Memangnya berapa besar sih prosentase SUBSIDI yang dikeluarkan terhadap anggaran pemerintah? Setau saya subsidi busway setiap tahun Rp 390 Milyar (itu untuk kapasitas maksimal - 100% bus beroperasi), dan APBD DKI tahun 2007 sebesar Rp 20 T. Prosentase subsidi terhadap APBD cuman 0,0195 atau kurang lebih 2% dari APBD.
Setau saya besarnya subsidi Busway sekarang dipotong hingga tinggal Rp. 203 Milyar (ada beritanya di KOMPAS bbrp hari y.l. kalo gak salah). Jadi karena subsidinya tinggal ~200 Milyar itu lah mengapa tidak 100% bus bisa beroperasi (padahal jumlah bus untuk tiap koridor sudah cukup). Nah, yang 390 - 203 = 187 Milyar itulah yang akan ditutupi dengan menaikkan harga tiket, hitungan kenaikannya kurang lebih sbb.: 187 Milyar/365 = +512jt/hr; kalo diasumsikan jumlah penumpang busway per hari +200,000 orang, maka 512jt/200,000 = +2500. Kalo harga tiket busway sekarang Rp. 3500, maka kemungkinan harganya akan naik menjadi 3500 + 2500 = Rp.6000 � kalo gak salah emang rencananya mau naek jadi Rp.5000 atau Rp.6000 bukan??). From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Putra Sent: 06 Agustus 2007 17:58 To: [email protected] Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Kenaikan Tarif Transjakarta. Perlukah? --- In [email protected] <mailto:Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com> , "Indra Prasetyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Setuju Bang Sonar, tapi coba abang tanyakan ke bapak/ibu anggota DPRD DKI yg terhormat kenapa subsidi untuk Busway dipotong?? Apa supaya ada anggaran untuk menaikkan tunjangan2 dan fasilitas yg mereka terima..?? > Untuk Mas Putra, kalo saya melihat hitung2annya busway spt ini (sekaligus menjawab pertanyaan Pak Rudyanto): > misalnya biaya operasional untuk mengoperasikan semua bus yang tersedia adalah 100. Dari pemasukan tiket diperoleh 60, sehingga kurang 40. Nah, yg 40 inilah yg seharusnya disubsidi atau dibayarkan oleh pemerintah (PEMDA DKI) ke operator. Sekarang, berhubung subsidi yg 40 itu dipotong oleh anggota dewan kita yg terhormat, katakan, menjadi 20, maka operator mau tidak mau harus mengurangi jumlah bus yang beroperasi sehingga biaya operasionalnya menjadi 80. Akibatnya sudah kita bahas, jarak kedatangan antar bus menjadi lama, sehingga jalur busway menjadi kosong dan dimanfaatkan pengendara lain, calon penumpang bertumpuk di halte, dan penumpang berdesak2an di dalam bus. Nah, kekurangan yg 20 ini lah yg akan ditutupi dengan menaikkan harga tiket. :: Kalau saya lebih melihat kekurangan 20 ini LEBIH PANTAS diserap oleh anggaran pemerintah, ketimbang anggaran rumah tangga rakyatnya yang membuat biaya transportasi membengkak. Memangnya berapa besar sih prosentase SUBSIDI yang dikeluarkan terhadap anggaran pemerintah? Setau saya subsidi busway setiap tahun Rp 390 Milyar (itu untuk kapasitas maksimal - 100% bus beroperasi), dan APBD DKI tahun 2007 sebesar Rp 20 T. Prosentase subsidi terhadap APBD cuman 0,0195 atau kurang lebih 2% dari APBD. BANDINGKAN, spending subsidi sebesar 2% dari APBD masih jauh lebih kecil daripada spending masyarakat golongan bergaji pas2an (SUMR = sekitar UMR) untuk biaya transportasi. UMR DKI sekitar Rp 900.000, kalau dengan tarif transjakarta saat ini saja Rp 3500 sudah menghabiskan setidaknya 20% besaran gaji (asumsi 25 kali perjalanan pulang pergi tiap bulan). Apa ini adil? Jadi kalau tarif terus dinaikan, padahal golongan pas2an saja sudah berat menerima tarif ini, larinya kemana? KEMANA LAGI KALAU BUKAN ke SEPEDA MOTOR yang jauh lebih irit, efisien, dan cepat. Alhasil, jalanan sekarang dipenuhi banyak SEPEDA MOTOR, yang sudah menjadi bagian dari salah satu penyebab KEMACETAN ibukota. p [Non-text portions of this message have been removed]
