Dear all, Ikut nimbrung nih.
Theologi sebagai logos tentu (seharusnya) memenuhi kaidah kaidah keilmuan,
sehingga pertanggung-jawabannyapun mengikuti norma norma keilmuan. Ini adalah,
menurut saya yg juga tidak mengerti banyak, bagian rasional dari suatu agama.
Jika theologi berusaha memahami Tuhan, maka spiritualitas berusaha mengalami
Tuhan..mengalami yang ilahi. Pengalaman ini melampaui rasionalitas. Pengalaman
mengalami Tuhan secara hampir sempurna dicapai oleh para "pendiri" atau
penganjur agama. Kita, para pengikutnya, coba mengikuti jalan spiritualitas
yang ditempuhnya. Dengan segala kekurangan, saya memahami bahwa Theologi
hanyalah perlengkapan (yg kadang kadang atau malah sering tidak diperlukan)
dalam perjalanan spriritualitas insan manusia. Kelompok yang sangat memahami
Theologi bisa saja menjadi orang yang paling kering pengalaman spiritualnya
sementara orang yang sederhana didesa-desa yang sama sekali tidak memahami
Theologi, bisa sangat dalam pengalaman spiritualnya. Begitu pula ritus atau
upacara upacara hanyalah sekadar alat bantu dalam perjalanan spiritualitas
kita, perjalanan mengalami Tuhan sendiri. Semakin dewasa, semakin matang,
semakin tidak menentukan segala serangan atas Theologi agamanya atau serangan
atas instrumen ritualnya (termasuk tempat ibadah adalah instrumen ritual).
Gus Dur menulis, Tuhan tidak perlu dibela. Allah tidak butuh perlindungan
umatnya. Namun tentu saja sikap seperti ini datang dari pemahaman yang matang
serta pengalaman tentang Allah yang "utuh". Theologi dapat didiskusikan, ritus
dapat diubah ubah bahkan ritus penuh dengan muatan kultural namun pengalaman
spiritual hanya dapat disharing. Dia melewati batas nalar, melewati batas
kultural bahkan melewati ruang dan waktu. Spritualitas modern adalah
spiritualitas yang membuka ruang ruang kesadaran dalam kebisingan kota dan
kompetisi kehidupan, sehingga toh mampu mengalami Tuhan dalam modernitas
ini....mampu mengalami kehadiran Tuhan dalam kehadiran yang lain. Pengalaman
spiritualitas ibu Theresa menunjukkan teladan yang sangat cocok dengan
spiritualitas ini.
Yang menyedihkan adalah manipulasi yang dilakukan oleh pemimpin agama yang
mendeviasi / memanipulasi membela (institusi) agama, pemimpin agama bahkan
aliran politik pemimpin agama, sebagai membela Tuhan. Mereka malah bersyukur
jika umat mudah disulut kebenciannya karena akan lebih mudah diperalat.
Yang juga menyedihkan adalah usaha tanpa henti dari para penulis dan pembuat
film yang terus menerus berusaha merobohkan Theologi Kristen dalam berbagai
buku dan film termasuk yang terakhir Da Vinci Code dan The Lost Thomb of Jesus.
Usaha mereka malah semakin mendewasakan kekristenan yang ada. Kekuatan utama
dari agama adalah spiritualitasnya sementara institusi, ritus serta Theologi
dalam keadaan tertentu dapat menjadi titik lemah.
Salam lagi iseng,
Irry.
Bambang Wahyu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Eko ytc...
saya pribadi sangat membuka kajian ilmiah mengenai berbagai ruang soal
keimanan dengan hal-hal yang "rasional" dengan pemikiran umat manusia....
namun kembali ke itu tadi pak...
akal pikiran manusia itu amat sangat terbatas...
sampai dimana kita bisa mengkaji salah satu ilmu kehebatan Allah jjika kita
mengambil contoh, Ilmu Pembelahan Sel Embrio Manusia.atau betapa kuatnya
dinding rahim ibu kita...belum lagi bagaimana kita berhssil lolos dari
lorong ajaib dari rahim sampai menghirup oksigen dunia yang fana ini?
itu baru contoh kecil kehebatan Sang Kuasa yang bisa kita lihat kasat
mata...
itu amat sangat luar biasa !!!!!
akal manusia itu hanya mungkin segelintir sepersetrilyun milyar mikron dari
debunya debu kosmik yang diberikan kepada manusia (itu juga dengan kemurahan
Sang Kuasa)...Jika Allah tidak berkehendak manusia diberi akal pikiran untuk
mengakji mana baik buruk....apa lah kita ini?
SALUTE !!!!!