Yth Pak Joejoe,
Ratna (e_k) setuju Pak! Kemarin itu ratna agak tel-mi, setelah tekan 'send'
email, baru ngeh bahwa seharusnya ratna tuliskan ANAK SAYA PANDAI.
Karena setelah mempraktekan percakapan/kalimat positif serta berdasarkan
pengalaman, ratna sangat meyakini hal itu. Apalagi ada istilah ucapan itu
adalah doa. Itu benar terjadi. Jadi kita harus berhati-hatipada ucapan/kalimat
negatif, karena akan terkabul hal yang negatif.
Begitu juga buat anak-anak. Setelah bekerja ratna baru tahu teori 7habits dan
multiple intelligences. Makanya ratna sampaikan teori ini kepada anak-anak SMP
di sebuah desa, agar mereka tahu lebih awal dan tidak terlambat seperti saya.
Saya sampaikan kepada mereka bahwa walaupun mereka tidak juara bahkan jika
tidak naik kelas atau tidak mampu biaya melanjutkan ke SMA, itu bukan berarti
mereka tidak bisa apa-apa. Karena setiap anak itu punya bakat yang
berbeda-beda. Jika mereka menerapkan teori 7habits dalam kehidupan sehari-hari,
bukan tidak mungkin mereka pun bisa sukses.
Ratna juga merasa sedikit terganggu dengan artikel Kompas beberapa waktu yang
lalu tentang ADAMAIR BELOK KE PENANG, dimana ilustrasinya digambarkan seorang
suami dengan gambar telapak tangan di pipi tanda telah ditampar istrinya yang
tidajk percaya pesawat yang ditumpangi suaminya itu belok karena suatu gangguan
dan sang sitri mengira itu hanya alasan suaminya yang dibuat-buat, sehingga
sang suami ditampar.
Mengapa harus ilustrasi serupa itu yang dimuat. Mengapa tidak istri yang
membawakan air minum untuk suaminya yang lelah karena bertambahnya jam
perjalanan yang diluar dugaan. Sepertinya tindak kekerasan telah menjadi bahan
untuk kelucuan dalam media.
Maaf jika ada kata yang tidak berkenan.
Ratna
joe joe <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalau dari apa yg saya dengar, kita, sebagai manusia cenderung
menangkap satu kata daripada dua kata dalam suatu kalimat, jadi seandainya kita
bilang Tidak Bodoh, maka yang terekam adalah Bodoh.
Karena itu saya mengusulkan kalau digunakan kalimat positif --> anak saya
Pandai, karena sebodoh-bodohnya seseorang, pasti dia memiliki kelebihan/
kepandaian dalam 1 hal tertentu, sesuai dengan yang difokuskan oleh dirinya dan
juga sesuai dengan motivasinya.
Yang dibutuhkan oleh anak-anak adalah dorongan (Encouragement) utk melakukan
hal-hal positif dan juga kata-kata yang menumbuhkan kepercayaan diri.
Dengan tumbuhnya rasa percaya diri yang seimbang, rasa aman dan rasa disayangi,
akan membuat anak-anak tumbuh secara positif dan kreatif. Dan juga tumbuh
apresiasi penghargaan baik kepada diri mereka sebagai manusia dan juga kepada
hal-hal lain di luar diri mereka, sebagai lingkungan dalam kehidupan.
Mengenai orang sukses yang pernah tidak naik kelas, saya pernah mendengar
langsung dari cerita Bapak Sartono Mukadis, yang pernah on air sebagai
presenter di Radio, yang juga merupakan seorang psikolog, yang sekarang
walaupun mengalami cobaan berat dalam hidupnya, tetap mengabdikan diri utk
kemanusiaan melalui bidang yang digelutinya sebagai seorang psikolog di daerah
Buncit, bahwa sewaktu dia di SMP pernah tidak naik kelas.
waktu beliau tidak naik kelas, dia merasa sangat takut dimarahi ibunya, namun
pada akhirnya dia memberanikan diri untuk mengatakan berita tersebut kepada
sang Ibu. Ternyata sang Ibu tidak marah, namun memberikan kata-kata bijak,
HADAPILAH, itu resiko yang harus kamu jalani atas kelalaian kamu (ini saya
kutip berdasarkan ingatan saya, susunan kalimatnya mungkin tidak persis seperti
ini, tapi inti yg saya tangkap adalah seperti ini). Dan ternyata dengan
kata-kata sang Ibu yang memberikan dorongan positif, sejak saat itu Pak Sartono
bertekad dan bergiat untuk melakukan yg terbaik dalam kehidupannya dan juga
menghadapi setiap masalah yg datang di kehidupannya, walau sesulit apapun.
Hal itu pulalah yang akhirnya membuat beliau sukses dan dihormati banyak orang
yg mengenalnya sampai saat ini.
Demikian sekedar sharing dari saya.
Salam sejahtera Indonesia,
Joejoe