Dear mbak Mariana & mbak Reni Saya sependapat dengan mbak Mariana, pilihan hidup itu bukan hanya menikah, punya anak, nanti ditanya lagi kok ngga nambah, nanti kalo kebanyakan di marahin juga kok ngga liat-liat kondisi...he..he.. Secara ngga sadar kita suka dibebani oleh tuntutan orang, kemauan orang. Saya punya atasan (dulu..) memutuskan tidak menikah, orang suka bergunjing beliau terlalu pemilih...ya iyalah masa mau cari suami ngga milih-milih....beli sepatu aja milih kok..ngga asal pas. Beliau happy-happy aja tuh, malah banyak yang beliau syukuri dari ketidak menikahannya, salah satunya tidak punya anak karena tidak mau menjadi beban buat anak. Saya juga teramat sangat tidak setuju jika tujuan punya anak adalah untuk merawat kita kelak jika sudah tua. Kasian sekali nasib anak tersebut, sudah tidak pernah minta dilahirkan, eh begitu lahir sudah dikasih tanggungjawab yang amat sangat berat bahwa dia kelak harus mengurus orangtuanya. Belum kewajiban-kewajiban lainnya. Salah satunya menjadi anak yang manis, gimana kalau engga? apa mau kita cancel keberadaannya? Sepertinya paradigma setelah kita dewasa harus menunggu dilamar (he..he..cinderella complex banget..) terus menikah, terus beranak pinak, de es te...harus dirubah. Kita mau menikah, karena itu pilihan kita dengan berjuta alasan, tapi yang utama adalah sudah siap mental dan bertanggungjawab atas kehidupan yang kita pilih. Mempunyai anak baik satu atau dua atau dua lusin, juga merupakan pilihan dan tanggungjawab kita, yang ini menurut saya lebih berat dari perkawinan, karena anak merupakan tanggungjawab yang besar dengan sejuta hak, hak untuk hidup layak, hak untuk belajar, hak untuk menentukan masa depannya sendiri, termasuk pilihan hidupnya. Bukan hanya sekedar dibrojolin kedunia trus dikatakan nanti juga punya rejeki sendiri...atau malah dikaryakan. Ada satu tradisi di suku Batak....maaf SARA...yang amat sangat saya kagumi (walaupun saya bukan orang Batak...)contohnya seperti ini: "Jika orang tua saya menyekolahkan saya sampai S1, maka saya punya kewajiban menyekolahkan anak saya lebih dari orangtua saya". Jadi bukan "jika kamu saya sekolahkan kamu nanti harus mengurus saya dari hasil sekolah kamu". Kewajiban saya hanya terhadap penerus saya. Berat ya.... Maaf kalo kepanjangan.
Salam --wenny-- --- In [email protected], Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > IYa, Ibu REni. Tetapi kenyataannya ada kan? Walau sedikit sekali > jumlahnya, tetapi harus diakui juga. > > Memang Ibu Reni tidak salah-salah banget, cuma ingin menekankan, > mereka yang memilih single tidak bohong, dan tidak semua insan mendambakan > perkawinan. Malah sebaliknya, banyak orang menikah karena tuntutan > masyarakat, orang tua, dan kemauannya sendiri. > > Jujur saja, saya sendiri memilih untuk tidak punya anak (sementara > ini)meskipun alat reproduksi saya subur (menstruasi teratur). > Jadi tidak semua juga mendambakan anak. > > Karena Ibu Reni menulis seperti ini: > > Jujur > > sajalah..............menikah, punya keluarga dengan anak-anak yang > > manis mesti dambaan setiap insan. Bohong kalau ada seseorang yang > > bercita-cita ingin melajang selamanya. Lha nanti kalau sudah tua > > siapa yang akan merawat kita kelak. > > > > Cheers, > Mariana >
