Mungkin perlu direnungkan kalau masih ada yang mau memikrikan saudarinya, seperti email seorang perempuan dibawah ini
---------- Forwarded message ---------- From: cahaya ......<[EMAIL PROTECTED]> Date: Jun 30, 2007 9:39 PM Subject: Aku dan Poligami Aku dan Poligami Kalau tiga tahun lagi dia belum juga nikah, aku suruh saja suamiku menikahinya... Ide itu tiba-tiba muncul dalam otakku. Aku tengah berfikir, bagaimana cara mencarikan jodoh buat sahabatku. Di usianya yang menjelang 27 tahun sahabatku itu belum juga mendapatkan belahan jiwanya, sedang adik perempuannya hanya tinggal menghitung hari menanti saat-saat dirinya berubah status menjadi seorang isteri. Padahal, apa sih yang kurang dari sahabatku itu? Sholehah, cantik, peduli sesama, perhatian, dan pandai membuat kue... Walau ada juga kekurangannya yang kadang membuatku harus mengurut dada, tapi itu wajarkan? Sebab tak ada manusia yang sempurna. Pernah ia hampir menikah, tapi pada detik-detik menjelang pernikahan ia dengan berat hati dan kepiluan yang mendalam memutuskan membatalkan pernikahan. Alasannya jelas, aku yakin wanita manapun akan melakukan hal yang sama bila menjadi dirinya. Sebagai seorang yang merasa menjadi sahabatnya, aku terpanggil untuk menjodohkannya. Tapi ternyata tidak mudah! Sejak menikah aku hanya mengenal satu ikhwan yaitu suamiku, jadi ikhwan mana yang akan aku jodohkan dengan sahabatku? Kawan suami hanya dua orang yang masih lajang. Satu orang tunduk pada jodoh yang ditentukan Sang Mami, satu orang lagi sudah punya calon isteri. Jadi, siapa...?! Tiba-tiba muncul ide (gila?) itu, menjodohkannya dengan suamiku sendiri! Bukan tanpa alasan. Sahabatku itu memiliki ketahanan yang tinggi dalam menghadapi masalah yang menerpanya, pernikahan yang batal dan adik perempuan yang akan melangkahinya. Namun begitu, keyakinannya bahwa Allah Ar-rahman Ar-rahim tak bergeser sedikitpun! Jika aku adalah dia, mungkin aku akan mengeluh dan mengeluh. Atau aku akan menerima siapapun dia yang mau menikahiku. Seperti yang dilakukan oleh seorang temanku yang lain. Karena akan dilangkahi sang adik, tanpa fikir panjang dia menerima saja lamaran seorang ikhwan. Ternyata baru seminggu usia pernikahannya hanya konflik, konflik dan konflik yang terjadi. Sahabatku dengan tegas mengatakan, "Aku gak akan menikah hanya karena takut dilangkahi adik. Aku gak akan nikah karena takut dimakan usia. Aku hanya akan menikah karena Allah!". Subhanallah, berbahagialah laki-laki yang kelak menikahinya, karena sahabatku hanya semata menikahinya karena Allah! Sekali lagi, karena Allah!! Hahh...aku jadi bertanya-tanya, "Wahai ikhwan! kemana saja sih kalian?? Kok gak tahu ada mutiara terindah di sini??". Ketegasan akan prinsip sahabatku membuat aku berdecak kagum, tapi juga lantas berfikir... Sampai kapan ia akan tetap istiqomah pada prinsipnya, sampai kapan ia akan tetap bersabar menanti jodoh. Dua tahun? Tiga tahun? Bagaimana bila umurnya telah menginjak kepala tiga, atau kepala empat, masih sabar dan istiqomah kah? Aku pernah mendengar cerita, seorang akhwat aktifis dakwah. Di usianya yang telah kepala tiga belum juga mendapatkan jodoh, kecewa, marah, dan putus asa pada takdir Allah. Dia kemudian melepaskan diri dari dakwah, juga melepas jilbabnya! Masya Allah! Jangan sampai itu terjadi pada sahabatku! Karena itulah, ide itu muncul. Tiga tahun lagi sahabatku berusia 30 tahun. Bila dia belum juga menikah, sebelum kesabarannya pupus, sebelum ia menjadi kufur, dan sebelum ia putus asa, aku akan meminangnya untuk suamiku... Tetapi...siapkah aku?? "Mas mau gak nikah lagi...?". Tanyaku pada suami dan dijawabnya dengan tegas, "Tidak". "Kenapa gak mau...?", kejarku. Ku ungkapkan gambaran manisnya poligami. "Karena mas udah punya adek!". Jujur, aku bahagia mendengarnya. Dan kebahagiaan akan ucapan suamiku, bahwa aku akan menjadi satu-satunya istri yang akan mendampinginya membuatku bertambah tidak yakin, siapkah aku?? "Sekarang mas bilang gak mau, tapi nanti sepuluh tahun lagi atau kalo adek udah tua, keriput, lemak disana sini, mas masih bilang gak mau...?" Tanyaku dengan gaya lawakan. Jawaban suamiku tetap sama, "Tidak". Pertanyaanku pada suami bukanlah sebuah bentuk kecemburuan, tapi sebuah pengakuanku pada realita. Di luar sana, tak ada yang tahu. Cinta bisa hadir tiba-tiba, baik pada lelaki yang belum menikah maupun yang telah menikah. Di luar sana juga, masih banyak wanita-wanita taat yang tengah gelisah menunggu laki-laki sholeh untuk menikahinya, sedangkan bisikan syetan terus mengikuti langkah mereka, mengajak pada perzinahan atau ingkar pada Robb mereka. Maka, daripada terus menerus curiga pada suami, daripada meragukan kesetiaan dan cinta suami, tak ada salahnya bila kita mulai bersiap dari sekarang untuk tiga, lima, sepuluh, dua puluh tahun ke depan, memupuk keikhlasan bila poligami harus terjadi... Di penghujung Juni, 2007 Saat gelisah, para akhwat banyak yang belum menikah.
