http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/17/Politikhukum/3694344.htm
==================

Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono minta kepada
kalangan pers untuk mengawasi dirinya, para menteri, kepala daerah,
dan para pejabat daerah, terutama untuk mengimplementasikan sejumlah
kebijakan pembangunan ekonomi dengan tujuan peningkatan kesejahteraan
rakyat.

Peningkatan kesejahteraan rakyat itu diharapkan mewujud dalam
penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran dan
pengurangan jumlah rakyat miskin.

"Pers, lakukan kontrol dan pengawasan kepada saya, para menteri, serta
pejabat di daerah. Pastikan semua bekerja untuk itu," ujar Presiden
dalam sambutan peresmian pabrik motor TVS asal India di Karawang, Jawa
Barat, Senin (16/7).

Presiden menuturkan kabar gembira terkait dengan pertumbuhan ekonomi
triwulan pertama tahun 2007 yang mencapai 6 persen di mana investasi
memberi sumbangan yang cukup besar. Dengan peningkatan konsumsi,
didorongnya pengeluaran pemerintah, dikembangkannya ekspor, dan makin
membaiknya investasi, pertumbuhan lebih besar akan dapat dicapai.

Untuk prasyarat tumbuhnya ekonomi yang berujung pada peningkatan
kesejahteraan rakyat, Presiden minta iklim investasi yang baik terus
dipertahankan.

"Jajaran pemerintah di daerah, galakkan pertumbuhan ekonomi dan
majukan investasi sambil terus melakukan perbaikan iklim investasi dan
dunia usaha. Permudah setiap urusan. Jangan dipersulit semua itu,"
ujarnya.

Di era globalisasi, Presiden mengemukakan, ekonomi yang dianut
Indonesia adalah ekonomi terbuka. Dengan keterbukaan, kemitraan dan
kerja sama dengan negara lain menjadi prasyarat. Untuk kemitraan dan
kerja sama itu, Presiden memegang prinsip keadilan dan membawa manfaat
untuk rakyat.

Permintaan Presiden kepada pers untuk mengawasi dan mengontrol para
pejabat, termasuk dirinya, terkait tujuan untuk peningkatan
kesejahteraan rakyat memang beralasan.

Beberapa kali, kebijakan yang dibuat pemerintah pusat kerap tidak
terimplementasikan dengan baik di tingkat daerah atau di tingkat
pelaksana. Contoh kasus terakhir adalah penanganan korban semburan
lumpur panas PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur.

Terhadap kebijakan pusat yang sudah dikeluarkan, pelaksanaannya di
lapangan jauh dari perkiraan dan harapan. Untuk tidak berjalannya
kebijakan pemerintah ini, Presiden sampai menangis mendengar keluhan
dan derita beberapa warga yang langsung diterima di kediamannya di
Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat. (INU)



Kirim email ke