aneh bin ajaib cara-cara seperti itu masih saja
terjadi  di kampus, apalagi kampus tertua di
nusantara, dan ironisnya lagi di fakultas filsafat,
yang "konon" mendasarkan diri kepada kebebasan dan
keradikalan berpikir.
halim hd.

--- leo leono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>
http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=5898&c_id=4&g_id=5
> 
> 
> Kamis, Jul 05, 2007 16:41
>  Pernyataan Protes:
> Nota Protes pada Pejabat UGM
>  - Arie Sujito, 5 Juli 2007
> 
>  Kepada Yth.
> Bpk. Rektor Universitas Gadjah Mada
> di tempat
> 
> Pada hari ini, kamis 5 Juli 2007, di fakultas
> Filsafat UGM diselenggarakan
> diskusi kerjasama pusat studi pancasila (PSP) UGM,
> IRE Yogyakarta dan LMND,
> bertema: "Makna kebangsaan dan Klas-klas Sosial di
> Indonesia" dengan
> pembicara : Max Lane (Sydney Univ), Arie Sujito
> (UGM) dan Agus Wahyudi
> (UGM). Ternyata, belum mulai diskusi, sudah
> mendapatkan tekanan dari pihak
> kepolisian untuk dihentikan (tidak dilanjutkan)
> acara tersebut dengan
> alasan, kata polisi, dikhawatirkan FPI akan datang
> untuk menyerang.
> 
> Pihak Dekan Fakultas Filsafat menyampaikan pesan
> kepada panitia agar
> kegiatan diskusi segera dihentikan, (katanya ditekan
> dari pihak
> universitas). Tetapi, panitia (dalam hal ini Agus
> wahyudi) bersepakat untuk
> selanjutkan acara ini, karena ini diskusi akademik
> di kampus, sehingga
> intervensi jelas tidak diperbolehkan. Akhirnya
> diskusi tetap dilanjutkan,
> meskipun masih dalam tekanan pihak polisi. Saya
> heran, mengapa pihak
> Universitas dan Fakultas tidak meyakinkan soal
> otonomi akademik, agar
> melarang intervensi semacam ini. Toh, sampai siang
> juga tidak ada FPI.
> Kalaulah ada pihak luar manapun, semestinya
> Universitas dan Fakultas
> memiliki otoritas untuk melindungi kegiatan diskusi
> di kampus. Juga
> kepolisian, semestinya mencegah hal ini (jika memang
> ada ancaman), bukan
> dengan menghentikannya secara sepihak.
> 
> Melalui surat ini, saya menyampaikan nota protes,
> karena intervensi semacam
> ini menjadi preseden buruk bagi kebebasan kampus
> untuk melakukan aktivitas
> diskusi, seminar atau kegiatan sejenis dalam koridor
> akademik dan dilindungi
> UU, juga sistem kita yang semestinya
> mempertimbangkan demokrasi. Saya kecewa
> atas perlakuan ini, dan sekaligus prihatin. Fakta
> ini menunjukkan pada kita
> bahwa, insan akademik kampus UGM tidak nyaman lagi
> membuat kegiatan di
> kampus, persis jaman orde baru dimana kegiatan
> kampus selalu diintervensi
> dan direpresi oleh kekuasaan secara berlebihan dan
> sepihak. Padahal,
> sekarang ini era reformasi, yang semestinya ada
> aturan main yang jelas,
> dimana politik pelarangan kegiatan akademik, dan
> sosial, tidak relevan lagi.
> 
> Kepada pihak Rektorat, Prof. Sudjarwadi, Ph.D, hal
> ini perlu menjadi
> perhatian serius, juga pihak Dekanan Filsafat, Dr.
> Abbas, agar menjadikan
> ini pelajaran berharga, untuk bersegera menghentikan
> praktek-praktek
> penindasan yang mengebiri kebebasan akademik oleh
> intervensi pihak luar.
> Semoga kasus ini tidak terulang kembali, dan menjadi
> bahan pembelajaran
> berharga dikemudian hari.
> 
> 
> Arie Sujito
> *Fisipol UGM*
> 
> 
> Salam Pergerakan,
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 



      
____________________________________________________________________________________
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect.  Join Yahoo!'s user panel 
and lay it on us. http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7 

Kirim email ke