Saya kok kurang percaya kalau PT KAI penuh dengan oknum tidak bertanggung 
jawab, dulu Perumka....dulu lagi PJKA....doeloe nya PNKA...lebih doeloe lagi 
DKA......doeloenya SS, karena pada jaman ontran ontran dulu......perusahaan 
inilah yang paling bersih dan isinya orang yang paling bertanggung jawab.
  Setiap kesalahan di sepotong jalur rel saja, maka jadwal perjalanan kereta 
api secara keseluruhan akan terganggu........jarum jam di setasiun kereta api 
adalah yang paling dipercaya untuk mencocokan jarum jam seisi 
kota.......referensi tinggi muka tanah (+ 5.78M misalnya) ada di setasiun 
kereta api........referensi jam berangkat ke kantor atau ke sekolah adalah 
lewatnya sebuah rangkaian kereta api. 
  Atau sekarang sudah berubah.......karena terjajah selama satu generasi dengan 
diktator fulus? Semua diukur dengar duit. Semoga tidak.
  Sallam, 

Endiarto Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Wah saya pikir sih otak orang Indonesia/ pegawai KA mampulah 
menangani Kereta Api saja. Banyak faktor lain yang membuat Perumka (d/h PJKA) 
jadi ruwet. Misalnya, cobalah Pak Wal tanya berapa gaji seorang Kepala Stasiun 
di distrik seperti Sumpiuh (Jateng) ataupun Peterongan (Jombang/ Jatim). 
Masalah gaji kan berpengaruh juga tuh Pak.

Namun, jika Pak Wal lebih berpendapat bahwa otak para pegawai Perumka tidak 
nyampai, ini tentu berpulang pada Perumka sendiri. Mengapa tidak merekrut 
orang-orang Indonesia yang pintar?

Salam,

Kirim email ke