Pak Chris, 

terima kasih atas tulisannya. Tulisan ini mencerahkan.
Dibutuhkan masih banyak lagi orang yang punya kepedulian seperti Bapak. 

Bersama kawan-kawan penyandang cacat dan yang memiliki keluarga penyandang 
cacat kami membentuk suatu perkumpulan untuk pemberdayaan penyandang cacat. 

Kami berharap pada suatu hari nanti Bapak bersedia datang sebagai motivator 
dalam pertemuan kami. Bersedikah ? 

oh lupa....mudah-mudahan Bapak berada tidak jauh dari Jakarta. 

Salam 

dian  




  ----- Original Message ----- 
  From: Christovita Wiloto 
  To: Sahabat-sahabatku 
  Sent: Friday, July 06, 2007 8:59 AM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Cacat? Bukan Halangan!


  Bisnis Indonesia Jumat, 06/07/2007 

  Cacat? Bukan Halangan!

  oleh : Christovita Wiloto
  CEO Wiloto Corp. Asia Pacific
  www.wiloto.com 
  http://christovita-wiloto.blogspot.com/ 

  Bagi Anda yang rajin menonton Mamamia di Indosiar, pasti tak asing dengan 
Fiersa -- satu-satunya peserta tuna netra di ajang lomba menyanyi ibu dan anak 
itu. Yang menjadikan Fiersa istimewa adalah kemampuan dan penampilannya yang 
luar biasa. Sehingga banyak penonton yang terharu sekaligus bangga 
menyaksikannya.

  Bahkan, dalam salah satu episode, Diva senior Vina Panduwinata dan Tere, 
bintang tamu yang juga hadir saat itu tak sungkan memujinya. ''Mamanya 
melakukan suatu hal yang benar. Kita harus yakin Tuhan memberi setiap orang 
kelemahan dan kelebihan. Kali ini Fiersa berhasil mengeksplorasi kelebihannya 
dengan sangat luar biasa,'' kata Vina yang kerap dijuluki si Burung Camar itu.

  Mendapat pujian seperti itu, Fiersa menanggapinya dengan rendah hati. 
''Kebetulan saya nge-fans banget sama Mbak Vina. Saya menganggap diri saya 
tidak ada kekurangan, tapi saya akui, saya memang tuna netra,'' jawab Fiersa.

  Meski belum bisa dibandingkan, tapi kepercayaan diri Fiersa mengingatkan 
orang pada Stevie Wonder. Stevie
  Wonder -- nama panggung dari Steveland Morris, yang lahir 13 Mei 1950 sebagai 
Steveland Judkins -- seorang
  penyanyi, penulis lagu, produser rekaman, dan aktivis sosial dari AS. Ia 
telah merekam lebih dari 30 hit top 10, memenangkan 21 Penghargaan Grammy 
(sebuah rekor untuk artis solo), juga satu rekor untuk lifetime achievement. Ia 
pun telah memenangkan piala untuk Lagu Terbaik dan masuk ke Rock and Roll dan 
Songwriters Halls of fame.

  Lula Mae Hardaway, ibu Stevie mengajarkan anak-anaknya yang lain untuk 
memperlakukan Steveland seperti orang normal, tidak mengejek atau membantunya 
terlalu banyak. Steveland mulai belajar menyanyi dan memainkan alat musik di 
gereja sejak usia dini, sampai akhirnya menjadi salah satu penyanyi pujaan 
dunia.

  Di pentas politik pun ada juga penyandang cacat yang hebat. Franklin Delano 
Roosevelt, misalnya. Presiden AS ke-32 ini merupakan satu-satunya presiden 
Amerika yang yang terpilih empat kali berturut-turut dari tahun 1933 hingga 
1945. 

  Roosevelt memulihkan AS dari masa ''Depresi Hebat.'' Visinya tentang 
organisasi internasional yang efektif untuk menjaga perdamaian, terealisasi 
dengan dibentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

  Di Indonesia, kita memiliki Gusdur. Mantan Presiden Republik Indonesia ini, 
walau tidak dapat melihat, namun terbukti mampu memimpin dan melihat berbagai 
aspek kehidupan di negara ini dengan tajam dan cerdas. Ini membuktikan bahwa 
dengan paradigma yang tepat para penyandang cacat bisa berada pada posisi yang 
sangat strategis.

  Dukungan Negara & Swasta

  Di negara tercinta ini, Indonesia, jumlah penyandang cacat relatif besar. 
Pada 2005 jumlahnya mencapai 6,7 juta jiwa atau 3,11 persen dari total 
populasi. Jumlah tersebut, bisa bertambah seiring dengan meningkatkan 
kemiskinan, bencana alam, kecelakaan kerja dan konflik horizontal.

  Ironisnya, pemerintah dan swasta mengakui belum mampu menyediakan sarana dan 
prasarana untuk penyandang
  cacat secara optimal. Padahal banyak aturan yang sudah dibuat untuk 
melindungi para tuna daksa ini. Misalnya
  UU No 4/1997 tentang hak-hak penyandang cacat. Di sana disebutkan, negara 
berkewajiban memberi perlindungan
  dan kesejahteraan kepada rakyatnya, termasuk para penyandang cacat seperti 
tercantum dalam UUD 1945.

  Bahkan, UU tersebut telah dijabarkan dalam SE Mensos No. A/A164/VIII/2002/MS 
tanggal 13 Agustus 2002, yang
  menyatakan agar ketentuan tersebut dapat dikoordinasikan pelaksanaannya yang 
meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) Penyediaan fasilitas/aksesibilitas 
penyandang cacat pada gedung dan sarana umum seperti yang telah dilaksanakan 
oleh sebagian instansi/lembaga di Indonesia; (2) Pembangunan gedung baru agar 
menydediakan aksesibilitas bagi penyandang cacat dengan memperhitungkan proses 
rancangbangun sesuai Kepmen PU No. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998.

  Indosiar adalah salah satu perusahaan swata yang peduli terhadap penyandang 
cacat. Di sana, dari 1.750 karyawannya, 41 orang di antaranya adalah tuna 
daksa. Rinciannya, 9 orang tuna netra, 3 orang tuna rungu, dan 29 cacat fisik. 
Mereka diberi kesempatan berkarya di bidang public relations, pemasaran, 
engineering, programing dan operator telepon. 

  Para karyawan penyandang cacat di Indosiar tadi tampak gesit dan percaya 
diri. ''Tak ada perlakuan khusus buat mereka. Karena mereka bisa bersaing 
dengan karyawan yang normal,'' kata Humas Indosiar Ghufron Sakaril, yang juga 
penyandang cacat fisik di tangan.

  Kemajuan Tehnologi

  Memang, yang dibutuhkan para penyandang cacat saat ini bukan belas kasihan. 
Tapi kesempatan. Apalagi, dengan
  kemajuan teknologi seperti sekarang, sebenarnya penyandang cacat relatif 
terbantu untuk melakukan aktivitas selayaknya orang normal.

  Bahkan, dengan teknologi Web Adaptation Technology (WAT), memungkinkan 
tunanetra mengakses Internet layaknya orang normal. WAT adalah peranti lunak 
antarmuka yang menggunakan dynamic manipulation of web content, untuk mengubah 
halaman web menjadi tampilan yang lebih mudah dipahami oleh tunanetra. Selain 
itu pembacaan content teks agar dapat didengar oleh tunanetra (text-to-speech), 
serta navigasi sederhana tanpa membutuhkan mouse, untuk mempermudah penderita 
kerusakan saraf motorik mengendalikan browser.

  Menyiapkan Lingkungan

  Menurut Sigid Widodo, Direktur Rawinala, sebuah lembaga yang merawat dan 
melatih para dwi tuna atau penderita cacat ganda, "Orang yang paling bermasalah 
bukan penyandang cacat itu sendiri, tetapi biasanya adalah orang-orang yang ada 
di sekitar penyandang cacat."

  Lebih lanjut Sigid memaparkan 6 poin penting:
  1.. Sangat sedikit kemungkinannya sebuah keluarga siap menerima kelahiran 
seorang bayi yang cacat. Pada umumnya sebuah keluarga akan mengalami problem 
psikologis yang berkepanjangan. 
  2.. Kita cenderung memandang seorang penyandang cacat dari sudut pandang dan 
pemikirannya sendiri, seperti melihat harus pakai mata, berjalan harus pakai 
kaki, berpikir harus pakai otak, mendengar harus pakai telinga. Sudut pandang 
ini pada akhirnya melahirkan "kasihan." Kita menganggap para penyandang cacat 
tidak bisa melakukan apa yang kebanyakan dilakukan banyak orang. Sikap kasihan 
yang kelihatannya melahirkan simpati itu pada akhirnya justru berkembang 
menjadi sikap yang diskriminatif. 
  3.. Pendekatan yang dilakukan terhadap penyandang cacat kecenderungannya 
adalah "charity" yang melibatkan emosi sesaat. Akibatnya penanganan penyandang 
cacat di negeri ini menggunakan pendekatan ini, bukan pendekatan transformatif. 
  4.. Banyak dari kita yang belum tahu bagaimana seharusnya bersikap terhadap 
penyandang cacat. Padahal yang harus diubah adalah cara berfikir kita terhadap 
penyandang cacat. 
  5.. Para penyandang cacat mempunyai kebutuhan yang sama sebagai manusia 
umumnya. Jika kecacatan tidak terlalu kompleks mungkin tidak ada masalah dalam 
berkomunikasi. Bagaimana halnya bagi mereka yang kecacatannya kompleks. Banyak 
orang berfikir bahwa dibutuhkan keahlian khusus, untuk menjalin relasi dengan 
orang-orang semacam ini. Sebenarnya dengan sentuhan dan belaian yang tulus, 
kita sudah menjadi sahabatnya. Kita tidak perlu menjadi ahli dulu untuk menjadi 
sahabat mereka. 
  6.. Paradigma kita tentang melihat, mendengar dan berjalan, sebaiknya harus 
diubah. Dengan kemajuan teknologi sekarang, orang buta bisa melihat. Sekarang 
penyandang tunanetra bisa menggunakan komputer dengan cepat dan sangat 
sempurna. Bisa membaca majalah apa saja dengan baik melalui "scanner". Yang 
penting buat mereka, adalah bagaimana memfungsikan indera lain sebagai 
pengganti yang tidak berfungsi. Untuk itu butuh pendidikan yang profesional dan 
berkelanjutan. 
  Perubahan paradigma kita dalam memandang para penyandang cacat, berupakan 
kunci strategis. Kesempatan adalah hal yang paling dibutuhkan. Para penyancang 
cacat memang butuh motivasi agar dia bisa mandiri dan percaya diri. Jadi, 
lupakan pendekatan belas kasihan, karena mereka akan lebih bahagia jika 
dihargai sebagai mana orang-orang normal. 

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke