Saya tak tahu apakah orang-orang yang "sering mampir ke dunia hitam" itu 
pendosa atau tidak, dan saya tak tahu kenapa hal ini harus Anda tanyakan 
berkali-kali. Apakah ini dari guilty feeling Anda sendiri, meski sudah dengan 
sangat canggih berupaya merasionalisasikan pelbagai tindakan yang Anda lakukan 
"dulu"? Yang saya tahu adalah dari cara Anda bercerita, terkesan Anda bangga 
gitu lho dengan semua tindakan itu. Dan saya terpikir, "apa sih yang layak 
dibanggakan dari itu semua?" Contohnya, mentang-mentang Anda ngerti arti kata 
"cimeng", lalu menganggap rang lain kuper dan gak ngerti, dan merasa bangga 
dengan hal ini. Kaya anak TK aje. 
   
  Dosa? itu bukan urusan saya, Boss Manajer. Lagian, bukan saya kok yang maksa 
Anda melakukan 'pengakuan publik' di milis ini atas segala perbuatan Anda itu. 
Kata-kata seperti "salah", "dosa" itu datangnya dari posting-posting Anda 
sendiri, dan tak ada dalam posting saya. Jadi, tak perlulah dikejar-kejar oleh 
perasaan bersalah diri sendiri tapi lalu dikesankan seolah-olah saya yang 
sedang menghakimi Anda.
   
  Dan gak usahlah bawa-bawa Tuhan segala. Kalo Anda anggap rajin berkunjung ke 
"dunia hitam" tak boleh dihakimi secara simplistis sebagai dosa, maka pergi 
umroh berkali-kali juga tak serta merta bisa dipakai pijakan buat menilai bahwa 
Anda itu taat pada Tuhan. Makanya, ngapain sih pakai dicerita-ceritain segala? 
Tujuannya untuk menyampaikan apa, gitu lho? 
   
  Pernyataan-pernyataan Anda yang miring tentang profesor saya amini saja. Gak 
ada urusannya sama saya, wong saya bukan profesor dan sekarang masih sekolah 
kok. Tapi, nanti akan saya bantu teruskan ke profesor yang jadi dosen saya.
   
  Om Iwan, Om Iwan, kapan bangunnya? Kok molor mulu sih? 
   
  manneke

Iwan Wibawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          

ada lagi pengalaman saya dulu, lagi kuliah telat kiriman dari ortu trus 
mengadai celana jeans, pernah juga radio tape satu-satunya saya gadai, udah 
lulus sempet jadi pegawai negeri gaji pertama 120 ribu, masuk jakarta kost di 
termpat marijo di setiabudi, ke kantor naik turun metro mini, dasi terpaksa 
dilipet dulu di tas.
kerja sama bule amrik pulang kerja mampir ke bar, minum bir sampai setengah 
teler, saya karena cuman bawahan yang gak boleh teler, apalagi kemampuan saya 
menelan alkohol lebih sedikir dari mereka, sempat kerja di tambang di soroako 
dan timika, bergaul sama bule-bule, mesti ketularan minum bir and alkohol, 
sekali-kali jalan-jalan ke tempat-tempat dimana para bule buang hajat, sebagian 
dari mereka ada yang dikawin, sebagian cuman dijadikan budak nafsu, 
sering antar tamu dan temen kerja di dunia malam, membuat saya banyak belajar 
tentang kehidupan,yang seringkali dicibir dan dianggap tabu, seolah-olah 
tempat-tempat seperti terlarang bagi orang baik-baik dan sok suci.
apakah orang-orang yang sering 'mampir' di dunia 'hitam'/underground, lantas 
dianggap hitam, penuh dosa atau pendosa ? 
waktu sekolah di belanda, tempat yang paling fenomenal saya lihat adalah 
kawasan red light di downtown amsterdam, kawasan prostitusi yang berdampingan 
dengan gereja, saya jalan-jalan disana bersama teman-teman seharian, sebuah 
kehidupan yang lain, apakah lantas kalo orang pernah kesana, kemudian dicibir " 
memang doyang lu ".
buat saya hanya Tuhan yang bisa menilai, bukan manusia, hanya kesombongan yang 
membuat seseorang memberikan judgemnt terhadap orang lain, mungkin sudah merasa 
linuwih, diatas angin, karena kalo sudah profesor seperti gak ada 
matinya...ha...ha..
saya tidak merasa pamer tuh, saya cuman bercerita apa adanya, its about me, 
what wrong ?
oh ya tahun lalu saya juga pergi umroh bersama orang tua dan keluarga, 
alhamdulilah, saya spritual saya terasa di charge lagi, batere baru, untuk 
terus menunaikan misi yang diemban saya dari sang The great master di muka bumi 
ini.
tahun depan rencana berangkat lagi mungkin dengan anak-anak.


Kirim email ke