Oleh Aufrida Wismi W
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/17/utama/3694325.htm
===================

"Nanti jam 17 pasti padam lagi. Pokoknya empat jam mati, empat jam
hidup, dan waktunya tidak teratur," kata Zainal Arifin (40), seorang
tukang kayu yang tinggal di Jalan Bunga Asoka, Asam Kumbang, Medan
Selayang.

Zainal adalah salah seorang warga Medan yang kesal terhadap buruknya
pelayanan PT PLN yang menyebabkan listrik byarpet setiap hari.
Bagaimana tidak kesal. Lampu padam pada pagi hari tatkala warga akan
memulai aktivitas, lalu padam lagi di malam hari.

Zainal mengatakan, keluarganya sangat terganggu dengan pemutusan
aliran listrik yang terjadi dua hingga tiga kali sehari, sudah seperti
minum obat. Kejadian mati lampu bisa terjadi antara pukul 20.00 dan
23.00, kemudian terjadi lagi pukul 02.00 hingga pukul 08.00. Setelah
menyala, pemadaman dilanjutkan lagi pukul 11.00 hingga pukul 13.00.

Jika listrik mati pada malam hari, keluarga dengan dua anak itu tak
bisa tidur. Hawa Kota Medan sangat panas memasuki musim kemarau bulan
ini. Tanpa kipas angin, tidur tidak nyaman, apalagi jika nyamuk terus
berdengung di telinga. "Kami tertidur karena tangan capek kipas-kipas.
Terlelap sebentar lalu bangun lagi," tutur Hayarni (32), istri Zainal.

Ketidaknyamanan itu membuat Zainal "gondok" dan berbuntut menyesal
ikut pemilu karena merasa pemerintah tidak berhasil mengatasi
persoalan yang dihadapi warga Medan. Oleh karena itu, Zainal dan
istrinya sepakat tidak ikut pemilu tahun depan. "Saya capek dikibuli
terus," kata Zainal dengan emosi.

Kehidupan warga Medan pada seluruh lapisan masyarakat tak bisa
dilepaskan dari kebutuhan listrik. Jika listrik mati tiga kali sehari
seperti terjadi di Medan sejak enam minggu terakhir, pasti timbul
kekacauan aktivitas, kerugian, hingga kemarahan.

Apalagi krisis listrik sudah lama terjadi, tetapi PLN dan pemerintah
belum punya solusi untuk mengatasi persoalan yang dihadapi rakyat.
Listrik mati di Medan telah menjadi cerita sejak tahun 2002 yang terus
berulang kembali hingga kini.

Warga sibuk mengomel, mengenai cerita cucian belum disetrika dan
menumpuk. Peralatan listrik, televisi, komputer, dan lemari pendingin
rusak karena tegangan naik turun. Di luar rumah, lampu pengatur lalu
lintas banyak yang padam. Kemacetan terjadi di mana-mana.

Mereka yang mempunyai uang berlebih mungkin mampu membeli genset,
tetapi kebanyakan warga menggunakan lampu minyak atau lilin.

Yusragil (23), pemilik usaha jahit jas di Jalan Menteng, Medan,
mengatakan, jika listrik normal, tiga pegawainya bisa membuat
masing-masing satu setel jas sehari. Namun, saat listrik mati sebulan
terakhir, satu setel jas baru bisa diselesaikan dalam dua hari. Omzet
menurun hingga Rp 2 juta selama sebulan.

Jika Yusragil tak mampu membeli genset, Suryati sudah membeli genset
sejak tahun lalu. Namun, keuntungan penjahit borongan di Jalan Bromo,
Medan, itu berkurang Rp 1,2 juta per bulan untuk membeli solar.
"Listrik mati wajar, tapi kalau saban hari ini merugikan," kata
Suryati lemas.

Ia bekerja untuk memenuhi kontrak dengan pelanggan dan membayar enam
pegawainya. Anehnya, kata Suryati, rekening listrik tidak turun, malah
ada kecenderungan naik dari yang biasanya Rp 300.000/bulan menjadi Rp
400.000/bulan.

Semua orang sudah lelah berkeluh kesah. Isa (42), reparator elektronik
di Jalan Bromo, tidak bisa bekerja. Saat kerusakan komponen elektronik
hampir ditemukan, listrik padam. Televisi yang harus diservis di
bengkelnya menumpuk.

Para pengusaha kecil di Kompleks Pusat Industri Kecil (PIK) Menteng
Medan mengeluhkan hal yang sama. Haji Yusbir (35), pemilik usaha jahit
di PIK, sudah menjual dua mesin jahitnya untuk membiayai proses
produksi. "Katakan ke pemerintah, kami benar-benar kecewa," kata Haji
Yusbir. Dari 99 ruko yang ada di PIK, 70 persen di antaranya terus
merugi karena banyak order yang tak bisa dipenuhi.

Industri juga merugi

Tak hanya industri kecil yang kembang kempis, usaha besar pun
demikian. Ketua Asosiasi Pengusaha Seluruh Indonesia (Apindo) Sumatera
Utara Parlindungan Purba mengatakan, setiap bulan 400 perusahaan di
Sumut yang tergabung dalam Apindo merugi Rp 200 miliar. Itu hanya
untuk pembelian bahan bakar genset. Belum kerugian akibat kerusakan mesin.

Semua kantor PLN, baik cabang maupun pusat di Medan, pernah didemo
warga. Petugas PLN juga capek mendengar keluhan. Saat Kompas mencoba
menelepon nomor 123 layanan pelanggan PLN, tak ada lagi petugas yang
mengangkat telepon.

Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan mencatat selama bulan
Juni-Juli sudah terjadi 14 kasus kebakaran yang timbul sebagai akibat
listrik mati. Enam kasus kebakaran di antaranya diawali dari api
lilin, selebihnya karena korsleting listrik dan lampu. Kerugian
ditaksir sebesar Rp 2 miliar. Satu orang juga dilaporkan tewas karena
menghirup asap genset.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro saat
berkunjung ke Samosir awal Juli lalu mengatakan, ia sudah bicara
dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang mempunyai PLTA
untuk tukar-menukar energi listrik sebanyak 90 MW. PLN memasok siang
hari untuk PT Inalum, PT Inalum akan memasok listrik di malam hari
kepada PLN. Namun, hingga Jumat lalu, General Manager PLN Wilayah
Sumatera Utara Supriyanto mengatakan, belum ada keterangan dari PT
Inalum untuk memasok daya ke PLN.

Untuk mengatasi keadaan darurat ini, PLN mengumpulkan sumber-sumber
listrik yang ada di masyarakat. Asosiasi Pusat Perbelanjaan dan
Perkantoran Sumatera Utara bersedia menyuplai listrik ke PLN 20 MW.
"Minggu depan kerja sama dengan Sun Plaza dimulai. Mereka akan memasok
6-8 MW," kata Supriyanto. PLN menyewa pembangkit 15 MW.

September-Oktober nanti diharapkan ada 30-40 MW tambahan pada siang
hari saat interkoneksi antara Sumatera Selatan dan Utara tersambung.
Ada penambahan dari sewa genset sebanyak 35 MW pada akhir tahun. Sumut
akan merelokasi PLTG Apung Palembang yang menghasilkan listrik 35 MW.



Kirim email ke