
> sangat
> bertanggungjawab.
> 
> Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich

Kirim email ke