:-) salam senyum...
   
  Alangkah ironisnya.. seperti Cerpen "Gincu itu merah"... Sang pemakai Gincu 
mempersembahkan yg terbaik dari dirinya untuk kebahagiaan sang penerima, 
sementara sang penerima merasa trauma dan mempunyai pikiran negatif atas 
persembahan terbaik yg diberikan oleh si pemberi. :-D lucu.. lucu.. dan 
menyedihkan.
   
  Itulah kehidupan nyata saat ini.. terbayangkah? jika dengan kejadian ini 
pihak luar diklaim oleh negara kita.. Pada akhirnya apa yg terjadi.. mungkin 
kita tidak akan dipercaya dalam transaksi apapun. 
   
  Karena pada saat kita menggunakan gincu merah sebagai persembahan terbaik, 
tapi penerima malah trauma dan tertekan dan curiga merasa dikhianati (pada saat 
kita menjual/mengirimkan produk terbaik kita "yg legal" dengan harga terbaik, 
pihak penerima merasa was-was, apakah ini benar or apakah ini "illegal" di 
kemudian hari? apakah tidak akan ada tuntutan di kemudian hari?)
   
  Ironis bukan.. kita malah bisa menghancurkan bisnis/hubungan kita sendiri 
karena kelalaian lokal dan kesukaan kita menuding "pihak lain" atas kesalahan 
yg bersumber dari diri kita (dengan ataupun tanpa kita sadari).
   
  Selalu mencoba mencari kesalahan orang lain demi untuk membenarkan diri 
sendiri. itulah memang kecenderungan ironis manusia. :-)
   
  Menurut saya, sejauh dokumen-dokumen pendukung export lengkap, maka pelabuhan 
penerima tidak akan tahu bahwa barang eksport (apapun itu) illegal, demikian 
juga penerima kiriman.
   
  karena, pada saat akan dilakukan transaksi, semua pasti kan mencari harga yg 
seefisien mungkin (dalam arti kalau kita bisa dapat barang bagus dengan harga 
murah.. why not?), semua akan berpikiran sama, tidak peduli di negara manapun 
dia berada.
   
  Jadi kalau ada masalah illegal seperti ini, memang kita, sang penjual yg 
harus introspeksi diri.. dan jika memang di negara kita hal-hal seperti ini 
seringkali terjadi, maka bagian-bagian terkait hendaknya introspeksi diri dan 
mulai menjalani tindakan proaktif dan assertif utk mencegah terulangnya 
kembali, "penghancuran hutan" (dalam hal ini) untuk kekayaan pribadi dari 
oknum-oknum.
   
  Bagaimana kita bisa menyalahkan konsumen, jika produsennya pandai mengemas, 
dan meyakinkan bahwa produk mereka itu "legal" n bagus dgn harga terjangkau, 
dimana semua itu adalah yang dicari oleh konsumen dalam rangka efisiensi biaya 
di projek mereka. :-D
  Bagaimanapun, dengan alasan apapun, kita tidak dapat menyalahkan pihak lain 
atas kesalahan kita, karena pada saat kita bertindak dan melakukan suatu 
kegiatan, kita pun sdh menyadari "resiko" apapun yg timbul dan yg harus kita 
hadapi, dan kita pun seharusnya sdh mengantisipasi hal tersebut. 
   
  Memang ada beberapa "godaan" yg kita terima utk "berkhianat" tapi itupun 
berpulang ke diri kita.. mau atau tidak untuk menerima "godaan" itu dan pada 
saat kita memutuskan utk menerimanya.. pls dech jgn mem"blame" org lain atas 
resikonya karena "keuntungan/rasa enaknya" pertama-tama "pasti" akan dinikmati 
oleh diri sendiri sedangkan orang lain "mungkin" turut juga menikmatinya. hanya 
"mungkin".
   
  So.. kalau memang di pihak kita yg salah langkah.. pls banget jangan 
menggugat "pihak lain" karena pada akhirnya hanya akan mencoreng "pihak kita" 
sendiri.. Tapi cari jalan terbaik untuk mendapatkan solusi yang tepat dan 
"encouragement yg baik", sehingga pihak-pihak yg salah langkah merasa "malu" 
dan kemudian beritikad baik untuk memberikan yg terbaik kelak bagi bangsa dan 
negara sebagai penebus kesalahan/kelalaiannya.
   
  Karena kita semua belajar dari kesalahan.. karena kesalahan adalah guru yang 
terbaik. kita bisa belajar dari kesalahan diri sendiri maupun dari kesalahan 
orang lain, agar kelak kita bisa mendapatkan langkah-langkah yang tepat dan 
benar.
   
  Tanpa adanya kesalahan, kita tidak pernah tahu kebenaran dan tanpa adanya 
pengetahuan, kita tidak akan pernah melangkah maju.
   
  Salam Jaya Indonesia,
  Joejoe
   
   
  

Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Mas Mul,

Maling kayu orang Indonesia yang lari kedaratan China sudah ditangkap dan 
sekarang sedang diadili di Indonesia, yang pastinya di Medan. Tetapi kalau para 
ahli hukum dan polisi nya sangat mudah dibayar.........ya kembali lagi seperti 
jaman dulu lagi! Yang susah nya yaitu para ahli hukum dan polisi Indonesia 
banyak yang sudah tidak punya "dignity" dan "integrity" lagi kalu sudah melihat 
angka dengan nol nya yang banyak dibelakang nya.

Kayu-kayu ilegal dari Kalimantan dan Sumatra sudah diketahui beberapa INGO dan 
lokal NGO (Greenpeace dengan "rainbow warrior" nya datang ke Indonesia ditahun 
2003 (CMIIW), dan melakukan penelitian tentang perjalanan kayu ilegal dari 
Indonesia, rupanya melalui Malaysia dan pelabuhan Singapore lah, kayu-kayu 
tersebut lewat dan masuk ke China dan Jepang!
Mudah-mudahan Jepang tidak mau lagi menerima kayu ilegal, karena sebenarnya 
Pemerintah Jepang sudah membuat persetujuan (MoU) bahwa tidak akan menerima 
kayu ilegal lagi.

Jadi jangan sok ngaku-ngaku negara nya bersih dan semua "transparent", tetapi 
rupanya juga mau pelabuhan nya dijadikan tempat singgah kayu-kayu ilegal 
(berarti kan sudah ada pemasukan Devisa - dari pelabuhan, yang didapat dari 
kayu ilegal Indonesia?), yang lalu kayu-kayu tersebut diteruskan ke China dan 
Jepang.
Tentu saja selalu ada tangan-tangan jahat dari Indonesia yang mau membantu agar 
penyelundupan kayu tersebut berjalan dengan mulus.

Mudah-mudahan uang yang didapatkan dari hasil illegal logging tersebut tidak 
akan menjamin kehidupan yang tenang dan bahagia dengan seluruh keluarga nya!! 

Salam,
Yuli

Kirim email ke