Oleh Johan Silas
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/19/opini/3618790.htm
====================

Lokakarya semburan lumpur panas Lapindo, "Belajar dari Bencana
Non-Alam" di Flinders University, Australia, Juni lalu, bukan yang
pertama dan niscaya bukan yang terakhir.

Pertemuan sejenis pernah diadakan Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT), menghadirkan pakar berbagai penjuru dunia. Di sini
pertemuan dicurigai menyimpan kepentingan tersembunyi, sedang di luar
negeri pertemuan diharap obyektif tanpa prasangka. Lokakarya di
Flinders menyimpulkan semburan lumpur Lapindo unik dan mungkin akan
berlangsung lama. Agar penyelesaian bisa profesional dan bebas
kepentingan, swasta dan pemerintah jangan terlibat kecuali menyandang
dana.

Pada peringatan satu tahun semburan lumpur, tanpa komando media di
Tanah Air menurunkan berita drama parah itu. Riuh drama lumpur
dikentalkan berita drama pelor, menewaskan beberapa orang.

Memang ada kopral hingga jenderal yang dipecat. Ini kontras dengan
sanjungan yang diberikan kepada Marinir saat mereka memulihkan situasi
akibat tsunami di Calang dan Krueng Sabee, Aceh Jaya.

Pemerintahan yang lemah

Empat dasawarsa silam (1968) peraih Nobel, Gunnar Myrdal, menyajikan
karya agung Asian Drama, an Inquiry Into the Poverty of nations. Ini
kajian kemiskinan di Asia Selatan karena pembangunan yang tersendat,
termasuk di Indonesia serta tetangganya. Hasil simpulan terkait
pemerintahan lemah (soft state), seperti lumpur? Makin lama kenegaraan
lemah makin sulit berubah menuju masyarakat sejahtera.

Prestasi The Asian Miracle sepuluh tahun silam tidak seluruhnya benar
dan berlanjut. Ada negara yang bertahan karena mampu beralih soft
menjadi solid state. Sebelum itu Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan
sudah tergolong negara maju.

Menurut kajian Asian Drama, kenegaraan lunak berciri disiplin rendah,
kepercayaan irasional dan takhayul, tak memiliki kesiagaan dan ambisi,
kesiapan bereksperimen dan berubah yang kerdil, puas dengan pekerjaan
manual, tunduk pada otoritas dan mengeksploitasi orang lain, serta
banyak ciri negatif lainnya.

Bila Myrdal kini ada, korupsi dan pemerintahan kurang bertanggung
jawab akan ditambahkan sebagai ciri laten penting. Berapa jauhkah
Indonesia sudah meninggalkan Asian Drama? Bila Asian Miracle tidak
disusul Asian Crisis, ceritanya berbeda. Jejak Asian Drama dan Asian
Crisis tampak pada ketidakbecusan penyelesaian lumpur Lapindo di
Sidoarjo dan penembakan di Pasuruan.

Temuan Asian Drama perlu dipadu dengan The Sane Alternative (1978)
karya James Robertson. Menurut dia, krisis dihadapi dengan empat
reaksi: masa bodoh (business as usual) karena masa depan (masih) sama
dengan masa kini. Bersikap bencana (disaster) bila sudah tak ada
alternatif yang dapat dipilih seperti pada perang nuklir atau bencana
dahsyat. Reaksi lain adalah pasrah pada pemerintah (totalitarian
conservationist), sebab pemerintah dianggap serba bisa dan tahu. Ada
reaksi hyper-expansionist yang tergantung pada kemajuan industri
seperti di negara barat, terutama memanfaatkan sains dan teknologi.
Roberson menganggap keempat reaksi itu tidak efektif.

Adat dan tradisi lokal

Ditawarkan alternatif kelima; Sane, Humane and Ecological (SHE) yang
juga ada pada adat dan tradisi lokal. Semua orang dibekali otak, namun
tidak semua berpikiran waras, manusiawi, dan alami. Cara berpikir
waras tidak tergantung restu atau persetujuan atasan, tetapi mampu
mengandalkan pengetahuan, pengalaman dan standar moral yang tinggi.
Perlu kearifan utuh, imbang, dan serasi dalam menalar dan menyikapi
masalah.

Aspek manusiawi mudah diucapkan dan berhenti saat liur kering.
Penderitaan drama lumpur dan pelor jauh dari nilai kemanusiaan hakiki.

Bersifat ecological juga mudah dinyatakan, namun tidak pernah
dilaksanakan serius. Badan yang menangani semburan lumpur Lapindo tak
menyertakan pejabat lingkungan hidup dalam timnya.

Apakah masalah lingkungan bersifat nanti-nanti saja atau khawatir
menghambat kelancaran kerja? Masyarakat adat menikmati hubungan baik
dengan alam dan lingkungan. Modernisasi dengan ilmu pengetahuan sering
mengkhianati persahabatan yang menjadi buruk. Alam dieksploitasi tanpa
batas sehingga hubungan saling menghargai hilang.

Keadaan kian parah saat ekonomi didukung politik. Drama lumpur tidak
lain adalah dominasi ekonomi yang meniadakan eksistensi alam dan
manusia. Drama pelor, cermin konspirasi politik dan ekonomi yang kuat
dengan menindas kemanusiaan.

Menghadapi bencana alam, hanya ada dua pilihan penyelesaian, yaitu
bisa dikendalikan atau serahkan kepada alam. Untuk Sidoarjo, coba
dikendalikan dan dikuasai. Anggapannya, semburan bersifat sementara
dan terbatas. Ternyata akumulasi lumpur luar biasa banyak di daerah
padat penduduk dan memorak-porandakan ekonomi. Kini, jutaan meter
kubik lumpur siap menenggalamkan siapa dan apa saja. Sebanyak 20.000
orang harus mengungsi, 5.000 terkena pemutusan hubungan kerja. Ekonomi
Jawa Timur mengempis 30 persen. Kapan kita belajar dari karya "tua" itu?

Johan Silas Guru Besar Emeritus Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS) Surabaya 

Kirim email ke