Dear rekan-rekan milis,
 
Menanggapi artikel Saudara "Steven Sterk" dalam artikelnya yang berjudul
"Rating Palsu AC Nielsen", rasanya banyak sekali hal yang perlu
dijernihkan.
 
Steven Sterk:
Ibaratnya sebuah hakim , rating adalah kata penentu kemenangan atau
kekalahan dalam dunia pertelevisian di Indonesia. Hidup atau matinya
sebuah program televisi sangat tergantung oleh angka rating yang bagus.
Kalau sebuah program televisi mendapat rating yang tinggi, maka dapat
diasumsikan akan ada banyak pendapatan dari iklan yang akan masuk ke
televisi tersebut. Namun sebaliknya bila rating sebuah program turun,
televisi tersebut kehilangan pemasukan iklan.

Dengan demikian rating adalah TUHAN bagi para pekerja televisi. Mereka
rela berjumpalitan kerja siang malam demi memperoleh angka rating
tersebut. Di Indonesia ,SATU- SATUNYA jasa penyedia rating adalah AC
nielsen, perusahaan dari Amerika ini praktis menjadi tumpuan utama atau
MONOPOLI bagi semua stasiun televisi , biro iklan dan semua produsen
pemasang iklan.
AGBNielsen:
Benarkah rating menjadi penentu hidup matinya suatu program atau stasiun
TV? Apakah rating juga menjadi acuan bagi industri TV dan periklanan?
Kenyataannya, rating cuma satu dari sekian banyak analisis yang
dihasilkan dari Survei Kepemirsaan TV yang digunakan oleh industri dalam
menjalankan bisnisnya. Dalam industri TV, penyelenggara survei
kepemirsaan TV di Indonesia adalah AGB Nielsen Media Research (bukan AC
Nielsen), yang berkantor pusat di Milan (Italia) dan Buochs serta Lugano
(Swiss), bukan di Amerika. Survei kuantitatif ini berjalan secara
berkesinambungan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di lebih dari 30
negara lainnya. Sebagai potret dari kepemirsaan TV, data yang dihasilkan
dari survei ini menjadi mata uang (currency) yang berlaku secara global
sebagai nilai tukar di dalam industri. Hasil dari survei ini diperlukan
oleh industri untuk mengetahui jumlah pemirsa, profil pemirsa, berapa
biaya dalam beriklan untuk menjangkau sejumlah pemirsa tertentu, dan
sebagainya. Dengan miliaran rupiah yang dihabiskan setiap tahunnya untuk
program dan iklan TV, informasi atas kepemirsaan TV tentunya diperlukan
untuk mengevaluasi dan memaksimalkan efektivitas investasi tersebut.
 
Semua standar pelaksanaan survei AGBNielsen ini disusun berdasarkan
panduan "Global Guidelines for Television Audience Measurement" (GG
TAM), yang dipublikasikan pada tahun 1999 dan berlaku secara
internasional. Standar global atas pengoperasian TAM ini penting karena
semakin banyak perusahaan media, pengiklan dan agensi periklanan yang
mendunia dan membutuhkan informasi kepemirsaan TV yang berstandar
internasional, di mana perhitungan angka 1 rating di Indonesia sama
dengan 1 rating di Italia dan Afrika, misalnya. Seiring dengan
konsolidasi yang terus berjalan dalam industri periklanan TV, dan
semakin banyak perusahaan yang menciptakan jejak global, kebutuhan akan
riset kepemirsaan multinasional yang homogen tentunya juga akan terus
tumbuh. Dengan pelaksanaannya yang berlangsung di banyak negara, Survei
Kepemirsaan TV ini diawasi dan diaudit oleh kantor pusat AGBNielsen
untuk memastikan compliance terhadap standar internasional yang
ditetapkan sehingga segala penyimpangan yang mungkin terjadi akan segera
terdeteksi.
 
