Oleh Ahmad Arif
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/06/Sosok/3644223.htm
===================

Bagi Nurul Taufiqu Rochman (37), segala zat bisa dikendalikan sesuai
dengan kemauan jika kita benar-benar menginginkan. Baja dan beton bisa
dibuat lebih kuat 100 kali dari biasanya, pasir uruk bisa diubah
menjadi keramik tahan panas tinggi untuk semikonduktor yang bernilai
1.000 kali lipat dari sebelumnya, dan dari sehelai alumunium foil bisa
dicipta bom.

Transformasi fungsi sesuai dengan keinginan kita tak ada hubungannya
dengan magis. Namun, terkait dengan kemampuan mengontrol zat,
material, dan sistem pada ukuran satu nanometer atau satu per miliar
meter—skala ini seperti membandingkan ukuran kelereng terhadap
Bumi—sehingga menghasilkan fungsi baru yang belum pernah ada
sebelumnya. Teknologi untuk mengontrol material berskala nanometer ini
dikenal sebagai nanoteknologi.

"Teknologi itu lompatan besar awal abad ini. Ibaratnya, dengan
nanoteknologi, yakni menghaluskan partikel hingga berukuran nano, kita
bisa berbuat apa saja. Bahkan, dunia baru bisa kita buat," ungkap
Nurul, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
sekaligus Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia.

Dengan nanoteknologi, kekayaan alam menjadi tak berarti, kecuali kita
bisa memberi nilai tambah. Arang yang diekspor ke Korea dan Jepang,
misalnya, dengan nanoteknologi bisa dibuat menjadi alat semikonduktor
untuk membuat komputer. Pasir zirkomia yang banyak di Kalimantan dan
diekspor murah memiliki nilai tambah 1.000 kali lipat jika dijadikan
partikel berskala nano. Zirkomia bisa menjadi bahan yang tahan
terhadap panas tinggi.

Nanoteknologi juga berguna dalam pembuatan serat optik di dunia
telekomunikasi, kaca tahan api, robot mungil yang mampu membunuh virus
dan sel kanker dalam tubuh, telepon genggam, dan berbagai teknologi
mutakhir.

"Negara yang menguasai nanoteknologi diyakini dapat memenangi
persaingan global pada masa mendatang. Karena itu, semua negara
berlomba menanamkan investasi di bidang ini. Belum terlambat kita
terjun dalam teknologi ini karena perkembangannya baru dimulai pada
tahun 1998. Masih banyak peluang yang bisa ditemukan," papar Nurul.

Transformasi

Sebagaimana prinsip dasar nanoteknologi untuk mengendalikan sifat
material, Nurul juga gigih berusaha mengendalikan hidupnya. Setamat
program doktor di Jepang, dia tak langsung pulang ke Indonesia. Dia
mempelajari dulu kondisi LIPI— tempatnya harus kembali—dan melihat
gaji yang sedemikian kecil, tak sampai Rp 1 juta per bulan.

"Padahal, saya tak ingin bekerja sambilan. Saya ingin fokus pada
penelitian, tetapi juga tak mau konyol," tutur Nurul, yang menolak
tawaran sejumlah universitas untuk menjadi dosen tamu.

Ia lalu memutuskan bekerja dulu di Pusat Penelitian Daerah Kagoshima,
Jepang, guna mengumpulkan modal sekaligus membina jaringan. Statusnya
waktu itu pegawai negeri pusat Jepang yang ditempatkan di Kagoshima,
daerah yang memiliki 5.000 industri kecil dan menengah. Tugasnya
sebagai konsultan atas permasalahan dunia industri Kagoshima.

"Saya hitung, sebagai peneliti nanoteknologi di Indonesia, kemungkinan
baru bisa eksis pada tahun kelima. Jika dalam satu tahun butuh Rp 24
juta uang tambahan untuk keluarga, dalam lima tahun perlu Rp 120 juta.
Saya harus bekerja di Jepang minimal tiga tahun," ungkap Nurul yang
waktu itu digaji sekitar Rp 30 juta.

Selama bekerja di Kagoshima prestasinya dinilai mencengangkan. Dia
menemukan cara membersihkan logam berat timbal (Pb) dari kuningan
dengan nanoteknologi. Dengan temuan ini, Nurul bisa membuat jutaan
meter limbah kuningan di Jepang menjadi bernilai tinggi. Temuan ini
dipatenkan, dengan nama Nurul tercantum sebagai penemu utama,
membawahi dua profesor dan empat anggota peneliti lain.

"Saya tak dapat royalti dari paten karena waktu itu tak mampu membayar
biaya pengurusannya. Paten ini dimiliki Pemerintah Jepang dan industri
yang mensponsori. Namun, nama saya dicantumkan sebagai penemu," ujarnya.

Di Jepang, temuan-temuan Nurul diapresiasi sangat baik. Tawaran
menetap dan menjadi pegawai dengan iming-iming gaji jauh lebih besar
terus diterimanya, tetapi dia memilih pulang.

"Saya masih orang Jawa, orang Indonesia, jadi harus pulang. Ketika
masih di Jepang, kalau mengingat kondisi Indonesia saya menangis, di
mana-mana diremehkan. Saya ingin melakukan yang terbaik di kampung
halaman."

Menghadapi keterbatasan dukungan dana dan fasilitas penelitian setiba
di Indonesia, Nurul tetap berkarya. "Pertama saya kembali dari Jepang
hanya punya meja dan kursi. Tak ada satu alat pun untuk mendukung
penelitian nanoteknologi, juga belum ada laboratorium dan peneliti
lain yang mendalami nano," katanya.

Ia terus bekerja dan memanfaatkan jaringan di Jepang untuk
mengembangkan penelitian nanoteknologi di Indonesia. Ketiadaan alat
pembuat partikel berskala nano (sepermiliar meter) di tempat bekerja
tak menghentikan langkahnya. Dia mencipta alat sendiri dengan semua
komponen dibeli di Glodok, Jakarta. Ia berhasil menciptakan dua
spesifikasi alat pembuat partikel nano. Kedua temuan ini sudah dipatenkan.

Dia juga membentuk tim nanoteknologi di LIPI. Direkrutnya orang-orang
muda yang baru lulus sarjana dari berbagai universitas di Indonesia.
Seorang anggota tim, Agus Sukarto, disekolahkan di Universitas
Kaghoshima, tempatnya dulu belajar.

"Kita belum punya alat untuk mengarakterisasi partikel nano. Selain
belajar, Agus juga mendapat tugas mengarakterisasi material yang telah
kami hancurkan hingga skala nano di laboratorium di Kagoshima," ujarnya.

Tiap hari Nurul dan sembilan anggota tim berada di kantor pukul 08.00
hingga 22.00. Hari Minggu pun mereka sering datang ke laboratorium.
Bahkan, beberapa anggota tim tidur di laboratorium. Hasilnya, selama
Januari hingga Juni 2007 tim ini sudah mematenkan dua temuan,
memublikasikan 20 karya ilmiah skala nasional dan dua untuk jurnal
internasional.

Tak hanya menghidupkan laboratorium nanoteknologi di LIPI, dia pun
berusaha membangkitkan nanoteknologi di Indonesia. Ia mendirikan
Masyarakat Nanoteknologi Indonesia dan menggandeng universitas,
lembaga penelitian, hingga Departemen Pendidikan Nasional untuk
mengembangkan nanoteknologi.

Ia juga menciptakan Nano- Edu, paket pengajaran nanoteknologi untuk
pelajar, berisi buku dan alat peraga. "Kita harus mengenalkan
nanoteknologi kepada anak-anak sejak dini. Alat peraga Nano-Edu sudah
dibeli Jepang untuk menunjang pendidikan di sana, tetapi di Indonesia
belum dipakai," kata Nurul yang mematenkan temuan ini pada tahun 2006.

Akan tetapi, kepuasan sebenarnya yang dialami Nurul adalah saat
berkeliling ke industri-industri kecil di Indonesia dan membantu
menyelesaikan permasalahan riil yang dihadapi. 

Kirim email ke