Rekan-rekan FPK, Saya rasa itu idée yang baik, agar yang awam seperti saya diperbolehkan juga untuk mendapatkan gambaran yang lebih nyata mengenai "kata ajaib" Nanotechnologi ini, terutama mengenai hal yang paling mungkin (dlm arti rentable) untuk di upayakan bagi suatu negara yang kondisinya seperti yang ada sekarang ini. Berapapun besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan sesuatu yang "terencana rapih" dan "feasible" berdasarkan pendapat yang benar-benar ahli, pasti tidak akan merugikan. Lha wong yang jelas- jelas ngga feasible aja dulu ditahun 80an dibiayai pemerintah dan didukung oleh sebagian besar rakyat?? Kata ajaib nya dulu adalah "high tech" and "aerospace", sedangkan kalimatnya: "suatu bangsa yang menguasai technologi aerospace akan dengan sendirinya menguasai technologi lainnya". Sebagai student saat itu, saya hanya ambil contoh negara Brazil yang pernah memaksakan hal itu .. dan hasilnya .. sebagian besar produknya adalah "alat pembunuh" baik berupa senjata ataupun pesawat tempur "murahan". Karena alat-alat seperti itu kan tuntutan ketepatan nya relative rendah, artinya tujuan nembak kaki, kena nya kepala, siapa yang pusingin .. yang penting murah. Pada tahun 92an saya berkesempatan meninjau production hall di Pindad yang dipenuhi dengan puluhan peralatan ber- CNC .. kayanya ngga ada yang kelas puluhan juta rups. Occupasi nya jauh lebih rendah dari peralatan Lab dan yang kebetulan saat itu occupied, mereka lagi bubut laras pendek .. gila kan?? Apalagi setelah saya dengar "karya anak bangsa" dituker ketan .. jadi ngga aneh lagi deh. Kembali ke thema 10 pangkat minus 9, ini kan sangat halus sekali ya, berarti apapun kegiatan/proses nya, kita berurusan dengan sesuatu yang toleransi penyimpangannya amat sangat .. mungil? (saya ngga tau lagi istilah yang bener nya). Pertanyaan sederhana nya, apakah untuk 10 pangkat minus 6 saja kita sudah kuasai?? (itu kan seribu kali lipat) Bila ada yang jawab: kalo kita ngga mulai, kapan bisa nya? Saya setuju itu .. tapi apa mulainya harus disitu .. itu yang saya amat sangat ragukan, karena itu yang menyebabkan cost yang sangat tinggi dan sangat mudah untuk diprediksi sebagai mubazir. Karena tidak ada didunia manapun orang membangun rumah mulainya dengan memasang atap dan akhirnya dengan membuat fundamen. Mungkin saja keraguan saya disebabkan terpaku dengan istilah "nano" nya, yang sebenarnya dimaksudkan rekan-rekan adalah aplikasi nyata dari kondisi nano yang dapat dilihat sebagai "peluang" kita, dimana kondisi kita mempunyai keunggulan dibanding negara lain ?? Salam, Bodo
--- In [email protected], Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bu Reni yang baik, > > Sebagaimana yang pernah saya tulis, kita memang perlu menentukan fokus serta skala prioritas. Pengadaan peralatan tentu harus terkait dengan kesediaan expertise..tidak bisa terpisah. Itu dasarnya pikiran agar memberi award langsung ke peneliti yang sangat berprestasi dengan peralatan yang dibutuhkan untuk meneruskan penelitiannya di luar negeri, ketika kembali ke tanah air. Jangan membiarkan dia harus menunggu 2 tahun lagi karena selama itu dia sudah ketinggalan dalam bidangnya. > > Mungkin bu Reni dapat memberikan opini tentang bagaimana sebaiknya grand desain dari pengembangan nanoteknologi ini, keterkaitannya dengan bidang lain, step step yang sebaiknya ditempuh serta gambaran kasar mengenai anggarannya. Bosa jadi bahan diskusi yang sangat baik. > > Terimakasih. > > Salam, Irry