Meski hasil survei ini menjadi mata uang dalam industri, informasi yang
dihasilkan dari survei ini bukanlah satu-satunya acuan bagi kelangsungan
bisnis penyiaran dan periklanan. Tentunya setiap metode memiliki
kelemahan dan kelebihan. Namun baik kualitatif dan kuantitatif merupakan
metode yang bisa saling melengkapi untuk memperkaya penelitian.
AGBNielsen sendiri memfokuskan riset kepemirsaan TV ini pada penelitian
kuantitatif. Dan penelitian kuantitatif ini tidak terkait dengan
kualitas program. Tentu saja karena metodenya kuantitatif, hal-hal yang
menyangkut alasan menonton untuk menggali kualitas program tidak bisa
diungkap. Hasil riset ini semacam "pisau bedah" yang bisa dipilih oleh
pengguna data, mau ditelan mentah2 atau mau digunakan secara bijaksana.
Untuk memperkaya hasil survei AGBNielsen yang sifatnya kuantitatif,
industri juga melakukan survei kualitatif untuk mengetahui di antaranya
apa yang diinginkan oleh pemirsa TV dari program TV, apa alasan pemirsa
menonton program tertentu, bagaimana perilaku membeli konsumen, gaya
hidup, dsb. Informasi yang tentunya tidak bisa diperoleh dari survei
kuantitatif. Karena sekali lagi, Survei Kepemirsaan TV yang dilakukan
oleh AGBNielsen hanya memotret kebiasaan menonton dari pemirsa di 10
kota besar di Indonesia.
 
Steven Sterk:
Selama 14 tahun terakhir ini AC Nielsen juga selalu berhasil menampik
semua tudingan yang mempertanyakan keabsahan penelitiannya, maupun
validitas data responden yang telah ditebarnya. Namun sebenarnya jaminan
mutu internasional itu hanyalah lip servis semata. Kenyataannya sungguh
jauh dari tampilan make up luarnya.
AGBNielsen:
Validitas data AGBNielsen bisa dibuktikan dari Tingkat Kepercayaan
(Confidence Level) dan Margin of Error yang berlaku dalam dunia
statistik untuk menggambarkan keterwakilan sampel terhadap populasi,
dalam hal ini populasi TV. Tingkat kepercayaan yang ditolerir oleh
AGBNielsen sebagai gambaran keterwakilan sampel terhadap populasi adalah
sebesar 95%. Sementara Tingkat Kepercayaan sampel AGBNielsen di 10 kota
besar di Indonesia adalah sebesar 98.89%. Artinya kepercayaan bahwa
sampel mewakili populasi TV hampir mencapai 100%.
 
Steven Sterk:
Yang pertama AC Nielsen Indonesia tidak memiliki tenaga handal
profesional yang direkrut dari luar negeri demi menjaga kerahasiaan
sistem mereka, seperti yang selalu diklaimnya. AC Nielsen Indonesia yang
sekarang banyak ditangani oleh para pekerja Indonesia , yang sebagian
besar dari mereka adalah fresh graduated ( sebagian besar adalah 
lulusan statistik dan matematika ). Sehingga kerahasiaan sistem mereka
sebenarnya tidak benar- benar seperti benda suci yang selalu mereka jaga
kerahasiaannya. Mereka banyak merekrut tenaga dari dalam negeri dengan
anggapan bahwa tenaga dari Indonesia adalah jauh lebih murah dibanding
mempekerjakan tenaga dari negara mereka yang sudah berpengalaman. Bahkan
Hampir setengah dari tenaga lapangan AC Nielsen adalah para mahasiswa
yang belum lulus dengan hitungan tenaga magang. Sehingga dengan tujuan
efisiensi pada sumber daya manusia , mereka dapat lebih banyak mendapat
keuntungan.

Yang Kedua dengan banyak merekrut tenaga kerja baru lulus kuliah dan
mahasiswa magang, AC Nielsen banyak memberikan toleransi kesalahan data.
Terutama data- data yang ada di lapangan. Sering sekali saya alami
penyimpangan data terjadi hanya karena keteledoran SDM semata- mata.
AGBNielsen:
Untuk memperoleh tenaga handal profesional, tidak harus dari luar
negeri. Tenaga lokal pun memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan
tenaga asing. Semua tenaga yang direkrut oleh AGB Nielsen melalui proses
seleksi yang sangat ketat. Khususnya mengenai keberadaan panel, bahkan
statusnya pun dirahasiakan dari karyawan AGBNielsen yang tidak
berkepentingan langsung dengan panel tersebut. Kerahasiaan panel ini
sangat dijunjung tinggi untuk menghindari kemungkinan intervensi dari
pihak-pihak lain, khususnya pelaku industri, yang nantinya justru akan
mempengaruhi survei itu sendiri. 
 
