kayaknya ini bukan pembaca kompas deh, bahasanya kasar, kurang ilmiah,  
simbolik, he.....lah wong  bendera, sekolah, dan tempat upacara di 
sekolah-sekolah Porong semuanya terendam lumpur dan gak ada yang marah. lucu ya 
parodi bangsa kita.

ajud ajudri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Aku 
yang terluka dan marah.
   
   Menyaksikan liputan demo kelompok konferensi masyarakat Indonesia yang  
menyuarakan perlindungan Ekologi di TV swasta, kemarahanku tumpah tak  
terbendung.
   
   Aku mengutuk kalian "Peserta konferensi masyarakat Indonesia yg demo  
perlindungan Ekologi" dalam sumpah serapah yang paling kotor, kalian  jahanan, 
haram jadah, semoga kau dihimpit bumi dan ditelan gelombang  laut.
   
   Aku tak sanggup tidur, badanku menggigil karena kesal, amarahku  memuncak 
dari ujung rambut sampai ke ujung kuku. Nafasku menjadi sesak  dari ubun-ubun 
sampai liang dubur...aku benar-benar marah dan kecewa.
   
   Andai aku berada disana, andai aku sanggup terbang kesana, tentu aku  akan 
bunuh kalian dengan mandauku, akan kucincang kalian,akan kucabik  jantungmu 
manusia tak berbudaya, tak beradap, tak bermoral. 
   
   Biarlah diriku terpenjara, biar aku di hukum mati, persetan semua itu.
   
   Aku tak rela benderaku kau lumpuri. Apapun makna serimonialmu, apapun  
skenario yang kau bangun, atas dalih dan tafsir apapun. Kau yang  terkutuk, aku 
tak memaafkanmu.
   
   Aku tahu bendera hanyanyalah sebuah kain. Namun itu simbul negara yang sejak 
kecil aku diajari 
    "untuk menghormati negaraku dari simbul-simbul itu,
    "untuk mencintai negeri ini, dari simbul-simbul itu.
   
   Aku bangga menjadi bagian yg menyelenggarakan acara pengibaran bendera 
setiap hari senin di sekolahku
   
   Aku turut menangis sesat Susi Susanti mencium bendera dengan mata  sembab 
karena tangis pada saat penghormatan anugrah mendali emas  pertama kita di 
olimpiade Barcelona.
   
   Aku terharu bangga saat kejadian serupa,saat Yayuk Basuki mendapat  mendai 
emas di Asian game, saat Taupik mendapatkan mendali emas  olimpiade di Atena.
   
   Aku menghargai benderaku, aku mencintai benderaku.
   
   Dirumah kami bendera selalu dilipat rapi dan di taruh dalam almari pada rak 
bagian teratas. 
   
   Saat menggunakannya, saat memasangnya, kami sekeluarga selalu  berhati-hati, 
agar ujungnya jangan tersentuh tanah. Karena kami begitu  mencintai bendera 
itu. 
   
   Kenapa kau mengotorinya dengan lumpur...aku tak terima apapun alasannya.
   
   Kalau kau membakar boneka replika para Menteri atau Presiden sekalipun.  
Tentu aku tak akan peduli. Presiden boleh berganti, Menteripun  demikian, tapi 
bedera yang kita punyai tak pernah tergantikan.
   
   Aku jelas ingat wajahmu, rambutmu yang panjang, dadamu yang telanjang,  
warna sarung yang kau pakai...aku ingat sekali wajahmu yang membuatku  selalu 
ingin muntah.
   
   Kalau kau bukan anak bangsa ini maka segeralah enyah dari negeri ini.
   
   Kalau kau anak negeri, cepatlah kau minta maaf, cepatlah kau bertobat,  
sebelum jantungmu kucabik...karena jelas aku dendam denganmu.
   
   Wahai mahasiswa yang saat itu ada disana, wahai teman polisi yang ada  
disana, wahai tentara yang ada disana, wahai bapak-bapak, teman-teman,  
saudaraku sebangsa yang saat itu berada disana, kenapa kau tak  sedikitpun 
bergerak untuk menyelamatkan merah putih kita. Kenapa kau  tak terluka, kenapa 
kau tak merasa terhina, saat benderamu di kotori  lumpur. Lupakah kalian dengan 
bendera bangsa kita. Bendera yang  diperjuangkan oleh pendahulu kita. Kenapa 
kalian menjadi begitu  pengecut, kenapa ???
   
   Aku mengutuk kalian haram jadah, pecudang negeri ini. Kalau aku ketemu  kau 
tuan berambut panjang bertelanjang dada, bersarung kotak-kotak,  akan kuracun 
kau, biar kau mati seperti MUNIR.
   
   ''''''''Bendera merah putih
   '''''''Bendera bangsaku''''''''''''''''''''''''''''''
   
   Aku anak negeri yang begitu cinta negeri ini.
                                                         
       
 
     
                       

              
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke