Rekan-rekan FPK,

Mungkin perlu diluruskan terlebih dahulu mengenai data bahwa AS akan
menutup reaktor nuklirnya. Reaktor nuklir di AS mempunyai license
(surat ijin) operasi selama 40 tahun. Rata-rata saat ini reaktor
nuklir di AS telah beroperasi selama 24 tahun. Jadi wajar-wajar saja
kalau mau ditutup, karena memang sudah waktunya tutup. Gedung-gedung
yang sudah terlalu tua saja di AS diledakkan untuk dibangun dengan
yang lebih baru. Demikian juga dengan reaktor nuklir, yang lama
ditutup, yang baru akan dibangun. Negara-negara bagian di AS yang
akan menambah reaktor nuklir baru adalah Alabama dan Tennessee.
Berita lengkapnya bisa dilihat di:
http://www.eia.doe.gov/cneaf/nuclear/page/at_a_glance/states/statesal
.html

Btw, jumlah reaktor nuklir di AS saat ini 104 (bukan 110). Yang
menarik beberapa di antaranya berlokasi di negara bagian California
yang rawan gempa. Peta reaktor nuklir di AS bisa dilihat di:
http://www.nrc.gov/reactors/operating/map-power-reactors.html

Penutupan reaktor-reaktor nuklir di Jerman dan Swedia lebih
dikarenakan masalah teknis. Pemanasan Global telah menyebabkan
kekeringan di kedua negara tersebut yang menyebabkan terganggunya
suplai air sebagai pendingin pada reaktor nuklir. Jadi yang ditutup
adalah reaktor-reaktor nuklir (teknologi lama) yang membutuhkan
banyak air untuk pendinginan.

Sebenarnya sudah muncul teknologi baru reaktor nuklir yang lebih
efisien air untuk pendinginnya tapi para investornya masih ragu
dengan komitmen pemerintah negara-negara Eropa dalam program
pengurangan EMISI GAS RUMAH KACA (penyebab pemanasan global).

Jadi bukan karena mereka tidak mau pakai nuklir lagi tapi
pembangunan reaktor nuklir baru membutuhkan dana yang besar dan hal
ini membutuhkan komitmen pemerintah negara-negara Eropa. Apakah
mereka bersedia mengeluarkan biaya lebih besar untuk pembangunan
reaktor nuklir teknologi baru (yang lebih efisien) atau meneruskan
status quo dalam memakai bahan bakar fosil.

Berita lengkapnya bisa dilihat di:
http://www.csmonitor.com/2006/0810/p04s01-woeu.html

Kembali ke Indonesia, apakah PLTN Gunung Muria kekurangan pasokan
air? Kalau ya, gunakan saja teknologi baru PLTN yang efisien air.

Mungkin ilustrasi berikut bisa membantu rekan-rekan dalam memahami
mengapa kita TERPAKSA harus memakai energi nuklir:

Bila Anda mempunyai pohon pepaya di kebun Anda, tentunya Anda
berusaha memetik buah pepaya yang telah matang tapi tentunya memetik
terlebih dahulu yang mudah dijangkau (tidak terlalu tinggi). Ketika
buah-buah pepaya yang ada dalam jangkauan tersebut sudah habis, mau
tidak mau Anda harus mengambil buah pepaya yang lebih tinggi bahkan
kalau perlu memanjat lebih tinggi. RESIKO kalau jatuh juga lebih
fatal, tapi tetap saja Anda akan ambil resiko itu apabila Anda
KELAPARAN.

Bahan bakar fosil (terutama minyak) selain menyebabkan PEMANASAN
GLOBAL juga merupakan buah-buah pepaya yang ada dalam jangkauan kita
saat ini tapi jumlahnya mulai menipis. Mau tidak mau kita harus
mengambil buah-buah pepaya yang lebih tinggi (energi nuklir) apabila
kita tidak ingin kelaparan (krisis energi). RESIKO tetap ada
meskipun bisa diminimalisir.

Mana yang Anda pilih : KRISIS ENERGI/TARIF LISTRIK MAHAL/LISTRIK
BYARPET/ANTRI MINYAK TANAH/ANTRI MINYAK GORENG atau RESIKO?

