Menurut saya, Kalau memang mau ikut mengurangi pemanasan global, ada banyak hal yang bisa dilakukan Pemerintah Indonesia tanpa harus langsung membangun PLTN.
1. Bereskan dulu kasus pembakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera. Bukankah sudah disebutkan CO2 yang dihasilkan Indonesia sebagian besar adalah karena kasus kebakaran hutan, baru kemudian asap knalpot di kota besar. Toh tiap tahun hal serupa terjadi terus sampai ditegur negara tetangga. 2. Untuk asap knalpot, kita sudah ada KIR untuk uji kelaikan kendaraan angkutan umum dan angkutan barang. Tapi kok ya sampai sekarang hampir semua BUS umum yang saya temui asapnya bisa bikin BUS nya menghilang di malam hari. ? 3. Industri kan juga ada peraturan mengenai penanganan limbah yang akan dibuang keluar, baik itu limbah dalam bentuk cair maupun dalam bentuk gas. Nah yang gas ini kan juga harusnya bisa diproses dulu sebelum dilepas ke udara bebas. 4. Katanya kita mau mengurangi hingga akhirnya meniadakan penggunaan FREON. Tapi waktu saya mau beli kulkas, kok masih jauh lebih banyak kulkas yang menggunakan FREON dibanding kulkas berlogo CFC FREE ? Dari hal di atas itu saja kita sudah bisa melihat kalau komitment pemerintah dalam hal ikut serta mengurangi dampak pemanasan global itu sangat kecil atau bahkan tidak ada. Jadi saya lebih percaya kalau rencana PLTN itu tidak ada sama sekali hubungannya dengan tujuan mengurangi pemanasan global tapi sekedar kepentingan politik dan atau bisnis. Untuk kasus banjir di Jakarta dan sekitarnya. Ini salahnya tata kota yang tidak bisa bekerja. Tanpa ada pemanasan global pun Jakarta akan tetap tenggelam. Lihat saja pembangunan yang tidak ada rencananya sama sekali. Asal tempel dan asal jadi. Hujan sedikit saja jalanan bisa tergenang belasan CM, tapi kalau mau diperhatikan got di samping jalan itu seringkali masih kosong yang seharusnya masih bisa menampung air yang ada di jalan. Tapi karena asal jadi itu, air nya gak bisa masuk ke got. Jadi itu tidak ada hubungan dengan Pemanasan Global. Memang DPU nya saja yang gak becus. Dan kalau mau bilang alasannya karena krisis energi. Yang ini sih menurutku lebih omong kosong lagi. Yang punya data penjualan ekspor MIGAS boleh disharing di sini. Isu krisis energi sudah digembar-gemborkan dari belasan tahun lalu. Tapi kok ekspor MIGAS dari Indonesia masih jor-joran ? Jadi kalau di dalam negeri kekurangan MIGAS itu pastinya bukan karena krisis energi. Regards, Paulus T. [Non-text portions of this message have been removed]
