Oke Rosgana dan Permainan Kreatif

Oleh Anton

Kompas hari senin (22/10/07) menurunkan rubrik yang menarik tentang 
Yoyo Rosgana. Terus terang nama orang ini baru saya dengar, tapi 
dilihat dari prestasinya lewat permainan dan kemampuan mendisain  
yoyo, membuat saya bangga dengan Oke sebagai anak bangsa Indonesia 
yang telah memberi hiburan di negeri orang lain. Bahkan di Sudan 
dengan penuh keharuan berbondong-bondong orang menonton aksi Oke 
yang beberapa kali mengadakan pertunjukan dan diwawancarai TV 
setempat. Oke pulang dalam gegap gempita melepas kepulangannya 
karena ia berhasil menghibur warga Sudan.

Sudah saatnya kita lebih intens memperhatikan bentuk-bentuk 
permainan kreatif yang dapat melatih otak. Anak-anak dibawah sepuluh 
tahun harus dikenalkan pada permainan yang mampu merangsang otak 
seperti : yoyo, gasing, gundu, lego dan banyak permainan yang dulu 
ketika jaman permainan elektronik belum mewabah seperti sekarang. 
Saya ingat teman kecil saya yang pada umur 10 tahun sudah mampu buat 
kapal uap sederhana yang bahan bakarnya dari minyak tanah. Sekarang 
saya perhatikan anak-anak lebih senang main games. Saya sendiri 
tidak tahu dengan dampak permainan games pada anak-anak tapi yang 
saya perhatikan adalah mereka cenderung menjadi lebih asosial 
ketimbang anak-anak jaman dulu yang bermain selain kreatif juga 
melatih hubungan sosial seperti main gundu atau layangan. 

Oke Rosgana termasuk beruntung karena proses kreatifnya diperhatikan 
bahkan SMAN 1 Subang memberikan kesempatan untuk  Oke mengajar 
permainan yoyo. Saya sangat membenarkan pendapat Oke yang mengatakan 
bahwa permainan yoyo dapat melatih secara optimal kerja otak kiri 
dan kanan pemainnya. Jika para psikolog pendidikan membenarkan hal 
ini sudah saatnya kurikulum pendidikan kita menekankan pada aspek 
kreatif bukan aspek teoritis-hapalan yang membebankan murid dengan 
buku-buku wajib dan bikin kaya penerbit-penerbit buku pelajaran 
lewat kongkalingkong antara pihak sekolah dan penerbit yang menekan 
keuangan orang tua murid. Penekanan aspek kreatif ini dapat 
merangsang para siswa melatih pikirannya dengan tidak membeo. Karena 
saya perhatikan siswa yang dimenangkan dalam kurikulum gaya 
Indonesia adalah siswa yang mampu menghapal bukan siswa yang 
berpikir kreatif. Hal ini kerap menimbulkan tumbukan psikologis bagi 
sang anak yang merasa dirinya tersingkirkan dalam sistem besar 
kekuasaan pendidikan. Padahal kecerdasan itu bukan dilihat dari 
aspek menghapal saja, tapi juga memiliki banyak dimensi-nya, 
termasuk berpikir kreatif. Orang yang berhasil dalam kehidupan 
biasanya adalah orang yang mengetahui bakatnya dan ketertarikannya 
pada satu bidang, walaupun bidang itu berlawanan dalam arus 
kekuasaan  sistem pendidikan namun dia berani melawan. Ahmad Dani 
pentolan Band Dewa adalah salah satu contoh orang yang berhasil 
mengasah bakatnya dan melawan sistem pendidikan yang dirasa 
mengekang dirinya. Prestasi Ahmad Dani jelas lebih tinggi nilainya 
dari orang-orang yang sebenarnya tidak berbakat tapi memaksakan diri 
untuk ikut ke dalam arus besar kekuasaan pendidikan, maka timbullah 
gelar-gelar pendidikan tak berbunyi. 

Dulu RCTI juga dengan rutin menayangkan acara dari Jepang yang 
banyak diikuti anak-anak dalam mengolah imajinasinya dengan kerja-
kerja kreatif. Saya heran acara ini tidak ditiru oleh televisi-
televisi lokal kita yang punya kebiasaan sering meniru itu. Yang 
populer justru acara melatih anak-anak berdakwah agama. Saya sangsi 
apa mereka mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, karena saya 
sering perhatikan apa yang mereka bicarakan dalam dakwah merupakan 
persoalan orang dewasa. Apa disini lantas anak-anak dilatih untuk 
membeo? Atau memang disinilah letak kesalahan kita dari awal. Lebih 
melatih anak untuk bicara daripada berpikir kreatif?........

ANTON


Kirim email ke