Dear All,
"...........tenaga ahli kita juga harus magang dan dapat alih
teknologi............"
Terkadang begitu manis dan indahnya kata-kata alih teknologi bagi tenaga
kerja kita apabila ada bantuan luar negeri atau proyek Pemerintah yang
mengharuskan untuk menggunakan teknologi canggih atas bantuan negara pendonor
seperti rencana PLTN Muria.
Tapi apakah memang demikian yang terjadi dan teknologi tersebut dapat diserap
secara maksimal oleh tenaga kerja kita yang terlibat disitu.
Pada kenyataannya alih teknologi tersebut ternyata hanya sebatas pengguna
teknologi yang dibangun tetapi tidak bisa mengambil alih teknologi tersebut
sebagai produsen teknologi, maksimum yang dapat diraih hanyalah merawat
teknologi tersebut sehingga mencapai umur penggunaan yang maksimum.
Saya benar-benar khawatir kita hanya akan selalu menjadi bangsa user tetapi
bukan bangsa pencipta, tidak seperti beberapa negara Asia lainnya yang telah
mampu mencipta dan memproduksi unit teknologi sebagai barang yang dapat dijual
sebagai hasil produk putra bangsa, walaupun pada awalnya hanya mencontoh /
menjiplak mentah-mentah barang produksi ciptaan negara lain.
Kenapa Pemerintah tidak lebih focus untuk menciptakan teknologi aman lainnya
untuk kebutuhan energi jangka panjang........kenapa harus ngotot untuk energi
nuklir yang tingkat resikonya tinggi bagi user yang diragukan kedisiplinannya
dalam mengelola.
Salam,
csd
walsuparmo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Meskipun BANYAK alternative untuk mengadakan listrik di Indonesia
tetapi yang paling praktis sekarang dianggap Tenaga Nuklir.Kalau
memang Pemerintah sudah memutuskan demikian dan Indonesia terkenal
sebagai KERANJANG SAMPAH dari luar negeri baik untuk barang baru
maupun bekas, BESERTA PEMBIAYAAN(hutangnya), tetap harus di ingat:
1) PLTN TIDAK didirikan di lereng gunung Muria tetapi di suatu
pulau dekat Pulau Jawa(Karumun Jawa ).
2) Operasi dan pengawasanya untuk tahun2 pertama oleh tenaga
profesional BERPENGALAMAN dari luar negeri.
3) Jelas pembuangan sampahnya.
Wasalam,
Wal Suparmo