Betul sekali Mbak TIa,

Terimakasih untuk masukan dan supportnya, menjadi lengkap apa yang
ingin saya nyatakan.

Mariana

Friday, July 13, 2007, 4:53:43 PM, you wrote:

> Dear Ibu Mariana,

> Saya sependapat dengan ibu. Saya juga ingin tambahkan sedikit saja, boleh
> ya bu..? definisi 'kelas' pada konteks ini tidak semata-mata dari aspek
> ekonomi saja, tetapi juga aspek sosial yang lain, misalnya pendidikan.
> Banyak perempuan Indonesia yang kini 'berpendidikan' tetapi tetap saja
> realitasnya ketika harus terjun ke dunia kerja harus terperangkap pada
> pilihan-pilihan pragmatis yang sulit dihindari, alasan yang paling
> sederhana adalah bagaimana melanjutkan hidup, apalagi bagi mereka yang
> punya keluarga. Perempuan berpendidikan yang lain, juga banyak lho yang
> dengan rendah hati menyembunyikan sifat maskulinitas mereka, dan
> mentransformasikan jiwa struggle itu ke dalam bentuk-bentuk feminin. Kalau
> di kelas bawah (perempuan miskin)bukan berarti mereka gak punya kecerdasan
> sosial lho ya..mereka berbagi solidaritas juga dengan berbagi risorsis
> ekonomi,bahkan di daerah2 konflik agensi kaum perempuanlah yang paling
> berperanan untuk meredam konflik, misalnya ketika belanja di pasar, mereka
> saling berinteraksi. Perempuan lain yang mentransformasi jiwa maskulin ke
> dalam bentuk feminin, seringkali juga difasilitasi lewat teknologi,
> misalnya bagaimana banyak database di internet justru banyak dirawat oleh
> kaum perempuan lhooo.... Mereka jauh lebih rendah hati dan tidak
> terpancing sekedar berkompetisi. Jadi, yah..spektrumnya meman luas. Itu
> dulu Bu Mariana, sekedar support untuk anda dan Pak Bambang ya..

> salam takzim dari yogya

> tia

Kirim email ke