Ibu Reni,
Memang sangat banyak faktor mengapa seorang perempuan memilih untuk
tidak menikah. Namun pendapat Ibu Reni yang mengatakan ahwa cita-cita
ideal seorang wanita atau lelaki adalah hidup berumah tangga, well,
harus ditanya dulu, ideal menurut siapa? Di Indonesia kita mengenal
pepatah, rambut sama hitam (well, akhir-akhir ini mungkin perlu diralat
karena trend untuk mengecat rambut, huehehehe ...) dalam hati siapa
tahu? Menurut Ibu Reni ideal, bagi orang lain, mana Ibu Reni tahu?
Saya tidak menyalahkan seorang perempuan yang bersedia menjadi istri
kedua, ketiga, atau keberapa saja dari seorang laki-laki, kalau memang
perempuan-perempuan itu bersedia lahir dan batin untuk mengarungi
kehidupan seperti itu. LAHIR DAN BATIN loh. (sekali lagi, dalam batin
siapa tahu???) Only heaven knows dah. Saya abstain saja kalo begitu,
meskipun saya anti poligami, but kalau yang menjalani tidak masalah, ya
go ahead lah. None of my business toh?
Selain itu, kalo kata saya, lebih baik tidak selingkuh dan tidak
poligami lah daripada menyakiti orang lain, apalagi sesama perempuan.
Seperti tatkala saya membaca salah satu blog teman saya di multiply
(http://wangitanahbasah.multiply.com/journal/item/61)
si ibu berjilbab di sebelah Rika—yang ternyata mendengarkan kami
dari tadi—langsung mengeluarkan hantaman bernada tinggi, "Eh,
sekarang Ibu tanya, deh.... Mendingan mana kamu dipoligami, atau jadi
istri satu-satunya di rumah, tapi `jajanan' suami di mana-mana?
Mana yang lebih menjijikkan?"
"Laki-lakinya yang menjijikkan," mulut besar Rika spontan
bereaksi tanpa bisa di-rem.
Betul itu, si laki-laki yang menjijikkan!!! hahahaha ...
Saya masih ingat tulisan Ayu Utami di bukunya SI PARASIT LAJANG,
mengenai alasan seorang laki-laki yang berpoligami, "karena takut
menyakiti Tuhan jikalau terlibat selingkuh," kata Ayu, "Tuhan itu Maha
Perkasa, mengapa laki-laki itu lebih memilih menyakiti hati istrinya
yang jelas-jelas tidak maha perkasa?"
Kata saya Tuhan itu Maha TIDAK MAMPU DISAKITI, mengapa laki-laki
itu--bisa dibaca Bambang--lebih memilih menyakiti hati Halimah, dan juga
anak-anaknya daripada menyakiti Tuhan?
Btw, saya tidak mengomentari masalah Halimah-Bambang-Mayang kok. That's
none of my business. Saya cuma tergelitik dengan pernyataan Ibu Reni
tempo hari tentang jumlah perempuan yang 70% dan laki-laki 30% sehingga
seyogyanyalah poligami diterima. Kenyataannya kan jumlah perbandingan
laki-laki dan perempuan tidak begitu? (saya sudah mencari artikel saya
di blog tentang tulisan itu, tentang jumlah perbandingan yang sebenarnya
yang saya dapatkan dari milis perempuan barangkali, yang juga dimuat di
Jurnal Perempuan, tapi belum saya temukan.)
Di zaman ini Ibu Reni, kita ga bakal tahu apa yang bercokol di pikiran
manusia, yang saya yakin belum tentu seide dengan Ibu Reni.

Salam,
Nana

--- In [email protected], reni renata
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Banyak faktor yang menyebabkan seorang wanita tidak menikah. Kalaupun
jumlah lelaki jauh lebih banyak dari wanita, mungkin saja ada wanita
yang tidak menikah. Menikah itu bukan karena satu lelaki dan satu wanita
bertemu terus pasti menikah. Faktor kesesuaian berperan penting. Tapi
yang perlu disadari cita-cita ideal seorang wanita atau lelaki adalah
hidup berumah tangga ya gak?
> Kalau kenyataannya ada  wanita yang tidak menikah ya mungkin salah
satunya seandainya jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki dan semua
lelaki tidak mau beristri lebih dari satu.(ini hanya salah satu faktor).
Ini hanya logika saja. Saya belum survey di kampus lain selain kampus
saya, mungkin saja berbeda komposisinya. Kita berfikir positive saja
seandainya ada pria baik-baik dengan tujuan yang mulia mengawini
perempuan ebih dari satu dan lelaki itu memng mampu untuk membahagiakan
kedua istrinya saya setuju saja. Nenek kawan saya adalah istri pertama
dari dua istri yang hidup berbahagia sampai akhir hayat  bertiga dengan
suaminya. Jadi tergantung kitanya mau bagaiman. Kenyataanya sekarang
banyak perselingkuhan dilakukan oleh suami apakah anda lebih
menghalalkan perselingkuhan dari pada poligami? Menurut saya Bambang dan
Mayang itu saling mencintai dan mereka mewujudkan dalam sebuah
perkawinan.  Apa salahnya? dari pada berzina? yang namanya cinta datang
kapan saja di usia
>  tua ataupun muda... kepada siapa cinta itu mau dijatuhkan....  apakah
kita mampu mengungkung gejolak hati seseorang?
> Salam
> Ibu reni
>
> ----- Original Message ----
> From: Nana P [EMAIL PROTECTED]
> To: FPK Kompas [email protected]
> Cc: Perempuan [EMAIL PROTECTED]; Rumahkitabersama
[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Saturday, June 16, 2007 7:32:37 PM
> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Perempuan penggoda???
>
> Bu Reni,
> Beberapa tahun lalu terdengar kabar bahwa statistik menunjukkan jumlah
perempuan di Indonesia mencapai sekitar 70% sedangkan laki-laki sekitar
30%. Namun ternyata kemudian diketahui bahwa jumlah perempuan HANYA 51%
sedangkan laki-laki 49%. Dan berdasarkan statistik (lupa nih data
akuratnya, tapi yang pasti aku membaca di salah satu terbitan Jurnal
Perempuan), perempuan mampu mencapai usia yang lebih lama dalam hidup
ini sedangkan laki-laki relatif mati dalam usia yang lebih muda. Dari
data ini kita bisa menyimpulkan bahwa di usia yang relatif lebih muda,
jumlah perempuan lebih rendah dibanding laki-laki.
> Talking about AnDanTu, what is wrong with that? Kalau memang seorang
perempuan merasa lebih nyaman hidup single, sehingga tidak perlu merasa
menjadi "properti" (apalagi menjadi "properti" seorang lelaki hidung
belang), bukankah itu jauh lebih indah? Sehingga dia tidak perlu selalu
merasa dirundung duka karena dianggap kesepian, perempuan tidak laku,
dan sederet 'nickname' yang bikin gerah telinga, sehingga dia tidak
perlu berusaha untuk merebut suami orang hanya untuk mengubah 'old-maid
tag' menjadi 'a married woman'?
> Mengenai jumlah mahasiswa dan mahasiswi di satu kampus, oh well,
apakah itu berlaku untuk semua kampus? Saya kuliah di English Department
dan American Studies, yang mungkin dianggap lebih feminin, sehingga
jumlah mahasiswi lebih banyak. Tapi apakah hal tersebut juga berlaku di
fakultas-fakultas yang dianggap maskulin, semacam Teknik?
> Beberapa minggu yang lalu saya iseng bertanya kepada siswa-siswi saya
berapa jumlah siswa dan siswi di kelas masing-masing. Kebetulan
kebanyakan dari siswa-siswi di kelas saya itu (I am an English teacher
working for an English Course) bersekolah di SMA N 3 Semarang, sekolah
negeri yang paling favorit di Semarang. Ketika mendapati bahwa lebih
banyak jumlah perempuan yang bersekolah di situ, analisis saya bukan
sekedar jumlah perempuan lebih banyak, FULL STOP. Melainkan "Berarti
lebih banyak perempuan cerdas yang diterima di SMA N 3." Di
sekolah-sekolah lain bisa jadi jumlah laki-laki lebih banyak dibanding
perempuan. "
> Anyway, gosip yang mengatakan bahwa jumlah perempuan lebih banyak
dibandingkan jumlah laki-laki dan kemudian ini dijadikan salah satu
alasan mengapa poligami lebih mudah diterima bukanlah alasan yang cerdas
menurut saya.
> I am really sorry to say that.
>
> Salam,
> Nana
>



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke