Ya memang, para penggagas perlunya PLTN kok seperti engga bisa ngaca. Nyumbat kebocoran lumpur lapindo brantas saja engga bisa, apalagi entar nyumbat tabung baja reaktor PLTN yang bocor, yang konon lebih dahsyat lagi akibatnya.
Apalagi menurut orang di BPPT hingga tahun 2025 nanti bila memang mulai dibangun 2016, dana investasinya mencapai 800 trilyun... kok bangga bener dengan angka seperti itu. dana BLBI saja yang raib 600 trilyun sudah bikin ekonomi negeri ini hancur... jadi dont worry.... PLTN objektif enggak bakalan jadi dibangun kok.... salam, Sulaeman Herisuwendi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Tidak ada negara terutama yang padat populasi yang jelas-jelas butuh banyak energy untuk aktivitas kehidupan sehari-hari telah menutup semua reaktor nuklirnya, yang ada adalah mengurangi. Kata kuncinya disini adalah bagi negara yang sudah punya dan menguasi teknologi nuklir membuka dan menutup reaktor nuklirnya adalah ibarat membuka dan menutup keran minyak bumi yang dari sumur-sumur minyak. Kalau quota dan supply minyak untuk kebutuhan negara pada suatu saat mencukupi maka anda tinggal memilih saja sumur mana yang akan anda kurangi produksinya atau di nonaktifkan. Satu saat ada krisis energy dan energy sumber lain belum cukup ekonomis untuk dimanfaatkan dlm rskala besar, maka reaktor nuklir itu tinggal dibuka lagi atau malah kalau perlu ditambah sekian buah. Ini berarti energy nuklir telah menjadi alternatif beneran bagi mereka, bukan sekedar dalam benak. Kalau kita fikir Amerika, Rusia dan Cina itu kurang apa dari segi kemampuan mengolah sumber energy alternatif dibanding dengan kita? Kok mereka masih mau mencoba membuat reaktor nuklir? Disini bisa dipahami karena mereka ingin membuat segala alternatif energy menjadi alternatif yang bener-bener bisa wujud ditangan mereka. Masalah apakah energy nuklir itu akan dipakai menjadi sumber supply energy utama untuk negara pada saat sekarang, itu tergantung keadaaan saja. Sama seoperti kalau anda punya pabrik beca, sepeda, motor dan mobil. Nah anda tinggal memutuskan apa mau menyetop produksi mobil untukkembali ke beca dan sepeda yang sehat ramah lingkungan atau mungkin memberi komposisi yang sesuai untuk setiap jenis produk.The choice is yours. Nah, apa yang mau dipilih kalau kita buat pabrik mobil pun tidak punya, pabrik sepeda pun tidak cukup??? Faktor kematian terbesar di dunia adalah karena serangan jantung/kolesterol, merokok dll, bukan karena radiasi nuklir. Itu berarti meskipun nuklir mematikan tapi masih bisa dikontrol lebih gampang dari mengontorl bahaya rokok. Selalu menyinggung-nyinggung kasus kebocoran nuklir Sovyet (Chernobyl?) adalah tidak fair. Karena pada waktu itu Sovyet sangat tertutup terhadap dunia. Mereka tidak mengijinkan lembaga pengawasan atom internasional atau apapun namanya mengaudit reaktor dan manajemennya. Tentu Indonesia kalau pun punya PLTN harus dipastikan mendapat pengawasan lembaga internasional yang punya otoritas dan kepakaran dibidang ini. Yang mesti diingat adalah besok lusa tidak ada negara yang akan baik hati sedekah membagi gratis tenaga listrik atau energy apapun namanya ke negara lain kalau satu saat ada krisis energy. Jadi kita tidak perlu menutup diri untuk belajar menguasai teknology pengolahan energy apapun bentuknya (nuklir hanya salah satunya). SH