Survei ini juga melalui beberapa tahapan kendali mutu (quality
control/QC) untuk meminimalisir kemungkinan kesalahan yang bisa terjadi.
QC dilakukan sebanyak 5 kali dalam tujuh tahapan survei, yang mencakup
QC pada saat Establishment Survey (untuk menentukan populasi TV), QC
pada saat Rekrutmen Panel, QC pada tahap pemasangan alat Peoplemeter dan
penarikan data, dan QC pada tahap produksi data. Para petugas yang
terlibat di bagian operasional, termasuk petugas lapangan (Technical
Field Officer), dikontrol performa kerjanya melalui standar KPI (Key
Performance Indicator), di mana para petugas dengan KPI di bawah standar
akan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja.
 
 
Steven Sterk:
Yang Ketiga Untuk pemilihan demografis responden rating televisi
cenderung dilakukan dengan asal - asalan. Dan tidak diusahakan
pemerataan pada sebaran datanya Misalnya , untuk mengetahui berapa
kecendrungan pemirsa untuk tayangan televisi A, mesti diambil jumlah
responden yang seimbang misalnya untuk kelas ekonomi atas 33,3%, kelas
ekonomi menengah 33,3 %, untuk kelas ekonomi bawah 33,3%, sehingga total
100%. Sehingga angka rating yg didapat adalah lebih obyektif. Namun pada
prakteknya , AC Nielsen Indonesia banyak mengambil data responden
sebagian besar dari kelas ekonomi rendah. Profil mereka sebagian besar
adalah : ekonomi kelas rendah, berpendidikan rendah, tidak mempunyai
pekerjaan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima,
karyawan toko, buruh pabrik, dan lain- lain. Hal ini menjelaskan mengapa
sebagian besar tayangan televisi nasional yang memiliki rating tinggi
justru yang memiliki cita rasa rendah dan apresiasi seni yang rendah.
Seperti musik dangdut, tayangan gosip artis, tayangan mistik, film- film
hantu, dan sinetron - sinetron picisan.

Tayangan -tayangan televisi yang justru bersifat mendidik dan
mencerdaskan akan selalu mendapat nilai rating yang rendah dari AC
Nielsen. Kebijakan ini diambil AC Nielsen karena ia tidak mau membayar
uang imbalan untuk respondennya. Sehingga responden yang diambil adalah
kebanyakan dari kaum ekonomi bawah agar bisa dibayar murah.
Yang Keempat Untuk pemilihan responden secara geografis juga dilakukan
dengan tidak merata. Sebaran data yang diambilnya tidak pernah dilakukan
dengan distribusi yang sama rata secara nasional, melainkan sekitar
lebih dari 60% datanya hanya terkumpul dari Jakarta saja.
AGBNielsen:
Survei AGBNielsen mencakup 10 kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya,
Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan
Banjarmasin. Tingkat penyebaran panel didasarkan pada survei awal atau
Establishment Survey (ES) di 10 kota tersebut untuk menetapkan dan
mengidentifikasi profil demografi penonton TV.  Dari ES, akan didapatkan
jumlah rumah tangga (berusia 5 tahun ke atas) yang memiliki TV yang
berfungsi dengan baik atau disebut populasi TV. 
 
Hal yang sama juga berlaku dalam hal penyebaran panel berdasarkan target
pemirsa, misalnya Status Ekonomi Sosial (SES), pendidikan, pekerjaan,
dsb. Sama dengan penyebaran panel per area yang telah dijelaskan diatas,
pembagian panel per SES juga didasarkan atas ES. Jika dari ES tergambar
bahwa populasi TV Jakarta sejumlah 19% berasal dari SES A, maka panel
SES A yang direkrut pun sebanyak 19% dari total panel Jakarta. Demikian
pula, penyebaran panel secara keseluruhan pun didasarkan atas proporsi
di tingkat populasi yang persentasenya tentu tidak merata antara kelas
atas (26%), menengah (51%), dan bawah (23%). Dengan demikian, penyebaran
panel tidak bisa disamaratakan dengan proporsi masing-masing 33,3%
karena yang akan terjadi nantinya justru sampel tidak mewakili populasi.
Pemilihan panel ini juga tidak ada kaitannya dengan uang imbalan yang
harus dikeluarkan untuk membayar para responden. GGTAM juga mengatur
mengenai 'imbalan' yang diberikan kepada panel, yang bentuknya tidak
berupa uang.
 
