Mbak Ratih, JK ini memang suka asbun, jadi lebih baik jangan terlalu
dipusingin, kalau saya sih dari semula nggak pernah mendukung movement2 beliau,
karena sepertinya dia yang jadi RI1 dan bukan SBY. Jadi biarkanlah JK asbun
sesuka hatinya, namanya juga pengusaha dan bukan pemimpin. Masalah lumpur
Lapindo saja sampai sekarang masih terkatung katung udah ngurusin rumah jompo.
Kalau dia nggak mau dianggap lansia dan nggak setuju dengan pembangunan rumah
jompo, lah itu kan bukan urusan beliau ini sebagai pemimpin. Suka2 kita dong
mau masuk rumah jompo atau nggak, mau membangun rumah jompo atau tidak, saya
bisa kasih pandangan dan info mengenai rumah jompo di eropa dan kalau perlu
saya intervieuw mereka agar bisa memberikan alasan kenapa masuk rumah jompo.
Memang JK bisa membayar pembantu segudang untuk ngurusin kalau beliau sudah
mengaku sebagai lansia dan sudah tidak aktif lagi seperti saat ini, jadi buat
beliau nggak perlu ada rumah jompo dan mengusulkan untuk tidak
membangun rumah2 jompo lagi. Biarkanlah dia asbun pokoknya kita punya
pendirian lain dan janganlah neko2 dengan hal2 yang saat ini sudah berjalan
walaupun belum mencapai target optimal dengan aktivitas rumah jompo.
Salam
BS
Ratih Gandasetiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ya jelas JK gak setuju rumah Jompo,diakan mampu punya
pembantu segudang.Saya sendiri yang sudah memasuki
usia lebih dari setengah abad...sangat berharap
sepuluh tahun lagi mudah2anakan ada rumah jompo yang
manusiawi,memudahkan orang yang sudah sulit
menggerakan anggota tubuhnya tetapi masih ingin
beraktivitas dan tidak selalu tergantung pada anak2nya
yang pasti mereka juga mempunyai kesibukan-kesibukan
sendiri.
Dengan demikian prinsip mandiri akan selalu
terjaga,dan hal itu membuat kita bangga pada diri kita
sendiri.....meskipun sudah tua kita masih mampu
berdedikasi tanpa menggantungkan diri kita pada anak
maupun sanak saudara.
Ya mari kita sambut....panti jompo yang akan sangat
membantu.
Salam Ratih