Iman cenderung statis? He he he, Anda ini bicara tentang iman yang mana?
Imannya siapa? baik ilmu maupun iman, dua-duanya sama-sama dinamis dan bisa
bertumbuh--jika kita mau membiarkannya bertumbuh. Dikotomi antara iman di satu
kutub dengan label X dan ilmu di kutub lain dengan label Y sama sekali tak
bermanfaat untuk dibuat.
Apakah kita akan menolak sains jika ia bertentangan dengan iman kita? Well,
liat dulu "sains" yang mana? Emangnya yang disebut sains itu tunggal? Apakah
kalo yang versi Cameron itu pastinya sains dan yang tak setuju dengannya bukan
sains? Sains mengajarkan kita untuk TIDAK percaya bahkan bila perlu terhadap
sains sendiri. Ketika satu versi tertentu sains mau diasumsikan sebagai THE
Truth, maka sains telah kehilangan haikiatnya sendiri; sama seperti ketika iman
hendak diuniversalkan (alih-alih di-privat-kan), maka dia pun kehilangan esensi
utamanya sebagai iman.
Semakin terbatas pengetahuan dan referensi kita tentang thesis Cameron,
semakin mudah bagi kita untuk mengabsolutkan kebenaran yang ditawarkan sebuah
sains; semakin banyak kita tahu dan membaca, semakin mampu kita melihat gambar
besarnya, dan semakin mampu pula kita melihat apa persoalan yang dihadapi oleh
sains ala Cameron. Seperti juga doktrin agama, "doktrin sains" pun juga tak
sebaiknya diterima begitu saja tanpa discernment.
manneke
EKO KERTAJAYA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam
Sekedar info saja pak Bambang, diskusi2 tentang keimanan dan sains/akal pikiran
cukup ramai di forum2 atau milis2 yang "serius". Topiknya sudah tidak lagi debat
antara argumen keimanan dan sains lagi, karena perdebatan semacam itu tidak akan
menghasilkan apapun. Perdebatan bergeser ke arah yang lebih "future". Keimanan,
dogma adalah variabel yang cenderung statis/tetap, sedangkan keilmuan terus
berkembang seiring memenuhi keingintahuan dari manusia itu sendiri. Masalahnya
adalah akankah kita bisa menolak sains jika bertentangan dengan keyakinan agama
yang kita anut, dan ataukah kita akan merevitalisasi keyakinan kita terhadap
kemajuan
sains. Kalo pak Ioanes menganalogikan hal tersebut antara badan dan
bayang-bayang.
Saya sendiri sejalan dengan pak Bambang, namun setidaknya juga berusaha membuka
ruang untuk mengkaji kembali berbagai pemikiran.
Wasallam
-