Tayangan TV tidak mendapat nilai rating dari AGBNielsen. Sekali lagi,
AGBNielsen hanya memotret kebiasaan alami menonton pemirsa di 10 kota
besar. Analisa terhadap data ini memang harus disikapi secara cerdas,
tidak semata-mata ditelan mentah-mentah, karena data-data yang
dihasilkan dari survei ini akan memberikan gambaran yang berbeda-beda
antara target pemirsa yang satu dengan yang lain. Program-program yang
ditonton oleh anak-anak tentunya berbeda dengan program-program yang
ditonton oleh orang dewasa, sehingga untuk program yang sama, ratingnya
akan berbeda berdasarkan target pemirsa yang dianalisa. Besar kecilnya
rating juga sangat relatif karena tergantung pada potensi pemirsa yang
tersedia pada jam tayang program tertentu. Misalnya, rating 3,7 di sore
hari mungkin sudah termasuk tinggi, tapi untuk malam hari, rating
tertinggi bisa mencapai 9,0 atau bahkan lebih.
 
Steven Sterk:
Yang Kelima sebagai imbalan ( honor ), responden rating hanya mendapat
souvernir senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,- saja per bulannya. Sehingga
responden cenderung ogah- ogahan untuk menjaga integritasnya.
 
AGBNielsen:
Apresiasi atas partisipasi rumahtangga sebagai responden AGBNielsen
diberikan dalam bentuk poin setiap bulannya. Panel dapat memilih hadiah
- yang berupa perabot rumahtangga, seperti timbangan, setrika, tea set,
dinner set, kompor, blender, dsb - dari katalog AGBNielsen berdasarkan
poin yang dikumpulkan. Semakin lama waktu kerjasama, semakin besar poin
yang bisa dikumpulkan. Nilai nominal hadiah yang diberikan tergantung
pada jumlah poin tersebut. 
 
Masing-masing panel diberikan edukasi untuk menekan tombol riset ketika
menonton TV (tombol khusus diberikan untuk masing-masing anggota rumah
tangga, misalnya tombol 1 untuk ayah, 2 untuk ibu, dsb).
Ketidakdisiplinan mereka dalam menekan tombol akan terpantau oleh tim
manajemen panel, baik dalam bentuk 'uncovered viewing' (jeda waktu
antara TV menyala dengan penekanan tombol riset) maupun 'lazy viewing'
(TV menyala terus tanpa ada yg menekan tombol riset). Kami memberikan
batasan terhadap banyaknya kepemirsaan uncovered viewing dan lazy
viewing, di mana ketika levelnya di suatu rumah tangga panel melebihi
tingkat toleransi, data kepemirsaannya tidak akan diproduksi lebih
lanjut. Untuk mencegah hal ini terjadi berlarut-larut, tim lapangan
bertugas melakukan edukasi terhadap panel. Jika re-edukasi tidak
berhasil mendisiplinkan panel, maka panel tersebut akan diganti oleh
panel lain dengan kriteria yang sama.
 
Steven Sterk:
Yang Keenam Idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang menjadi
responden televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau maksimal
selama 1 tahun. Setelah itu AC Nielsen harus mencari responden baru.
Secara statistik hal itu perlu dilakukan demi menjaga obyektifitas data.
Agar secara psikologis , mood responden tidak mempengaruhi data
selanjutnya. Namun pada kenyataannya, seorang responden kebanyakan bisa
menjadi responden selama 7 TAHUN LEBIH. Untuk hal ini adalah murni
dikarenakan kemalasan dari manajemen AC Nielsen untuk melakukan
pemeriksaan ke lapangan.
 
AGBNielsen:
Lamanya sebuah rumahtangga menjadi panel adalah maksimal 2 tahun, namun
penggantian panel tidak dilakukan secara serentak. Berhentinya suatu
rumahtangga sebagai panel secara normal adalah 20-25% dari rumahtangga
yang terpasang alat setiap tahunnya. Tidak ada penggantian yang
dipaksakan dalam keadaan normal. 
 
Penggantian panel diakibatkan beberapa alasan. Penggantian panel bisa
terjadi secara alami karena penolakan panel rumahtangga untuk meneruskan
kerjasama, panel tidak memperbolehkan semua TV-nya dipasangi alat,
perubahan pada kondisi/keadaan anggota rumah tangga, pindah
rumah/renovasi, dsb.  Namun penggantian panel juga bisa terjadi secara
paksa jika panel menolak mengikuti aturan, tidak kooperatif, tidak
disiplin dalam menekan tombol handset, perangkat TV-nya rusak, dsb.
Perubahan panel ini bisa terjadi sekitar 4% setiap bulan. 
Selain itu, penggantian panel juga mungkin terjadi untuk menjaga
komposisi panel balance yang disesuaikan dengan komposisi populasi TV
hasil Establishment Survey terbaru.
 
Steven Sterk:
Yang Ketujuh para responden rating AC Nielsen sama sekali tidak
mempunyai integritas. Dengan demikian , beberapa oknum televisi beserta
oknum AC Nielsen dapat memberikan "pesanan" kepada ratusan
responden sekaligus agar "memanteng " program televisi tertentu,
agar hitungan rating program tersebut menjadi tinggi. Biasanya jumlah
yang diajak adalah sekitar 100 s/d 700 orang dari total 3,500 responden.
dengan 700 orang berarti program tersebut diharapkan sudah memegang
rating 1/5 dari total rating. Biasanya tiap satu kali
"memanteng" ( demikian sebutannya ) tiap responden meminta
bayaran Rp 100,000,-. Sehingga dengan 700 orang x Rp 100,000,-, oknum
pihak televisi tersebut hanya mengeluarkan uang Rp 70,000,000 saja per
satu kali "manteng". Dengan begitu angka rating dapat
dimanipulasi dengan mengeluarkan biaya yang relatif murah sebenarnya
bagi para stasiun televisi.
 
AGBNielsen:
AGBNielsen adalah perusahaan independen yang beroperasi di lebih dari 30
negara, di mana survei ini merupakan bisnis kepercayaan. Melakukan
pengukuran kepemirsaan TV berdasarkan pesanan pihak tertentu berisiko
tinggi yang bisa berdampak pada kredibilitas AGBNielsen, termasuk di
negara-negara lain. Hubungan tertutup dengan kelompok kepentingan
tertentu akan menimbulkan prasangka atas data yang dihasilkan, yang pada
akhirnya akan mencegah penerimaannya sebagai mata uang. 
 
Di lain sisi, survei ini juga menekankan azas confidentiality
(kerahasiaan) atas para responden, di mana responden diminta untuk
merahasiakan statusnya sebagai responden dengan menandatangani
perjanjian kerahasiaan. Hal ini merupakan standar yang berlaku global
untuk menghindari campur tangan industri terhadap responden, yang pada
akhirnya berkemungkinan besar mempengaruhi kemurnian data kepemirsaan
TV.
 
 
Klarifikasi ini perlu kami sampaikan untuk meluruskan kesalahpahaman
yang berlarut-larut mengenai analisa rating. Mudah-mudahan informasi ini
bisa membuka mata berbagai pihak mengenai Survei Kepemirsaan TV yang
dijalankan oleh AGBNielsen; dan tentunya menjadi lebih bijaksana dalam
menanggapi informasi-informasi yang menyesatkan. Mohon informasi ini
juga disebarluaskan pada teman, saudara, keluarga ataupun rekan kerja
yang
terlibat atau tertarik dengan penggunaan hasil Survei Kepemirsaan TV di
dalam industri pertelevisian dan periklanan agar tidak lagi terjadi
salah paham terhadap survei ini. Kami yakin rekan-rekan milis cukup
cerdas dan dewasa dalam menyikapi dan menyaring informasi yang beredar.
 
 
 
Salam,
 
Andini Wijendaru
AGB Nielsen Media Research
 
 
 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke