Sama-sama Bapak.... Sebenarnya data base "Daftar Pemilih Tetap" pemilu 2004 pun jauh terlebih untuk daerah-daerah perkotaan dari sempurna, kenapa ? ada 2 hal krusial yang menjadi penyebabnya yaitu sbb :
1. Petugas pantarlihnya kebanyakan berasal dari tenaga-tenaga freelance, untuk daerah-daerah sekitar perkotaan berasal dari adik-adik kita para mahasiswa-mahasiswi, sementara itu untuk daerah-daerah pedesaan berasal dari adik-adik kita para anggota Karang-Taruna. 2. Seperti sebelumnya saya katakan, petugas pantarlih itu bekerja mendatangi warga secara door to door pada siang hari, karena itu umumnya yang mereka temui hanyalah para pembantu rumah tangga. jangankan untuk mendapatkan data yang akurat ! dah dibukakan pintu pagar saja sudah Alhamdulillah. Kedua hal tersebut diatas akan terus menjadi "Lingkaran Setan" kalo tidak diperbaiki dan atau tidak muncul kesadaran dari kedua belah pihak. Demikian tambahan lebih lanjutnya Pak... Salam kembali, Suhaimi ----- Original Message ----- From: bodo_kerlchen To: [email protected] Sent: Tuesday, August 07, 2007 8:24 PM Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Pilkada DKI -- HAK SUARA ANEH Terima kasih atas "tambahan" nya, yang secara implizit anda membenarkan asumsi saya bahwa pelaksana agak kurang mahir (bila tidak ingin dikatakan tidak becus) dalam memelihara data dasar. Kependudukan adalah salah satu data dasar yang amat sangat penting dan strategis dalam suatu NEGARA, karena data itu banyak menjadi acuan dari data-data statistik yang pada akhirnya adalah dasar dari beberapa keputusan dan kebijakan penting. Dikarenakan aktualisasi atau updating dari data tersebut MUTLAK bagian dari maintenance atau pemeliharaan data dasar, maka tidak dikenal istilah "diperbaharui sekedarnya", sekalipun tindakan itu gratis!! Apalagi bila nyatanya menjelang pemilu 2004 dimaksud, tindakan tersebut telah menelan biaya yang jumlahnya sangat luar biasa, kemungkinan sangat cukup untuk mencegah minimal sebagian besar dari gedung sekolah yang ambruk dengan percuma??? Sejak nyaris 62 tahun negeri ini merdeka, KTP adalah SATU-SATUnya idetitas diri rakyat dewasa yang otentik didalam negeri. Dengan kata lain, "anjuran" anda untuk kembali menggunakan KTP, memang sudah seharusnya begitu, sebab sebelum pemilu 2004 pun memang sudah begitu adanya dan bila dilaksanakan dengan cermat, memang telah terbukti sejak tahun 50an berfungsi dengan baik. Saya tidak mengatakan bahwa cara seperti itu dapat mencegah manipulasi hasil pemilihan dan tidak repot .. semua tugas bila dilaksanakan dengan benar, memang repot .. tapi bila hasilnya mendekati sasaran, kan repotnya tidak merupakan beban dan yang sudah pasti, TIDAK PERCUMA. Satu hal lagi, mengenai KTP GANDA, selama pelaksana pengguna data dasar TIDAK BISA/MAU TERTIB dalam menuliskan NAMA dan TANGGAL LAHIR penduduknya, jangan harap hal itu dapat dihindarkan dalam waktu singkat. Salam, Bodo
