Iman dan sains, iman dan rasio....sudah menjadi masalah klasik yang selalu 
diperdebatkan.
  Kalau dibilang iman itu statis, Gereja tidak akan meminta maaf kepada Galileo 
atas apa yang dilakukan Gereja padanya. Tetapi, Paus terdahulu dengan berani 
meminta maaf. Ini satu hal yang menunjukkan bahwa iman itu dinamis.
   
  Seperti yang dikatakan Pak Manneke, tapi tergantung sains yang seperti apa. 
Apakah kesimpulan yang masih hanya pada taraf hipotesa mesti diakui 
kebenarannya? Apakah kesimpulan yang diambil karena ada agenda khusus - seperti 
popularitas, usaha menjatuhkan - mesti dipercayai? 
   
  Fides quarens intelectum, iman mencari pengatahuan, sudah diungkapkan 
berabad2 yang lalu. Ini menunjukkan, selalu ada usaha manusia untuk memahami 
misteri Tuhan, sekalipun tetap ada yang tak terpahami. Rasio dan pikiran 
manusia terbatas, tetapi tidak mengurangi usaha manusia untuk mencoba memahami 
Sang Pencipta. 
  Ada cerita. Thomas Aquinas, hidup di abad pertengahan, adalah seorang teolog 
tersohor, dan karya spektakulernya Summa Theologica masih menjadi referensi 
hingga saat ini. Setelah menulis buku itu, di hari-hari terakhirnya, dia justru 
berniat membakar karya-karyanya itu. Menurut dia, semua yang dia lakukan itu 
sia-sia, karena Tuhan sungguh tak terpahami. 
  Iman manusia selalu dinamis, aktual, dan mesti mengikuti perkembangan yang 
ada. Tetapi, apa saja yang menjadi landasan dinamisasi iman, itulah yang 
seringkali membedakan.
   
  salam,
   
   
  

manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Iman cenderung statis? He he he, Anda ini bicara tentang iman yang 
mana? Imannya siapa? baik ilmu maupun iman, dua-duanya sama-sama dinamis dan 
bisa bertumbuh--jika kita mau membiarkannya bertumbuh. Dikotomi antara iman di 
satu kutub dengan label X dan ilmu di kutub lain dengan label Y sama sekali tak 
bermanfaat untuk dibuat.

Apakah kita akan menolak sains jika ia bertentangan dengan iman kita? Well, 
liat dulu "sains" yang mana? Emangnya yang disebut sains itu tunggal? Apakah 
kalo yang versi Cameron itu pastinya sains dan yang tak setuju dengannya bukan 
sains? Sains mengajarkan kita untuk TIDAK percaya bahkan bila perlu terhadap 
sains sendiri. Ketika satu versi tertentu sains mau diasumsikan sebagai THE 
Truth, maka sains telah kehilangan haikiatnya sendiri; sama seperti ketika iman 
hendak diuniversalkan (alih-alih di-privat-kan), maka dia pun kehilangan esensi 
utamanya sebagai iman.

Semakin terbatas pengetahuan dan referensi kita tentang thesis Cameron, semakin 
mudah bagi kita untuk mengabsolutkan kebenaran yang ditawarkan sebuah sains; 
semakin banyak kita tahu dan membaca, semakin mampu kita melihat gambar 
besarnya, dan semakin mampu pula kita melihat apa persoalan yang dihadapi oleh 
sains ala Cameron. Seperti juga doktrin agama, "doktrin sains" pun juga tak 
sebaiknya diterima begitu saja tanpa discernment.

manneke

Kirim email ke