>
>
> Cogito Ergo Commuto
>
>  
>
> Kalau istilah 'cogito ergo sum' dari Descartes, si filsuf Perancis itu 
> - hampir semua juga tahu artinya. Tetapi 'cogito ergo commuto' pasti 
> hanya beberapa saja yang tahu. Artinya memang beda tipis, yaitu "aku 
> berpikir maka aku berubah." 'Animos commutare' dalam bahasa leluhur si 
> kembar Romulus dan Remus itu artinya "mengubah pikiran".
>
> Pikiran kok berubah atau diubah-ubah? Tidak mantap? Padahal bukankah 
> berubah pikiran juga bisa dimakna-artikan sebagai 'sèdèng' , 'setrip' 
> alias 'miring'?
>
> Seperti sel-sel dalam tubuh, maka pikiran manusia juga berubah-ubah 
> dari waktu ke waktu secara pasti. Baik secara spontan - maupun karena 
> induksi ataupun karena direncanakan. Misalnya, dulu saya suka berpikir 
> normatif kalau tidak hitam pastilah harus putih. Kini tidak lagi. 
> Tetapi saya juga tidak tergolong orang yang suka berpikir abu-abu 
> (kelabu), ngambang, relativistik,  yang "bukan ini" dan juga "bukan 
> itu". Saya mengakui adanya kedua pola berpikir seperti itu, tetapi 
> saya tidak berpihak (partisan) kepada salah satu ekstremitasnya. 
> Artinya, saya menerima (dan menghormati) kedua pola pemikiran tersebut 
> sebagai realitas sosial di dalam hidup bermasyarakat. Keduanya ada 
> secara faktual di dalam masyarakat dan walaupun kebanyakan orang 
> memilih posisinya pada salah satu terminal yang ada, saya memilih 
> untuk berada "di luar" jalur (di atas) kedua posisi terminal itu sendiri.
>
> Pembedaan 'yang ini' dari 'yang itu' juga merupakan realitas dalam 
> hidup. Yang paling nyata dan mendasar ialah pembedaan antara 'aku' dan 
> 'liyan'. Aku selalu 'yang pertama' sedangkan 'liyan' selalu yang 
> berikutnya. Entah dijadikan nomor kedua (yang ketiga), semuanya 
> tergantung kebutuhannya.
>
> Otak manusia didesain untuk selalu membedakan 'yang ini' dari/atau 
> dengan 'yang lain'.  "Kecerdasan rasional" berbuat demikian secara 
> 'on-off'. Ini yang 'logis' dan yang lainnya 'tidak logis'. "Kecerdasan 
> emosional" juga berbuat sama. Ini 'empatik' dan yang itu 'tidak 
> empatik'. "Kecerdasan instinktif" juga bereaksi sama. Ini 'berbahaya' 
> dan yang itu 'aman' bagi survival. "Kecerdasan intuitif" sami mawon. 
> Ini tampaknya 'OK' tetapi yang itu tampangnya 'Not-OK'.  "Kecerdasan 
> spiritual" menamakan kemampuan membedakan 'yang benar' dengan 'yang 
> sesat' itu dengan istilah  'discernment'.
>
> Dalam hidup ini perubahan 'harus' terjadi dan 'pasti' terjadi. Tiada 
> yang pasti dan permanen di dunia ini kecuali fakta eksistensi 
> perubahan itu sendiri. Ini bukan ide saya, karena saya bukan 'pemikir 
> murni' melainkan hanya 'pemikirnya para pemikir' lain (cq. Taoisme). 
> Perubahan dapat terjadi "dengan, atau tanpa" sugesti, saran, atau 
> pengarahan. Kalau saya mau jujur - dan memang selalu berusaha jujur 
> kepada diri saya sendiri - memang benarlah saya ini bukan 'pemikir 
> murni' seperti para filosof itu. Kemampuan berbahasa, berhitung dan 
> menulis sayapun adalah hasil dressur dari hasil pemikiran para pemikir 
> asli. Saya dapatkan semua ilmu saya melalui sistem persekolahan yang 
> melakukan injeksi secara memetika sejak saya masih di bangku SD. 
> Sebagai 'pemikir murni' saya hanya terus menerus memikirkan apa yang 
> harus saya pilih setiap saat dari kemungkinan fraktal yang tersedia. 
> Yaitu memilih 'yang ini' dan menolak 'yang itu' (liyan) untuk terus 
> bertahan dan meneruskan kehidupan ini.
>
> Adalah naif pandangan bahwa manusia bisa "berubah tanpa masukan" 
> apapun atau dari siapapun. Mengapa? Karena manusia selalu membutuhkan 
> *orientasi* untuk berubah. Dalam kondisi chaos, gelap, samar, sesat 
> manusia kehilangan orientasinya. Kondisi itu namanya *disorientasi*. 
> Dalam ruangan yang gelap orang dapat menabrak meja, kursi, lemari atau 
> terantuk anak tangga. Juga dalam kehidupan ini. Bagaimana mungkin 
> manusia bergerak dari "tempat asal" menuju "tempat tujuan" bila ia 
> kehilangan orientasi?  Yang terjadi justru ia akan berulang-ulang 
> menabrak sesuatu atau tembok yang menjadi penghalang gerakannya. Maka 
> pastilah diperlukan 'liyan' untuk "membawa terang" baginya, sekalipun 
> hanya "sedikit terang" dari sebuah lilin kecil. Lilin-lilin kecil itu 
> dapat berupa saran, petunjuk, dressur, memetikasi, latihan, termasuk 
> juga di dalamnya (dan kenapa tidak?) suatu 'motivation building'.
>
> Selain memerlukan Orientasi manusia juga membutuhkan Tujuan. Ia juga 
> membutuhkan Motivasi -- terserah "self motivation" atau "motivation 
> building" dari luar -- untuk berubah. Anak saya misalnya, biasanya 
> tidak bisa bangun pagi. Alasannya macam-macamlah. Tetapi bila ia 
> berpikir *harus* mengantar pacarnya ke bandara, atau mengikuti rapat 
> "coffee morning" penting, nyatanya ia dapat bangun pagi sekali tanpa 
> paksaan. Artinya ada "motivasi sesaat" untuk berubah. Namun karena 
> tidak ada "motivasi permanen" yang kuat maka kebiasaannya molor itu 
> tetap bertahan terus. Intinya sama saja, untuk berubah harus ada 
> motivasi dan kemauan keras.
>
> Salah satu tujuan manusia untuk berubah memang untuk Survive dalam 
> hidup ini. Inilah instink paling dasar dan paling sederhana dari 
> makhluk hidup spesies apapun. Misalnya, ikan kecil selalu jadi mangsa 
> ikan yang lebih besar. Maka ada spesies ikan kecil tertentu yang 
> mengeluarkan sejenis zat racun yang merangsang rasa mual pada ikan 
> pemangsanya. Begitu ikan kecil ini dimangsa oleh ikan besar maka ia 
> segera (terpaksa) dimuntahkan kembali oleh ikan besar itu akibat 
> bekerjanya racun mual tersebut. Dengan demikian nyawanya terselamatkan 
> oleh perubahan evoluisoner pada sistem hormonal pada tubuh ikan kecil 
> itu sendiri.
>
> Namun demikian masih terdapat banyak tujuan lain perubahan manusia 
> selain untuk survival.
>
> Pikiran manusia juga perlu berubah sehingga menjadi semakin luas 
> wawasannya, semakin tajam, fokus, jernih, serta mendalam cara 
> pemikirannya. Perubahan juga perlu supaya manusia tidak hanya memiliki 
> satu cara berpikir tunggal saja yaitu cara "berpikir linier". 
> Diperlukan beragam variasi perangkat cara berpikir lain seperti cara 
> berpikir holistik, sistemik, eliptik, multi-tasking, lateral, 
> sinektik, transendental, dsb. Tidaklah mungkin semuanya itu diperoleh 
> dari hasil pemikiran diri sendiri secara otonom. Tidak ada sesuatu 
> yang baru di bawah matahari, kata Pengkhotbah. Semua buah pikiran para 
> pemikir masa lampau dan masa kini (kontemporer) menjadi seperangkat 
> informasi yang masuk ke dalam "memori kolektif" kita dan menjadi di 
> sana ia menjadi sekedar data anonim.
>
> Bahkan "memori kolektif" pribadi kita itu sendiri merupakan bauran 
> memori para nenek moyang kita. Jadi itu bukan benar-benar murni 
> dihasilkan oleh proses pemikiran kita sendiri. Informasi itu diperoleh 
> hanya oleh proses akses kembali kepada bank data (bawah sadar) pada 
> korteks maupun amygdala kita -- tanpa kita sadari.  Walaupun kalau mau 
> jujur kita pasti dapat menelusur kembali siapa penemu informasi 
> tersebut untuk pertama kalinya.
>
> Dibandingkan 'pemikir murni' maka para 'pemikirnya pemikir' merupakan 
> populasi terbesar dalam kehidupan ini. Kalau mau jujur hampir semua 
> kita ini adalah 'pemikirnya pemikir'. Mengapa? Karena faktanya kita 
> semua telah belajar berpikir logis melalui sistem persekolahan. Dan 
> belajar berpikir secara spiritual melalui sistem keagamaan. Kalau kita 
> cenderung mengingkari semua realitas tersebut maka kita adalah manusia 
> nihilis, terserah apakah ini mau dinamakan pelabelan atau bukan 
> (nihilis dan non-nihilis).
>
> Dalam kehidupan ini pelabelan adalah suatu realitas dan keniscayaan. 
> Bila tidak demikian, maka jangan pula kita melabelkan diri sendiri 
> sebagai "saya" dan di luar itu semuanya jangan dilabelkan "liyan". 
> Atau janganlah pula seperti mereka yang sudah mencapai taraf 
> spiritualitas kosmis yang meyakini bahwa "aku" dan "liyan" adalah satu 
> dan tidak terpisahkan maupun terbedakan. 
>
> Jika tetap yakin seperti itu, maka pada saat makan siang atau malam 
> nanti suaplah "liyan" terlebih dahulu (dan terus menerus) karena kalau 
> "liyan" kenyang maka "saya" otomatis juga kenyang karena efek dari 
> suatu 'bejana berhubungan"... karena toh "saya dan liyan" adalah satu. 
>
> Dengan meyakini ini dan menafikkan pelabelan atas manusia maka yang 
> terjadi ialah saya justru *kehilangan orientasi*. Dan sebagai 
> akibatnya saya tidak bisa berubah lagi. Tetapi mungkinkah saya tidak 
> akan berubah?  "Cogito ergo commuto", sekali saja saya berpikir maka 
> saya *telah berubah*, apalagi kalau terus menerus berpikir dan memilih 
> sepanjang hari... Betapa banyaknya saya berubah, tetapi sekaligus juga 
> betapa konstannya saya sebagai "saya" dan bukan sebagai 'liyan". 
> Perubahan tanpa masukan dari dalam maupun luar adalah suatu 
> kemustahilan. Masukan dari luar maupun dari dalam adalah produk dari 
> "liyan." Maka yang namanya 'pemikir murni' itu sebenarnya tidak pernah 
> ada. Kecuali barangkali pemikiran Hawa untuk memakan buah kuldi.  
> Itupun merupakan sugesti yang ditanamkan oleh si ular kepadanya. 
> Artinya, pemikir murni itu barangkali hanyalah ular itu sendiri.
>
> Jakarta, 27 Juni 2007.
>
> Mang Iyus
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke