Tanah airku..............soooo saaaad.....
Ada komentar Pak KK?

salam,
sensei deddy
univ. of houston
www.uh.edu/shotokan 

----- Original Message ----- 
From: "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, June 26, 2007 11:08 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Presiden Mau Naik Kereta, Gubuk Dibongkar


http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/27/metro/3631595.htm
==========================

Nun di seberang hotel bintang lima dan perkantoran megah mencakar
langit di Jalan Karet Pasar Baru Timur, Jakarta Pusat, puluhan warga
tunawisma tidur beratap langit di tepi rel, karena gubuk mereka
dibongkar dan dibakar sejak Senin (25/6).

Gubuk mereka harus menghilang sementara agar pemandangan menjadi
"indah", karena awal Juli 2007 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan
meresmikan jalur kereta api ganda Serpong-Tanah Abang.

Adi (45) tidur pulas di alam terbuka, beratapkan langit, pada sebuah
dipan milik Samira (46), tetangganya, Senin tengah malam pukul 23.30
WIB di tepi rel kereta api, tak jauh dari Banjir Kanal Barat di Kebon
Melati, Jakarta Pusat. Gubuk yang sehari-hari menaunginya, istri, dan
anaknya, telah dirobohkan aparat pada siang harinya.

Istri dan anak semata wayangnya, Rizki (8), juga tidur nyenyak,
dinaungi terpal plastik setinggi setengah meter dan terkurung
reruntuhan gubuk. Kaki, tangan, dan wajah mereka dikerubuti nyamuk.
"Papaaa., aaaa.," igau Rizki.

Sepanjang satu kilometer jalur rel ganda dari Stasiun Sudirman menuju
arah Stasiun Tanah Abang, di sisi Banjir Kanal Barat, memang menjadi
pemukiman pemulung. Penertiban yang berlangsung pada pagi hari,
menyisakan tumpukan plastik, kayu, dan tripleks yang sebagian disimpan
di gerobak tempat para pemulung mengumpulkan barang bekas berupa
plastik, kayu, dan logam.

Samira dan seorang warga lainnya, Ny Tarmini (49), yang duduk di
samping Adi, mengatakan, "Biasanya kalau ada penggusuran didahului
surat pemberitahuan, tetapi kali ini tidak. Tiba-tiba saja petugas
datang meminta kami membongkarnya."

Mereka yang ada di sini semua miskin, dengan pekerjaan utama pemulung.
Tarmini, istri Edy (50), sudah 15 tahun menetap di tepi rel kereta api
Kebon Melati, sekitar 200 meter dari Dukuh Atas ke arah Tanah Abang.

"Kami menetap di sini semenjak anak saya, Yanto, yang berusia 18
tahun, masih bayi," katanya.

Baik Samira dan Tarmini tidak bisa tidur malam itu. "Kami masih kesal
dan dongkol. Kami dengar, jalur rel kereta di sini dibersihkan karena
Pak SBY (Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono) akan melintasi rel ini,
antara Stasiun Manggarai- Tanah Abang. Kami bingung mau pindah ke mana
lagi," ujar Samira.

Sebagian pemulung yang ditemui di sekitar Stasiun Sudirman adalah
pemulung yang sudah belasan tahun, bahkan puluhan tahun hidup di Jakarta.

Menjelang dini hari, di pinggir rel dekat Jalan Teluk Betung, Darti
(39) sedang berbaring di atas batu balas rel kereta berusaha untuk
tidur. "Saya tidak punya tempat lain untuk tinggal," tutur Darti, yang
berbaring di atas selembar karton yang memisahkan tubuhnya dengan
bebatuan tajam.

Sudarmi (56), tetangga gubuk Darti, juga bertahan di lokasi tersebut.
Sebuah tripleks yang disandarkan di dinding dijadikan tempat berteduh
jika hujan turun.

"Kami sudah delapan kali digusur tahun ini. Bahkan tiga kali
penertiban diikuti pembakaran gubuk," kata Sudarmi yang asal Jombang,
Jawa Timur, memelas.

Penghasilan mereka yang hanya sekitar Rp 20.000 hingga Rp 30.000 yang
diperoleh setiap dua hari, atau tiga hari hanya cukup untuk makan.

Mereka tidak mempunyai cukup uang untuk menyewa tempat tinggal. Bahkan
untuk pulang kampung pada hari raya Idul Fitri pun jarang dilakukan.

ABS

Para pemulung di pinggir rel kereta telah menjadi korban mentalitas
asal bapak senang (ABS), yang di zaman Orde Baru dicitrakan merupakan
budaya Orde Lama.

Salah satu pengejewantahan ABS adalah kemiskinan harus hilang saat
pejabat tinggi melakukan peninjauan.

Gubuk gelandangan yang kontras dengan kemewahan Jakarta, sejatinya
merupakan potret Indonesia yang jalan di tempat.

Kondisi ini sudah terekam dalam buku Twilight in Jakarta karya Mochtar
Lubis yang mengisahkan ibu kota negara pada tahun 1950-an.

Apakah mereka akan menjadi penghuni rumah susun sewa (Rusunawa) kelak
yang dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ataukah
mereka akan segera kembali membangun gubuk mereka setelah kunjungan
resmi selesai. (Iwan Santosa/ Pascal S Bin Saju)

Kirim email ke