Innalillahi wa innaillahi rojiun...
Saya amini apa yang dibilang Mbak Indah ini. Untuk
tambahan, alm. Prof Sujudi mengingatkan saya kepada
rekan-rekan di UGM yang memiliki seorang panutan
bernama alm. Prof Koesnadi. Kapasitas dan karakter
kepemimpinan kedua tokoh ini mirip. Keduanya amat
sensitif dan responsif terhadap isu-isu politik, dan
menyalurkannya secara konstruktif. Ini ada catatan
pengalaman singkat:
    Seperti di kampus-kampus besar pada umumnya, di
akhir 80an banyak tersimpan ketegangan antara kampus
dan penguasa. Cuma, mungkin berbeda dengan yang
akhirnya terjadi di ITB, ketegangan di kampus UI tidak
pernah lolos menjadi pembakaran atau demo keras.
Pernah suatu minggu, isu seorang Ketua Umum partai
yang juga seorang wakil presiden akan datang ke
kampus, sudah terdengar di setiap sudut kampus. Isu
ini membuat para pimpinan organisasi kemahasiswaan
dari semua fakultas berkumpul hingga subuh di sebuah
ruangan di Fakultas Kedokteran Salemba untuk
merumuskan pernyataan tentang penolakan atas
kedatangan tokoh politik itu. 
Hasil rapat tadi membuat para pimpinan mahasiswa ini
harus ke kampus sepagi mungkin untuk menindaklajuti.
Tapi, tak diduga sama sekali, begitu kami sampai di
fakultas masing-masing, staf Pudek III (Bidang
Kemahasiswaan) sudah menunggu untuk menyampaikan pesan
bahwa Pak Rektor menunggu di Rektorat. Kami yang
matanya kurang tidur berkumpul kembali di Rektorat,
kali ini tentu bersama pimpinan  universitas. Setelah
terjadi dialog yang tidak begitu panjang, kata kunci
dari alm Prof Sujudi keluar, "Bismillah. Saya jamin
tidak akan ada kunjungan Ketua Umum Partai ...".
Rapatpun usai. Tinggal perbincangan rileks yang
diselingi gaya khas Prof Sujudi yang kaya dengan stok
ungkapan-ungkapan humoris.

Andrinof A Chaniago

--- indah nuritasari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya mengucapkan turut berbelasungkawa. Semoga arwah
> beliau diterima di sisiNya dan semoga keluarga yang
> ditinggalkan diberi ketabahan. Saya mengenal pribadi
> beliau sebagai seorang yang santun, kebapakan, dan
> humoris. Beberapa kali, sebagai mahasiswa miskin,
> saya mengurus beasiswa ke gedung rektorat, dan kalau
> beliau sedang ada di ruangan beliau langsung menyapa
> dan menandatangani formulir yang saya bawa. Tanpa
> banyak birokrasi. Beliau pun tak lupa mengingatkan
> agar aktivitas kemahasiswaan tak mengalahkan
> keseriusan studi, suatu hal yang sering terlupakan
> oleh banyak aktivis kampus.
> Selamat jalan Pak Sujudi, jasamu selalu tersimpan di
> hati.
> 
> Indah
> 
> Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
>                                 Laporan Wartawan
> Kompas R Adhi Kusumaputra
> 
>
http://www.kompas.co.id/ver1/Nasional/0706/23/151358.htm

Kirim email ke