Lho, mengapa tidak melapor ke polisi. Walaupun mungkin skeptis dengan hasilnya, 
sebaiknya prosedur standard tetap diikuti. Salam buat teman teman pembela HAM  
di seluruh tanah Papua, teruslah berjuang...
   
  Salam, Ignas Iryanto.

Front PEPERA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Tabaos Nusa Ina <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kepada: [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED]
Dari: Tabaos Nusa Ina <[EMAIL PROTECTED]>
Tanggal: Fri, 15 Jun 2007 15:43:45 -0700 (PDT)
Topik: [PEMBEBASAN PAPUA] Komnas HAM Papua Merasa Diteror

KOMPAS
Sabtu, 16 Juni 2007 



Komnas HAM Papua Merasa Diteror 
Albert Diancam Dibunuh
Jakarta, Kompas - Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM 
Perwakilan Papua Albert Rumbekwan beberapa hari terakhir menerima berbagai 
teror. Ini terjadi setelah dia bertemu dengan Wakil Khusus Sekretaris Jenderal 
Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan Pembela HAM Hina Jilani. "Jika melihat isi 
teror dan waktunya, saya yakin ini semua terkait pertemuan saya dengan Hina," 
kata Albert saat dihubungi Kompas dari Jakarta, Jumat (15/6). Albert bertemu 
Hina di sebuah hotel di Jayapura, Papua, pada 8 Juni pukul 20.30. Dalam 
pertemuan yang dimulai sekitar pukul 20.30 itu, dia menceritakan kondisi 
pembela HAM di Papua. Setelah pertemuan itu, Albert tidak mengalami apa-apa. 
Namun, pada 11 Juni tiba-tiba dia mendapat ancaman pembunuhan lewat pesan 
singkat (SMS). Dalam SMS yang dikirim dari nomor 0813440343xx ini, si pengirim 
pesan juga menuding Albert telah menggunakan isu HAM untuk menghancurkan Papua. 
Saat Albert membalas dengan bertanya siapa
pengirim pesan itu, dia justru kembali diteror. Hingga Kamis (14/6) Albert 
masih menerima teror serupa dari nomor yang sama. Bahkan, hari itu sekitar 
pukul 08.00 ada tiga mobil diparkir di dekat kantornya dan penumpangnya 
berteriak-teriak meminta Albert keluar. Karena tidak ditanggapi, penumpang 
mobil itu lalu diam dan pura-pura baca koran. Namun, saat mobil Komnas HAM 
Papua keluar sekitar pukul 16.00, mereka membuntutinya. Pada Kamis lalu Albert 
juga menerima telepon dari nomor ponsel yang sama untuk bertemu di sebuah hotel 
di Papua pada pukul 19.00. Namun, dia tidak memenuhinya. "Setelah menerima 
teror pertama, Senin lalu, saya langsung menceritakan ke Hina dan dia 
melaporkannya ke Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto sehingga saya dikawal," 
kata Albert yang sampai sekarang tetap beraktivitas normal. Wakil Ketua Komnas 
HAM Zoemrotin K Susilo mengaku belum mengetahui pasti tentang teror yang 
dialami Albert. Sementara itu, Ori Rahman dari Komisi untuk
Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menyesalkan teror tersebut 
karena telah mencoreng Indonesia. "Teror itu tidak produktif dari promosi 
penegakan HAM oleh pemerintah, yang dalam hal ini dilakukan dengan mengundang 
Hina," ujarnya. 
Teror serupa diduga tidak hanya dialami Albert. "Mobil yang ditumpangi dua 
anggota Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Papua ditabrak orang tidak dikenal 
di Sentani pada 8 Juni. Peristiwa ini terjadi saat Hina berada di Papua," kata 
Ori. (nwo) 




Copyright © 2002 Harian KOMPAS




         

       
---------------------------------
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke