hehehee... nggak setuju boleh2 aja kok. 
tapi begini mbak,
1. ketika polisi merencanakan untuk menagkap teroris, maka setmind mereka 
adalah menangkap orang yg sangat berbahaya. menangkap orang yg sangat berbahaya 
tentu harus memperhitungkan kemungkinan terburuk. 
2. ketika seorang teroris jongkok, tentu polisi tidak bisa menganggap teroris 
tersebut posisinya sudah lemah. jongkon itu bisa berarti siap2 ambil pistol yg 
terselip di bagian tubuh, misalnya. dan kemungkinan itu harus diperhitungkan. 
maka ditembak kakinya adalah sebuah tindakan yg sangat manusiawi. itu adalah 
seringan2nya sebuah serangan, apalagi bagi teroris. 

jadi jangan menganggap seorang teroris yg jongkok itu diartikan dalam posisi 
lemah. seandainya yg terjadi adalah ketika teroris jongkok terus polisi tidak 
melakukan tembakan, apa yg terjadi jika ternyata teroris bawa senjata dan 
kemudian sambil jongkok itu dia bisa menembak polisi? pasti orang akan 
mentertawakan kebodohan sang polisi. mungkin juga anda. bahkan atasan bisa jadi 
menjatuhkan hukuman. karena untuk mengetahui keberadaannya saja setengah mati, 
kok begitu ketemu diperlakukan dg sembrono.

jadi maaf, menganggap seorang teroris jongkok sbg dalam posisi lemah adalah 
sebauh tindakan gegabah. 

----- Original Message ----
From: yanti malik <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 20, 2007 6:39:03 PM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Anomali terhadap Terorisme









  


    
            saya sih kurang setuju dengan cara seperti itu...bukannya tidak 
bersyukur bahwa salah satu gembong teroris (apabila terbukti) tertangkap. Itu 
suatu hasil yang sangat menggembirakan. Tetapi jangan karena dia seorang 
gembong teroris, trus polisi melakukan penangkapan dengan cara sembarangan. 
Seorang manusia sudah jongkok koq ditembak dari jarak dekat? Tunjukkan dong 
bahwa polisi kita adalah polisi yang punya kelas, bukan kumpulan orang2 yang 
hanya mengumbar kekuatan kepada orang lain yang posisinya lebih/sudah lemah.

Kirim email ke