To be or not to be: that is the question

Best Regards,
Rudyanto

--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Nuklir Bukan Alternatif Bagi Rakyat
>
> Sejak tahun 70-an, pemerintah terus ngotot untuk membangun
Pembangkit
> Listrik Tenaga Listrik (PLTN). Tahun 1998, rencana pembangunan
PLTN di
> Muria gagal akibat krisis ekonomi. Alasan krisis energi listrik
terus
> dijadikan alasan oleh pemerintah untuk mempromosikan PLTN.
>
> Rencana pemerintah untuk membangun PLTN dapat dikatakan sebagai
langkah
> mundur dalam pemilihan energi alternatif. Sebab, ketika di
beberapa negara
> yang selama ini menggunakan tenaga nuklir berkeinginan menutup
reaktor
> nuklirnya, justru pemerintah Indonesia baru berencana membangunnya.
>
> Amerika Serikat yag memiliki 110 buah reaktor nuklir atau 25,4%
dari total
> seluruh reaktor yang ada di dunia, akan menutup 103 reaktor
nuklirnya.
> Demikian halnya dengan Jerman, negara industri besar ini, juga
berencana
> menutup 19 reaktor nuklirnya. Penutupan pertama dilakukan pada
tahun 2002
> kemarin, sedang PLTN terakhir akan ditutup pada tahun 2021.
Keadaan lain
> juga terjadi di Swedia, yang menutup seluruh PLTN-nya yang
berjumlah 12,
> mulai tahun 1995. Sampai negara tersebut bebas dari PLTN pada
tahun 2010
> mendatang.
>
> Sejarah PLTN di Indonesia
>
> Proses rencana pembangunan PLTN di Indonesia cukup panjang. Tahun
1972,
> telah dimulai pembahasan awal dengan membentuk Komisi Persiapan
> Pembangunan PLTN. Komisi ini kemudian melakukan pemilihan lokasi
dan tahun
> 1975 terpilih 14 lokasi potensial, 5 di antaranya terletak di Jawa
Tengah.
> Lokasi tersebut diteliti BATAN bekerjasama dengan NIRA dari
Italia. Dari
> keempat belas lokasi tersebut, 11 lokasi di pantai utara dan 3
lokasi di
> pantai selatan.
>
> Pada Desember 1989, Badan Koordinasi Energi Nasional (BAKOREN)
memutuskan
> agar BATAN melaksanakan studi kelayakan dan terpilihlah NewJec
(New Japan
> Enginereering Consoltan Inc) untuk melaksanakan studi tapak dan
studi
> kelayakan selama 4,5 tahun, terhitung sejak Desember 1991 sampai
> pertengahan 1996.
>
> Pada 30 Desember 1993, NewJec menyerahkan dokumen Feasibility
Study Report
>  (FSR) dan Prelimintary Site Data Report ke BATAN. Rekomendasi
NewJec
> adalah untuk bidang studi non-tapak, secara ekonomis, PLTN
kompetitif dan
> dapat dioperasikan pada jaringan listrik Jawa – Bali di awal tahun
> 2000-an. Tipe PLTN direkomendasikan berskala menengah, dengan
calon tapak
> di Ujung Lemahabang,  Grenggengan, dan Ujungwatu.
>
>
> Menarik Pelajaran dari Kasus Pencemaran/Kerusakan Lingkungan yang
ada
>
> Dari kasus pencemaran Lingkungan yang dilakukan oleh Newmont,
Pemerintah
> melalui Dept ESDM dan KLH terbukti tidak mampu menjalankan peran
> pengawasan yang efektif. Selalu ada toleransi dari pemerintah bagi
> korporasi yang telah/berpotensi melakukan pencemaran, seperti
pembuangan
> tailing ke laut yang tidak memenuhi kedalaman yang aman. Rakyat
jelas
> telah menjadi korban, namun perusahaan tersebut dibebaskan dari
hukum
> (dibebaskan oleh PN Manado dan Kompromi KLH dengan Newmont dalam
proses PN
> Jakarta Selatan). Justru Departemen ESDM bersama dengan Newmont
sekarang
> balik menggugat organisasi lingkungan, dan penjatuhan hukuman
terhadap
> Direktur Perkumpulan Kelola Rignolda J. membayar sebesar US $ 750
ribu
> (Keputusan PN Manado Agustus 2005).
>
> Kasus Lumpur Lapindo, sampai sekarang tidak terlihat ketegasan
pemerintah
> terhadap perusahaan Lapindo yang nyata telah merusak lingkungan.
Justru
> ITS yang lebih tegas dengan memberikan saknsi kepada mahasiswanya
yang
> melakukan aksi terkait dengan aksi mereka menuntut
pertanggungjawaban
> pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab dalam kasus lumpur
Lapindo.
> Ironis...
>
>
> Pius Tumangger

Kirim email ke